
Arkha duduk di kursi teras balkon sambil melihat proses pemakaman istri pertamanya. Terdengar suara ponselnya berbunyi dari balik celana kerjanya.
"Ya mam?" tanya nya. setelah menerima panggilan dari mami Alea.
"Arka ada apa dengan Marisa hah,? kenapa kau diam saja tidak memberi tahu mami kalau Marisa meninggal, mami kecewa dengan mu, kenapa mami harus taunya dari bik sum " ucapnya dari balik telpon.
"Maaf mam, semua serba dadakan tadi pagi kami semua masih sarapan bersama dan tidak ada yang aneh dengan Marisa, tapi sekarang dia sudah meninggal" ucapnya santai.
"Kenapa kau bisa sesantai itu hah," bentak nya. "Apa yang sebenernya terjadi dengan menantu mami ?" tanya nya lagi.
"Dia operdosis obat mam, di juga tengah mengandung 2 bulan tapi itu bukan anak Arkha" ucapnya masih dengan santai dia menjelaskan pada mami Alea.
"Maksud kamu apa? Marisa selingkuh dan hamil begitu? tanya nya.
" Ya seperti yang Erika lakukan dulu, cuman bedanya Marisa dia tau diri, mami tau sendiri kan Arkha sangat benci dengan yang namanya perselingkuhan apapun itu alasannya" ucapnya terlihat kilatan amarah di balik tatapan matanya yang tajam.
"Ya mami paham, apa jenazahnya sudah di kuburkan? apa keluarga nya sudah di beri tahu?" mami Alea memberikan pertanyaan secara beruntun.
"Jenazah nya sekarang lagi di makamkan, dan Arkha sudah memberi tahu keluarga nya, mereka bilang ya sudah di makamkan di sini saja"
"Hmmm, baiklah kalau begitu maaf mami gak bisa ke sana mami lagi temenin papi kerja di Spanyol dan akan pulang bulan depan, jaga baik baik Rania juga Irni, jangan sampai ada masalah yang sama dengan yang sudah sudah " pesan nya.
"Ya mam, " telpon pun di matikan, Arkha tidak akan memberitahukan apa yang terjadi dengan Irni, bisa bisa mami nya akan marah besar dengannya juga Irni karena gak bisa menjaga calon cucu dalam keluarganya.
Sebenarnya ada sedikit kejanggalan dalam masalah yang menimpa istri muda nya, pasalnya Arkha begitu menjaga asupan yang masuk kedalam tubuh istri nya, gak mungkin jika Irni susah buang air besar kemudian nekad minum obat pencahar dengan dosis yang tinggi, kemungkinan ada yang jahil dengan makanannya.
Tok
Tok
Tok
"Ya masuk" seorang pengawal masuk kedalam kamar Arkha dia satu satunya pengawal yang memiliki akses bebas masuk kedalam lantai pribadinya.
"Ada apa?" tanya nya.
__ADS_1
" Proses pemakaman nyonya Marisa sudah selesai tuan, dan ini ponsel nya nyonya Marisa juga beberapa barang berharga yang ada di dalam rumah nya sudah saya kumpulkan di sini " Arkha menatap beberapa barang yang bawa oleh pengawal kepercayaan di rumah ini. namun pandangan nya terpokus pada ponsel Marisa.
Di ambilnya ponsel itu lalu menyalakan nya, Arkha melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dan beberapa chat yang belum sempat Marisa buka, bibir nya tersungging saat melihat deretan telpon tak terjawab juga chat dari pria itu.
Di baca nya satu persatu chat yang di tujukan untuk Marisa nama perngirim itu bernama Dimas, "Siapa Dimas? gumamnya. gak mungkin Marisa selingkuh dengan orang luar karena akses untuk keluar masuk rumah ini begitu ketat, sudah pasti ada orang dalam yang main main dengan istrinya itu pikirnya.
" Gi apa ada orang yang beranama Dimas dalam rumah ini?" tanya nya. Egi mengangguk.
"Sepertinya ada tuan, dia pengawal yang di tugaskan menjaga gerbang masuk di depan" ucapnya. Arkha mengangguk.
