Gadis Pemuas Nafsu

Gadis Pemuas Nafsu
GPN 21


__ADS_3

Aku mengeliat meregangkan otot otot tubuhku yang terasa kaku setelah tadi ikut tidur kembali dengan mas Arkha, kucari suamiku itu tak ada di atas ranjang, kuedarkan pandangan ke sekeliling kamar mencari sosok mas Arkha namun tak kujumpai dia, perlahan aku bangun terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Ternyata dia lagi mandi " gumamku, kulihat waktu sudah pukul sepuluh akupun segera bangkit dari ranjang dan berjalan menuju teras balkon untuk menikmati angin yang bertiup halus menerpa kulitku yang terbuka.


Cuaca begitu cerah hari ini, pandanganku menangkap sesuatu yang begitu menyayat hati, kulihat kuburan kak Marisa yang masih terlihat merah ada beberapa bunga di atasnya. "Aku nanti harus ke sana,! " gumamku.


"Sedang apa di sini?" tanyanya, aku membalikan badan melihat mas Arkha yang sudah berdiri di hadapanku, aku susah payah menelan saliva saat melihat mas Arkha hanya memakai handuk putih untuk menutupi bagian intinya saja, sementara perut kotak kotak juga dada bidang nya terekspos dengan sempurna wajahnya tampan tambah menawan saat tetesan demi tetesan air dari rambut membasahi wajahnya.


"Hei ko malah bengong, ngapain disini? enggak mandi?" mas Arkha mengibaskan tangan nya di depan wajahku sontak saja wajahku memanas, sudah pasti sekarang wajahku merona merah karena malu.


"Aku mandi dulu mas" pamit ku sambil menunduk, sungguh aku gak berani memperlihatkan wajahku pada mas Arkha saat ini.


Aku segera masuk kedalam kamar mandi dan memegang dadaku yang terasa berdebar debar.


"Ya Tuhan" gumamku.


______


"Kak Rania, kakak sedang apa di sini?" tanyaku saat bertemu kak Rania di kursi taman dekat kolam ikan di sini dulu kami pertama kalinya mengobrol.


"Sedang menikmati indahnya pemandangan rumah " ucapnya terkekeh pelan. "Bosan yah, hari hari hanya seperti ini"


"Yang sabar ya kak, smoga nanti hati suami kita tergerak untuk membebaskan kakak, sedangkan aku gak tau nasib ku kedepannya seperti apa" ucapku sambil menerawang jauh, kehidupan itu bagaikan roda yang akan terus berputar.


"Kenapa kau bicara seperti itu? aku selalu doakan yang terbaik untukmu jangan berfikir negatif, sudah pasti kau akan bahagia percaya dengan ku" ucapnya begitu percaya diri.


" Kak Rania sudah berkunjung ke makam kak Marisa?" tanyaku. kak Rania mengangguk.


"Aku sudah berkunjung tadi pagi, kau mau ke sana ayok aku antar" ajaknya. aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Nanti saja aku kesananya kak" ucapku, aku masih kepikiran sampai sekarang siapa selingkuhan kak Marisa.


"Kenapa melamun, mikirin takut mas Arkha minta jatah ya" ucapnya meledek. membuat ku tersipu malu.


"Kak Rania ih, jangan kenceng kenceng ngomong nya nanti ada yang denger gimana, aku bukan mikirin itu tau" ucapku.


"Terus mikirin apa dong? " tanya nya penasaran. aku gak mungkin bilang dengan kak Rania jika aku sangat penasaran dengan selingkuhan kak Marisa.


"Kak andai kata nanti kakak bebas dari sini apa yang akan kakak lakukan terlebih dulu di luar sana?" kulihat kak Rania yang juga menatap kearah ku.


"Hal pertama yang akan aku lakukan adalah cari pekerjaan, karena setelah keluar dari sini hidupku tidak ada lagi yang membiayai" ucapnya sambil tersenyum, sepertinya kak Rania tengah membayangkan sesuatu.


" Nanti kalau kakak keluar dari sini, aku sama siapa? hanya sama kakak aku nyaman mengobrol begini, apa kita nanti bisa bertemu lagi?" tanyaku dengan wajah sendu.


