Gadis Pemuas Nafsu

Gadis Pemuas Nafsu
GPN 17


__ADS_3

Marisa menelan semua obat yang sudah dia racik sendiri setelah nya dia hanya terdiam sambil menunggu reaksi obat itu bekerja meluruhkan janin yang ada di dalam perutnya.


" Awhh " Desis nya sambil memegangi perutnya. Wajahnya semakin terlihat pucat, ternyata begitu cepat reaksi obat yang dia minum barusan.


" Aduh, ternyata sesakit ini rasanya " gumam nya lirih Marisa yang hanya sendiri di rumah karena dia menyuruh pelayan nya untuk pergi lebih dulu hanya bisa menahan rasa sakit nya sendirian. ponselnya terus saja menyala menandakan ada orang yang menelpon nya.


" Akhhhhhh, sa-kitttttt " Selain merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya, Marisa juga merasa seperti ada yang menghambat jalan pernafasan nya, ini di luar dugaan nya Marisa menarik nafas dengan susah payah dadanya semakin terasa sesak rasa sakitnya juga semakin menjadi, tangan nya yang sedari tadi memegang perutnya kini sudah beralih memegang dadanya yang terasa berat nafasnya semakin memendek, air mata penyesalan keluar dari mata indahnya. sebuah akhir dari kehidupan seorang Marisa begitu tragis niat hati hanya ingin membunuh anak nya saja, namun Tuhan malah mengambil keduanya Marisa telah menghembuskan nafas terakhir nya.


"Nyonya, apa anda di dalam?" Yuni membuka pintu kamar karena memang sudah terbiasa bolak balik masuk tak ada privasi di antara yuni juga Marisa, majikan nya itu selalu memperlakukan yuni dengan baik belum pernah sama sekali Marisa memarahi nya selama ini.


"Nyonya" Teriak Yuni histeris saat melihat tubuh majikan nya sudah tergeletak di atas kasur, kakinya penuh dengan darah sementara mulut nya mengeluarkan busa.


Mendengar teriakan dari dalam rumah majikan nya para pengawal yang kebetulan lewat di depan rumah Marisa pun segera berlari masuk kedalam rumah. "Ada apa yun? tanya salah satu pengawal.


" Nyonya" Yuni pun jatuh pingsan tak sanggup melihat kondisi majikan nya yang mati mengenaskan.


______


Arkha masih menemani Irni yang terbaring lemah tak berdaya, dia masih setia duduk di dekatnya, namun tatapan sedih nya tak dapat dia sembunyikan.


"Mas, ada telpon dari rumah " Rania menyodorkan ponselnya, Arkha segera mengambilnya tanpa bicara.


"Ya hallo" raut wajah Arkha langsung berubah sesaat setelah mendengar kabar yang di sampaikan bik sum, Arkha langsung bangkit dan mematikan ponselnya.


"Jaga Irni di sini aku harus segera kembali ke rumah" ucapnya. Arkha mengambil jas nya yang dia simpan di atas sofa. Rania memandang heran suaminya yang terlihat tergesa gesa.


"Ada apa mas, apa ada masalah?" tanya Rania penasaran.


"Marisa meninggal" ucapnya, setelah mencium kening Irni Arkha segera berjalan keluar dari dalam ruang perawatan istrinya. meninggalkan Rania yang masih mematung syok mendengar ucapan suaminya barusan.

__ADS_1


_____


Arkha menyuruh sopirnya untuk membawa mobil dengan kecepatan tinggi, dua kejadian mengerikan terjadi hari ini sampai di rumah nya Arkha segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah di lihatnya para pelayan juga beberapa pengawal sudah berkumpul di rumah Marisa.


" Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Arkha saat sudah sampai di rumah Marisa di sana sudah ada dokter juga perawat yang tengah mengurus jenazah Marisa.


" Kami Sudah menemukan nyonya tak bernyawa tuan kami tidak tau apa apa " ucap salah satu pengawal. Arkha langsung masuk kedalam rumah Di lihatnya Marisa yang sudah selesai di urus jenazah nya dan siap untuk di makam kan.


"Kenapa dengan istri saya dok?"


" Nyonya Marisa operdosis obat tuan, sepertinya nyonya sengaja meminum beberapa macam obat secara bersamaan dengan dosis yang dia takar sendiri, saya juga ada menemukan janin yang keluar perkiraan usia 2 bulan " Arkha nampak terkejut mendengar ucapan dokter, dia pun mengangguk mengerti Kasus yang serupa dengan Erika, bedanya Marisa tak perlu susah payah untuk Arkha singkir kan.


