Gadis Pemuas Nafsu

Gadis Pemuas Nafsu
GPN 27


__ADS_3

"Nyonya, anda dari mana saja? saya mencari anda barusan." Ella sudah berdiri di dekat pintu saat aku baru sampai di rumah.


"Aku tadi abis dari rumah kak Rania, ada apa El? Tanyaku.


" Tuan meminta anda datang kerumah utama tapi sebaiknya anda mandi dulu nyonya " Aku mengangguk mengerti.


"Baiklah, aku akan mandi dulu tolong siapkan pakaian ku ya El"


"Baik nyonya" Aku meletakan paperbag yang di berikan oleh Erkhan tadi di dalam lemari, lalu segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh ku.


Selesai mandi juga memakai pakaian Ella membantu ku memakai sedikit riasan di wajah.


"Sepertinya aku harus belajar make up ya El, gak mungkin aku ngandelin kamu terus " ucapku sambil menatap bayangan wajahku di cermin.


"Ini memang tugas saya nyonya, tapi kalau anda mau belajar sendiri juga boleh nanti saya ajarin" ucapnya. aku mengangguk antusias. aku memang ingin serba bisa seperti kak rania, ingin bisa make up sendiri juga pandai memasak aku ingin jadi istri yang berguna untuk mas Arkha.


"Sudah selesai, sebaiknya anda segera ke rumah utama nyonya, jangan biarkan tuan Arkha menunggu lama"


"Iya El, emang tadi mas Arkha datang jam berapa? tanyaku.


" Belum lama," Aku pun bergegas bangkit dan berjalan keluar dari rumah. kulihat kak Rania juga sudah berjalan menuju rumah utama apa mungkin kak Rania juga di panggil tapi kenapa?


Aku masuk kedalam rumah utama, kulihat kak Rania sudah duduk di depan mas Arkha, di sana juga ada dua orang perempuan yang satu duduk di atas kursi roda yang satu lagi sepertinya dia seorang perawat berdiri di belakang wanita cantik itu.


" Irni sini duduk" ajak mas Arkha saat melihat aku masih berdiri mematung melihat mereka. aku segera berjalan dan duduk di samping kak Rania.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian, perkenalkan dia namanya Helen, dia akan tinggal di sini bersama kita, dan Helen akan menempati rumah bekas marisa" Kulihat wanita yang bernama Helen itu tersenyum, tapi senyuman bukan senyuman tulus seperti kak Rania.


"Perkenalkan namaku Helen, aku mantan kekasih Arkha dulu" Aku menatap mas Arkha dengan tatapan bertanya. apa apaan mas Arkha ini dia membawa mantan nya masuk ke rumah ini. apa dia juga akan menikahi mantan kekasih nya.


"Rania" ucapnya sambil tersenyum.


"Irnia" ucapku.


" Sekarang istirahat lah biar kau cepat pulih," Helen mengangguk lalu perawat itupun mendorong dengan perlahan kursi roda Helen keluar dari rumah utama.


"emm, mas aku pamit jika sudah gak ada lagi yang akan di bahas" mas Arkha mengangguk.

__ADS_1


"Aku juga pamit mas mau kembali ke rumah" ucapku tanpa mau melihat mas Arkha. saat aku sudah bangkit dan hendak pergi meninggalkan rumah mas Arkha dengan cepat menarik tangan ku.


"Ikut aku" ucapnya. sambil menarik pelan tangan ku.


Sampai di dalam kamar mas Arkha aku duduk di kursi teras balkon, sambil menatap makam kak Marisa.


"Mas, apa kamu berniat ingin menikah lagi setelah kak Marisa meninggal,? tanyaku.


Mas Arkha terkekeh lalu berjalan mendekati ku. kulihat mas Arkha sudah dengan pakaian santainya kaos oblong dengan celana pendek rumahan.


" Siapa yang mau menikah lagi?" tanya nya sambil menatap ku.


"Lalu untuk apa mas bawa Helen kerumah ini kalau bukan untuk di jadikan istri,?


