
Arkha mengemudikan sendiri mobilnya tanpa membawa sopir, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat Helen di rawat. tak butuh waktu lama Arkha tiba di rumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya Arkha keluar dari dalam mobil berjalan masuk kedalam rumah sakit yang terlihat sepi di malam hari.
Arkha menekan tombol lift setelah terbuka Arkha kembali menekan tombol angka 5 tempat di mana ada ruangan Helen di sana. Arkha membuka pintu ruangan itu dengan perlahan setelah pintu terbuka nampak Helen juga seorang yang tengah menjaga nya.
"Arkha" ucapnya lemah, Arkha berjalan menghampiri Helen yang terbaring lemah di atas bangsal rumah sakit.
" Aku sudah datang, sekarang makanlah, lalu minum obat apa kau ingin cepat mati dengan gak mau minum obat?" Helen tersenyum mendengar gerutuan Arkha.
"Apa itu artinya kau sudah memaafkan kesalahan ku sayang" ucapnya lembut sambil menatap Arkha.
"Jangan panggil sayang! ucapnya tegas. " Gatal telinga ku denger kau panggil sayang." ucapnya lagi.
"Arkha, aku minta maaf atas semua kesalahan ku dulu, kamu gak tau alasan aku yang sesungguhnya dulu ninggalin kamu saat pernikahan kita " ucapnya dengan raut wajah sedih.
"Makan, atau aku pulang sekarang?" ancamnya.
"Aku mau di suapin kamu" ucapnya manja.
"Makan sendiri, jangan manja.!
" Arkha pleaseee, usia ku hanya sebentar lagi " ucapnya, terlihat Helen meneteskan air matanya. tak mau berdebat Arkha mengambil mangkuk berisi bubur lalu menyuapi Helen dengan telaten, setelah bubur habis Arkha membantu Helen untuk minum obat.
"Terima kasih Arkha, kau masih peduli dengan ku. aku tau di lubuk hatimu yang paling dalam masih ada namaku kan?" Helen menatap Arkha sambil tersenyum manis.
"Rasa sakit yang kau berikan sudah menghapus namamu sejak dulu dari dalam hatiku Helen" ucapnya sambil menatap Helen dengan tatapan tajamnya.
"Arkha, aku dulu pergi meninggalkan mu karena aku baru tau kalau aku sakit keras, aku gak mau buat kau sedih karena tau penyakit ku makan nya dulu aku lebih memilih melukai mu," ucapnya sambil terisak. Arkha masih terdiam dengan lamunan nya sendiri, tak menyela ucapan Helen.
"Aku tau kesalahan ku dulu begitu fatal sampai membuat hatimu terluka begitu dalam, aku tau kesalahan ku dulu akan sangat sulit untuk kau maafkan. Tapi, bisakah kau beri aku kesempatan untuk dekat denganmu sebelum ajal menjemputku.?" Arkha menatap Helen yang juga menatap dirinya penuh harap.
"Akan aku pikirkan, aku tidak bisa memberikan mu harapan, kau tau aku sudah beristri bukan.?
" Aku tau Arkha, dan aku tahu kalau selama kau menikahi mereka hanya untuk menunjukan padaku kan kalau kau mampu menikahi banyak wanita, tapi kau tidak pernah menyentuh nya iyakan?" Arkha memalingkan wajahnya.
"Bukan urusan mu, itu privasiku!"
"Aku yakin kau masih punya sedikit cinta untukku kan? tanya nya.
__ADS_1
" Sudah tak ada cinta lagi untukmu Helen, cintaku padamu sudah kau bawa pergi saat kau memutuskan hubungan kita dulu" Tegas Arkha. Helen kembali terisak mendengar ucapan Arkha.
"Arkha, aku tak akan memintamu untuk mencintaiku seperti dulu lagi, aku hanya minta temani aku di sisa sisa usiaku." ucapnya.
"Sudahlah sekarang kau istirahat, tak usah bicara macam macam, lain kali jika ingin aku datang kesini jangan pernah mengancam akan bunuh diri, atau semacamnya jika kau ingin mati tak usah kau hubungi aku.!"
"Aku gak peduli dengan ucapan mu itu, aku sudah cukup senang kau mau datang kesini untuk menjengukku" ucapnya sambil tersenyum samar.
"Ya sudah, istirahat lah aku harus segera pulang, kerjaan ku banyak Helen aku juga butuh istirahat"
"Temani aku di sini malam ini saja, aku takut jika aku di sini sendiri" Arkha mendengus kesal. tapi dia bingung entah kenapa hatinya malah luluh saat mendapat ancaman dari Helen. Arkha sudah tak memiliki cinta untuk Helen tapi dia juga tak tega meninggalkan Helen yang tengah berjuang melawan penyakit nya.
"Aku tidak bisa Helen, maaf.! ucapnya.
" Arkha, pleaseee temani aku malam ini saja, " Helen menarik pelan tangan Arkha saat Arkha mau pergi dari sana.
Arkha menatap Helen yang sudah berderai air mata, Arkha pun mengangguk lalu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan perawatan Helen.
"Tidur lah, aku akan menunggumu di sini " Helen tersenyum senang lalu dia mulai memejamkan matanya.