"Panggilkan dia ke sini.!" titahnya. Egi langsung mengeluarkan ponselnya lalu menelpon teman nya yang bertugas dengan Dimas menjaga gerbang utama.
"Tuan, Dimas tidak ada di rumah, para pengawal terakhir melihat Dimas tadi pagi" Arkha tersenyum mengerikan.
"Berarti orang itu sudah pergi karena takut akan aku membunuhnya, biarkan saja dia pergi aku lagi berbaik hati sekarang tapi masukan namanya ke daftar hitam agar tidak ada yang bisa menerima nya kerja di manapun "
"Baik tuan"
______
"Sabar dong, sudah kangen yah" goda kak Rania membuat ku tersipu malu.
Tok
Tok
Tok
Seorang dokter masuk dengan di ikuti seorang perawat wanita di belakang nya.
"Selamat sore nyonya Irni" sapanya terseyum ramah.
"Sore dokter, "
" Biar saya periksa dulu yah, apa ada keluhan dari perutnya?" tanya dokter Haris, kulihat di name tag nya tertera nama Haris.
__ADS_1
"Masih keram dokter " ucapku, memang perutku masih terasa kurang nyaman terasa begitu keram di bagian perut bawah.
" Itu normal nanti juga hilang keram nya, jangan lupa makan dan minum obat jangan sampai terlambat harus tepat waktu supaya lebih cepat pulih," Aku mengangguk mengerti.
"Terima kasih dokter"
"Sama sama, kalau begitu saya pamit dulu nyonya sampai ketemu lagi besok" kulihat dokter itupun keluar dari dalam ruang perawatan, kak Rania berjalan mendekat ke arahku setelah dokter tak ada.
" Dokter nya tampan ya Ir "ucapnya sambil cengengesan.
" Kakak suka sama dokter Haris?" tanyaku. membuatnya salah tingkah.
"Jika boleh, " ucapnya malu malu, aku hanya geleng geleng kepala melihat tingkah kakak maduku itu.
Ceklek
Kulihat pintu terbuka muncul mas Arkha dari balik pintu dan berjalan ke arahku juga kak Rania.
"Sudah siuman? bagaimana apa sudah lebih baik? masih ada yang sakit?" Tanya nya beruntun. Aku menggeleng pelan, meski perut masih terasa keram tapi aku gak boleh bilang sama mas Arkha yang ada akan jadi masalah besar, sementara dokter saja bilang rasa keram ini hanya sementara nanti juga bakal hilang sendiri.
"Bagaimana keadaan di rumah apa sudah selesai? Tanyaku membuat mas Arkha seperti orang terkejut, mungkin dia kaget kenapa aku bisa tau masalah di rumah.
"Semua sudah selesai," ucapnya cuek. bisa bisa nya dia kehilangan istrinya tapi cuek begitu, setidaknya adalah rasa sedih meski hanya sedikit.
"Apa mas gak merasa sedih atau kehilangan sosok kak Marisa,?" tanyaku penasaran dengan reaksinya, ternyata memang wajahnya datar saja.
"Untuk apa aku sedih dan menangisi kematian istri tukang selingkuh, Dia mati juga karena kesalahan nya sendiri. aku pernah cerita bukan jika aku sangat tidak suka di selingkuhi apapun alasannya " ucapnya membuatku langsung terdiam.
"Mas, kamu kan sudah ada di sini bolehkan aku pulang, aku mau ganti baju besok pas kamu kerja biar aku saja yang bantu jaga Irni" Ucap kak Rania. kulihat kak Rania berjalan semakin mendekat.
"Pulang lah, biar aku yang jaga Irni malam ini" kak Rania tersenyum lepas, bahagia sudah pasti meski hanya bolak balik kerumah sakit itu sudah rezeki untuk orang yang selalu di kurung supaya bisa cuci mata juga menghirup udara kebebasan.
"Di bawah ada sopir, nanti kau akan di antar sopir di bawah"
"Makasih mas, Ir kakak pulang dulu yah, cepet sehat biar bisa cepet pulang ke rumah " ucapnya sambil mengacak pelan rambutku. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan nya.
__ADS_1