
Beberapa hari telah berlalu, mas Arkha masih saja suka keluar untuk menemui seseorang, ingin sekali aku Membuntuti nya tapi bagaimana caranya.
Besok adalah sidang pertama papa, mas Arkha sudah berjanji akan mengantarku untuk menghadiri acara itu aku ingin memberi dukungan secara langsung pada papa smoga saja mas Arkha bisa menepati janjinya.
" Hei kakak ipar, kenapa melamun? aku terjingkat kaget saat Erkhan menyentuh bahuku.
"Kau ini, bisa tidak jangan mengagetkanku" ucapku.
"Maaf aku gak bermaksud, aku lihat dari tadi kakak hanya bengong kenapa?" tanya nya sambil menatapku, sampai membuatku salah tingkah.
"Gak apa, oh iya sama siapa kesini apa sama mami?" tanyaku sambil mencari sosok mami alea.
"Tidak, mami baru pulang besok baru ke sini, "
"lalu kau ngapain kesini,?
" Aku mau memberikan ini untuk kakak, yang ini aku titip untuk kak Rania, aku membelikan kalian oleh oleh ini langsung dari Swis," Aku menatap isi paper bag yang di berikan Erkhan padaku. isinya ada 3 kotak 2 berwarna pink, yang satu berwarna merah entah apa isinya.
"Makasih ya,"
"Sama sama" ucapnya sambil tersenyum.
"Btw, kalau mau ketemu mas Arkha dia lagi gak ada di rumah" Ucapku.
"Aku kesini hanya mau mengantarkan ini untukmu, bukan untuk menemui beruang kutub itu" Aku terkikik geli mendengar Erkhan memanggil kakaknya dengan sebutan beruang kutub.
"Erkhan, apa dulu kakakmu sedingin itu? tanyaku.
" Enggak, dulu kakak gak sedingin itu memang jarang bicara panjang lebar, tapi dia sosok Penyayang, murah senyum sifatnya berubah 80 derajat saat sudah di khianati oleh Helena"
"Siapa Helena?" tanyaku penasaran.
"Dia mantan kekasih kak Arkha. sudahlah jangan kau korek informasi tentang si Helena" Aku mendesah kecewa padahal aku sedikit kepo dengan masa lalu mas Arkha dengan kekasihnya dulu.
"Aku pulang dulu, bye kakak ipar " Erkhan melenggang pergi meninggalkan ku yang menatap punggung nya sampai menghilang dari pandangan ku.
Setelah Erkhan tak terlihat lagi, aku segera bangkit dan berjalan menuju rumah kak Rania.
Tok
Tok
Tok
"Kak, apa kakak di dalam?" Tak lama kemudian pintu pun terbuka, pelayan pribadi kak Rania yang membuka nya dia tersenyum ramah lalu mempersilahkan aku untuk masuk.
__ADS_1
"Nyonya sedang mandi, sebentar lagi selesai. Nyonya Irni mau minum apa? Tanya nya ramah.
" Emm, jus seger kayanya " Ucapku, pelayan kak Rania pun langsung pamit ke dapur untuk membuat kan minuman.
Kulihat sekeliling rumah kak Rania begitu nyaman, lukisan terpajang rapi di dinding rumah nya. Dia begitu pandai melukis lukisan nya semua begitu indah.
"Hai, ada kamu ternyata Ir, tumben main?" Ucapnya sambil tersenyum.
"Ini, tadi Erkhan datang memberikan ini untukku juga kakak," Aku menyodorkan paperbag berwarna coklat itu pada kak Rania.
"Erkhan kesini? Sama siapa?" Tanya nya kaget.
"Sendiri kak, katanya khusus mau nganterin ini" Kak Rania mengangguk.
"Aku merasakan ada yang aneh dengan Erkhan saat dia melihatmu Ir" Ucapnya membuatku langsung menatap kak Rania.
"Maksud kakak apa?" Tanyaku tak mengerti.
"Entahlah, aku melihat dia menaruh perasaan nya terhadap mu, aku bisa melihatnya dari sorot mata Erkhan saat melihatmu, tapi smoga ini tidak benar" ucapnya membuat ku sedikit terkejut.
"Permisi nyonya, ini minumnya" pelayan kak Rania menyuguhkan jus buah yang ku minta.
"Terima kasih" ucapku.
"Iya nyonya," pelayan kak Rania pun kembali ke belakang.
"kakak udah lama hoby melukis?" tanyaku.
"Sudah dari kecil, dulu waktu ibu sama ayah masih ada mereka yang mengajari aku sampai aku pandai melukis seperti sekarang" ucapnya.
"Orang tua kakak meninggal kenapa?" kak Rania tersenyum.