"Dengar sini, ada yang ingin mas bicarakan dengan mu," ucapnya. Aku menatap mas Arkha.


"Mas minta maaf, karena selama ini belum bisa jujur denganmu, masalah Helen" ucapnya sambil menatapku.


"Selama ini mas pergi menemui Helen, bukan tanpa alasan dia sedang sakit keras dan usianya sudah tak lama lagi, jadi mas merasa iba "


"Apa mas yakin kalau Helen beneran sakit?" tanyaku.


"Apa mas akan menikahi Helen" ucapku sambil membuang muka, mataku mulai terasa panas.


"Hei, jangan menangis. mas gak akan menikahi dia, Helen hanya minta di temani saat usia nya sudah tak lama lagi karena dia sudah tak punya orang tua sekarang" Aku menatap mata mas Arkha mencari letak kebohongan di sana namun tak kutemukan.


"Aku gak tau harus bicara apa lagi, semua keputusan ada padamu mas," ucapku.


"Kamu tenang aja, mas gak akan berpaling dari kamu. sekarang kamu pemilik hati mas seutuhnya" Aku tersenyum samar.


"Mas, besok gak akan lupa kan?


" Ya enggak lah, besok siap siap jam 8 kita berangkat"


"Apa keburu mas, kita kan harus ke manado? tanyaku heran.


" Yang bilang papa di tahan di manado siapa, papa membunuh tuan willson itu di jakarta bukan di manado, dan papa di tahan di lapas jakarta juga" Aku melongo mendengar ucapan mas Arkha.

__ADS_1


"Ko bisa bisanya aku gak tau, malah mas yang lebih tau" ucapku.


"Tak usah aku cari tau semua nya aku akan tau" ucapnya bangga.


"iya karena mas punya banyak anak buah, tinggal suruh langsung semua info mas kantongi, beda dengan ku aku dikurung di sini ingin cari info pun susah banget" gerutuku.


"Kamu gak tau di luar sana sebahaya apa, jadi jangan pernah macam macam akan keluar dari rumah ini tanpa aku. Paham? tanyanya.


" Ya aku paham mas," ucapku.


Waktu sudah menujukan pukul 9 malam, aku bergegas kembali ke rumah ku sendiri,kondisi ku sudah baik tak ada alasan untuk aku terus tidur di kamar mas Arkha.


"Mau kemana?" tanya nya yang baru selesai mandi.


"Pulang lah mas, ngapain lagi di sini "


"Siapa yang izinkan kamu untuk pulang? tanya nya. aku mengerutkan kening mendengar pertanyaan mas Arkha.


" Memang aku harus izin dulu sama siapa?" tanyaku.


"Aku suami mu, harusnya kau sebagai istri izin dulu dengan suami dan aku tak akan mengizinkan kamu untuk keluar dari kamar ini" ucapnya. kuliahat seringaian di wajah mas Arkha.


"Mas kenapa tersenyum seperti itu? tanyaku heran.


" Kita sudah lama tidak melakukan olahraga, " ucapnya sambil terus berjalan mendekat ke arah ku. aku yang baru sadar dengan kata kata mas Arkha langsung membelalakan mata.


"Astaga" gumamku. mas Arkha meminta haknya lagi aku sampai lupa kalau sekarang sudah tak keluar darah lagi.


"Sudah gak keluar lagi kan?" tanya nya.


"Tapi mas kata dokter kan jangan dulu sebelum aku pulih betul, aku juga baru selesai 2 hari yang lalu" ucapku.


"Mas sudah gak sabar untuk membuat Arkha junior lagi," nafas mas Arkha membuat bulu bulu tubuhku berdiri.


"Mas, jangan sekarang ya " pintaku. jujur aku masih takut.


"Baiklah, mas gak akan minta itu sekarang, tapi temani mas tidur di sini aku janji gak akan melakukan apapun selain memelukmu" ucapnya. aku pun mengangguk lalu naik ke atas ranjang untuk segera istirahat.

__ADS_1


Sementara di luar sana terlihat sepasang mata yang tengah memperhatikan gerak gerik Arkha dengan Irni dari rumahnya.


__ADS_2