Arkha merebahkan tubuhnya di atas sofa lalu mencoba memejamkan mata, saat mata terpejam bayangan Irni yang terlihat kecewa saat dia tinggalkan tadi datang menghantui pikiran nya.
_____
" Nyonya, kenapa anda belum tidur? ini sudah larut malam" ucapnya. ku lihat waktu sudah menujukan pukul 3 dinihari.
"Ella, menurut mu kemana mas Arkha pergi malam malam begini?"
"Saya tidak tau nyonya, mungkin tuan ada urusan penting di luar sana" Hatiku masih tak tenang, aku gelisah sepanjang malam bahkan sampai sekarang sudah jam 3 aku belum bisa memejamkan mataku.
"Ella, tidurlah di sini temani aku,!
" Saya di sini saja nyonya, anda tenang saja saya akan menemani anda" kulihat Ella menggelar kasur lipat di bawah ranjang ku.
"maaf aku menganggu waktu istirahat mu, bagaimana keadaan mu apa lukanya sudah sembuh?" tanyaku sambil menatap Ella yang sudah berbaring diatas kasur lipat.
"Sudah mendingan nyonya luka yang di punggung juga sudah kering" ucapnya.
__ADS_1
"Maafkan mas Arkha ya Ell, gak seharusnya mas Arkha berbuat seperti itu padamu, ini bukan kesalahanmu" ucapku.
"Tidak nyonya, ini juga kesalahan saya andai waktu saya tidak meninggalkan anda sendiri ke rumah utama mungkin anda tidak akan menunggu lama untuk dapat pertolongan, ini juga kesalahan saya nyonya,"
"Aku masih gak nyangka kalau mas Arkha bisa sekejam itu pada perempuan, aku pikir dia tak sekejam itu" ucapku.
"Semenjak di tinggal kekasihnya yang dulu, tuan Arkha memang berubah nyonya, jadi sosok yang keras, dingin, juga kaku, padahal kata nyonya Erika tuan Arkha dulunya tidak begitu dia sosok orang penyayang dan murah senyum tapi semua berubah semenjak dia disakiti oleh kekasihnya. tuan Arkha tidak bisa menerima kesalahan sedikitpun siapapun yang bekerja dengan nya harus bekerja dengan betul, jika kami salah ya seperti ini hukuman nya, gaji di sini memang besar nyonya lebih besar di banding dari tempat kerja yang lainnya, tapi di sini juga harus kuat pisik juga mental"
"Kenapa kalian begitu kuat tinggal di rumah ini? tanyaku.
" Karena kami butuh uang nyonya!" Aku menarik nafas perlahan mendengar ucapan Ella.
"Jujur aku masih bingung dan penasaran, siapa orang yang sudah menaburkan obat pencahar itu kedalam makanan ku, aku yakin pasti ada orang yang iseng dengan makanan ku karena aku gak minum obat pencahar itu" ucapku dengan pandangan menerawang.
"Saya tau siapa pelakunya nyonya salah satu pelayan ada yang melihat nya saat dia menaburkan serbuk itu pada sup yang bik sum buatkan untuk anda " Aku langsung bangun dan duduk di atas ranjang, menatap Ella dengan tatapan bertanya.
"Siapa dia Ell? tanyaku penasaran.
" Nyonya Marisa yang menaburkan serbuk itu nyonya" Aku terbebelalak kaget saat mendengar ucapan Ella. aku masih kurang percaya dengan ucapan Ella.
"Apa yang kau ucapkan itu benar Ell? tanyaku. Ella mengangguk pasti.
" Betul nyonya, besok saya akan bawa lasmi ke sini untuk menemui anda nyonya, lasmi lah yang melihat nyonya Marisa menaburkan sesuatu ke dalam sup khusus untuk anda waktu itu" aku masih tak percaya kak Marisa yang melakukan itu semua terhadapku.
"Aku gak pernah nyangka kalau kak Marisa bisa melakukan itu terhadap ku, " gumamku lirih.
"Apapun bisa saja dia lakukan nyonya, oh iya apa selama ini anda tidak pernah merasakan morning sickness?
" Aku gak pernah merasakan apapun El, makan nya saat kemarin dokter bilang aku keguguran karena obat itu aku langsung kaget karena aku gak merasakan apa apa." ucapku sedih.
"Sabar ya nyonya, nanti akan ada gantinya, lagian nyonya Marisa sudah dapat karma nya, niat hati mau bunuh jabang bayi malah dia juga ikut terbunuh," aku menatap Ella.
"Apa kau tau jika selama ini kak Marisa selingkuh Ell? tanyaku.
" Ya saya tau, dia selingkuh sama pengawal tuan Arkha yang bernama Dimas, tepat di hari kematian nyonya Marisa Dimas juga menghilang entah kemana." Aku tersenyum miris saat mendengar cerita dari Ella.
"Nyonya ini sudah subuh apa anda belum mau tidur?" tanya nya. kulihat jam sudah menujukan pukul 4 dinihari aku mulai merasakan kantuk.
__ADS_1
"Tidur lah Ell, aku juga sudah ngatuk, maaf aku mengajak mu begadang " ucapku tak enak hati.
"Gak apa nyonya ini adalah tugasku" aku merebahkan tubuhku, lalu menarik selimut sampai menutup leher kemudian mencoba memejamkan mata.