"Sebenernya orang yang merawatku itu bukan orang tua asli, mereka orang tua angkat aku yang memungutku dari dekat tong sampah waktu bayi, aku gak tau siapa orang tua asliku, "ucapnya membuatku iba, ternyata kisah hidup kak Rania lebih tragis dari kisah hidupku.
" Ayah, sama ibu meninggal kecelakaan tertabrak mobil saat pulang dari pasar," Kulihat ada sedikit embun di mata kak Rania, namun dia berhasil menutupinya lagi dengan senyuman nya.
"Sudahlah jangan membahas masalah hidupku, itu terlalu rumit " Ucapnya sambil terkekeh.
"Apa kakak ada niat akan mencari orang tua kandung kakak nanti setelah bebas dari sini?" Kak Rania menatap ku sambil tersenyum.
"Kurasa tidak, aku mau pokus dengan karir ku saja. Aku sudah tidak tertarik untuk mencari tau tentang asal usulku Ir." Aku pun mengangguk saja tak mau membahas lebih jauh tentang kak Rania sebenarnya agak penasaran dengan kepribadian kak Rania yang cukup tertutup, tapi aku juga tak ingin membuatnya merasa tak nyaman.
Tak lama kemudian Astri pelayan pribadi kak Rania datang dengan membawa puding buah di atas nampan.
"Makasih ya tri," Ucap kak Rania. Dia memotong motong puding yang terlihat begitu segar dengan tampilan buah di dalam nya.
__ADS_1
"Selain melukis kakak juga pandai membuat puding? Tanyaku, kak Rania mengangguk sambil tersenyum ah dia selalu saja tersenyum membuat ku menjadi diabetes melihat senyuman manis nya, tapi kenapa mas Arkha sama sekali tak pernah tertarik dengan kak Rania.
" Selain ini, kakak bisa membuat apa lagi?" Tanyaku penasaran.
"Emmm, apa ya? Banyak sih bisa bikin kue kering, bolu, roti dan masakan yang lain nya " Aku menatap kak Rania tak percaya.
"Apa kakak bisa membuat semua itu?" Tanyaku. Kak Rania mengangguk lagi , dia menyodorkan sepiring kecil puding buah yang sudah di siram fla di atasnya terlihat begitu menggoda.
"Makanlah, jangan hanya di tatap " Ucapnya sambil terkekeh geli.
Aku mengambil puding itu lalu memakan nya dan rasanya memang sangat enak membuatku ketagihan pengen lagi dan lagi, ternyata kak Rania begitu pandai membuat puding, aku jadi insecure untuk kesekian kalinya aku bahkan tak pandai masak, juga tak pandai berhias apa yang mas Arkha lihat dari ku apa karena dia kasihan.
"Hei, ko malah melamun, apa enggak enak puding nya? Tanya kak Rania, aku langsung menggeleng cepat.
" Enak kak ini enak banget, aku lagi menikmatinya kak belum pernah aku makan puding seenak ini " Ucapku. Memang benar aku belum pernah merasakan puding seenak buatan kak Rania.
"Kamu bisa saja, nanti aku buatkan tiap hari kalau kamu suka" Aku mengangguk antusias.
"Nanti ajari aku ya kak, aku gak bisa buat puding, apalagi masak makanan yang lain" Ucapku sambil menunduk malu.
"Nanti aku ajari, sampai kau pandai masak"
"Apa kakak pernah membuatkan makanan untuk mas Arkha?" Tanyaku.
"Emm, belum pernah aku takut nanti mas Arkha menolaknya seperti dia menolak pemberian marisa"
"Tapi kakak belum mencobanya, coba dulu biar tau " Ucapku.
"Nanti ku coba, oh iya Ir bagaimana menurut mu jika nanti aku buat usaha saja gak usah bekerja di orang lain?" aku mengangguk setuju.
"Aku setuju kak, sebaiknya memang kakak buat usaha kakak kan serba bisa, nanti tinggal kakak pilih mau buat usaha apa "
"Baru hayalan aja sih, aku belum tau nanti mas Arkha jadi membebaskan ku atau tidak, pikiran dan hati seseorang itu sangat mudah berubah"
"Ayo tambah lagi masih mau kan?" Aku tersenyum lalu mengambil lagi puding buatan kak Rania, aku tak munafik memang rasanya begitu enak.
Tak terasa waktu ku habiskan di rumah kak Rania hampir 3 jam, kulihat waktu sudah menujukan pukul 4 sore, akupun memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Kak sudah sore aku pulang dulu"
"Iya, lain kali mainlah kesini lagi kita belajar bikin puding"
"Siap kak" Aku keluar dari rumah Rania dan berjalan menuju rumah ku sendiri yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah kak Rania.
"Nyonya anda dari mana saja, saya mencari anda barusan?"
__ADS_1