" Hei kenapa lah sedih sedih begitu, aku akan selalu ada buatmu, meski kita tidak tinggal satu rumah lagi, lagian aku belum tentu bisa bebas dari sini " ucapnya. aku menatap kak Rania lalu merangkul nya.


"Makasih banyak ya kak, "


"Baiklah, aku pamit ya banyak banyak istirahat biar cepet sehat bye " aku melambaikan tangan saat kak Rania mulai menjauh dari tempat kami duduk barusan.


Bosan duduk sendiri di kursi taman akupun melangkahkan kakiku ke makam kak Marisa, ku usap nisan bertuliskan nama Marisa itu.


"Aku datang kak, maaf baru bisa menemuimu, aku minta maaf ya kak jika sewaktu kakak hidup kita pernah bermasalah, aku memang tak pernah dekat dengan kakak, kita sangat jarang berinteraksi tapi jujur aku sekarang sangat kehilangan kakak " setetes air bening jatuh dari mataku, entah kenapa aku yang dulunya begitu sulit mengeluarkan air mata sekarang malah jadi orang yang cengeng.


"Aku pamit ya kak,smoga kakak tenang di alam sana " Aku segera melangkahkan kakiku menjauh dari makan kak Marisa, dan kembali ke rumah ku rumah yang sudah seminggu ini kutinggal kan.


"Apa Ella belum sehat, aku belum bertemu dengannya" gumam ku.


"Nyonya " Saat aku hendak memasukan kunci terdengar suara yang sangat aku kenal memanggilku. aku segera berbalik dan benar saja Ella berdiri di sana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ella, kemana saja aku kangen " ucapku sambil memeluk tubuh kecilnya.


"Saya ada di rumah khusus pelayan sedang tak enak badan, maaf saya tidak ada menyambut saat anda baru pulang dari rumah sakit" ucapnya.


"Gak apa, aku gak permasalahkan itu ayo kita masuk sekarang, " ajakku.


Setelah sampai di dalam kamipun duduk di sofa. "Apa anda mau minum nyonya biar saya ambilkan? " tawarnya.


"Boleh El, aku juga sedang haus" Ella bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur, kulihat ada yang aneh dengan cara jalan Ella seperti orang pincang.


Tak lama kemudian Ella kembali dengan membawa satu gelas jus buah di tangan nya, dia menyodorkan jus buah itu padaku. kulihat tangan nya ada banyak bekas memar keunguan dengan bentuk memanjang.


"El, kenapa tangan mu? tanyaku khawatir.


" Ini tidak apa nyonya" ucapnya berusaha menyembunyikan tangannya. Kutarik perlahan kedua tangannya dan melihat luka yang begitu banyak di tangan nya.


"Ini kenapa Ella cepat bilang padaku ini kenapa?" tanyaku lagi.


"Ini konsekuensi yang harus saya Terima jika tidak benar bekerjanya nyonya.! ucapnya sambil meringis.


" Maksud kamu apa?" tanyaku tak mengerti.


"Saya sudah lalai dalam menjaga anda, sampai anda kehilangan calon penerus keluarga ini, jadi ini hukuman yang pas untuk saya nyonya" aku membelalak kaget mendengar ucapan Ella, apa mas Arkha yang melakukan ini.


"Ella, apa mas Arkha yang melakukan ini? jawab El?" tanyaku.


"Iya nyonya, di rumah ini setiap yang buat kesalahan akan di hukum cambuk, oleh tuan Arkha sendiri" ucapnya sambil menunduk. air mataku kembali keluar mendengar ucapan Ella.


"Maafkan aku El, ini bukan salahmu tapi kamu yang menanggung nya, maafkan aku El" aku memeluk tubuh Ella yang juga bergetar karena menangis.

__ADS_1


"Nyonya, sakit yang saya rasakan tak bisa di bandingkan dengan sakitnya anda saat akan kehilangan anak anda, ini semua tidak ada apa apanya" ucapnya membuatku semakin banyak mengeluarkan air mata. aku megeratkan pelukanku sampai kemudian bunyi ponselku membuatku terpaksa harus mengurai pelukan kami.


__ADS_2