"Bagus lah dia tau diri, meninggal tanpa harus aku yang mengotori tangan ku sendiri, " Gumam nya. Arkha keluar dari dalam rumah Marisa membiarkan mereka saja yang merawat jenazah istri pertama nya, melihatnya saja Arkha sudah tak sudi apalagi membantu memakamkan istrinya itu.


_____


Aku membuka mataku untuk kedua kalinya aku berada di tempat yang seperti kemarin. kulihat kak Rania tengah melamun di sofa.


"Sudah siuman? mau apa mau minum?" tawarnya. aku mengangguk saja karena memang tenggorokan ku terasa begitu kering. kak Rania membantu menaikan kepala ranjang yang ku tiduri agar aku tak harus susah payah untuk bangun, lalu mengambilkan air putih juga sedotan kak Rania membantu ku dengan sabar.


"Terima kasih kak" ucapku, Kak Rania tersenyum namun wajahnya terlihat tak tenang.


"Gimana sudah enakan ?" tanya nya.


'


"Sudah kak, aku tadi kenapa kak? terakhir yang aku ingat aku sedang masuk kedalam kamar mandi karena sakit perut rasanya perut ku seperti ada yang meremas, setelah itu gak inget apa apa lagi" ucapku sambil mencoba menyusun puzzle ingatan tadi pagi.


" Sepertinya ada yang iseng sama kamu Ir, oh iya apa selama ini kamu suka merasakan morning sickness?" tanya kak Rania membuatku mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Morning sickness itu apa kak?" tanyaku penasaran.


"Morning sickness itu, pase yang biasa di lalui oleh ibu hamil di trimester pertama, seperti lemas, mual, muntah dan ngidam" ucapnya membuat ku semakin heran.


"Aku gak pernah merasakan itu kak, memang nya kenapa?" tanyaku masih tak mengerti.


"Emm, begini, tapi kamu jangan sedih dan kepikiran ya Ir yang ikhlas, sepertinya ada yang iseng menaburkan obat pencahar dengan dosis tinggi di makanan kamu tadi pagi, dan itu membuat bayi kamu keguguran" aku Tersentak kaget saat mendengar ucapkan kak Rania.


"Aku hamil kak? tanya ku memastikan.


" Ya kamu hamil sudah 5 Minggu, tapi sayang tadi pagi janin nya keluar " Tak terasa air mataku jatuh, ternyata selama ini aku hamil, tapi aku tidak menyadarinya.


"Kenapa harus taunya sekarang kak, saat janin nya sudah tidak ada, maafkan bunda sayang bunda gak bisa jaga kamu dengan baik " ucapku tak bisa menahan kesedihan.


" Lalu bagaimana dengan mas Arkha, apa dia marah dengan ku kak?" tanya ku dengan kak Rania. kulihat kak Rania tersenyum sambil mengusap lembut tanganku.


"Dia tidak marah Ir"


"Aku gak yakin kak, pasti dia sangat kecewa" ucapku lagi.


"Sekarang mas Arkha kemana kak, kenapa dia tidak menunggu ku siuman?" tanya ku membuat kak Rania merubah mimik wajahnya.


"Mas Arkha pulang dulu Ir, Marisa meninggal tadi siang " Aku membelalakk an mataku saat mendengar ucapan kak Rania.


"Apa kakak serius, aku masih gak percaya kalau kak Marisa meninggal" ucapku. bagaimana tidak tadi pagi kita masih sarapan bersama dan sekarang dapat kabar kak Marisa meninggal dunia.


"Serius Irni, tadi bik sum telpon saat kau belum siuman makan nya mas Arkha meninggalkan kita di sini" ucapnya.


"Apa yang terjadi dengan kak Marisa, kak?

__ADS_1


" Menurut info yang ku dapat dari Asti, Marisa operdosis, ternyata dia sudah hamil 2 bulan bisa jadi dia makan banyak obat sekaligus untuk menggugurkan kandungan nya, namun sialnya nyawa dia ikut melayang"


Aku kembali di buat terkejut mendengar ucapan kak Rania, mas Arkha sama sekali belum pernah menyentuh kak Marisa tapi kenapa kak Marisa bisa hamil? berarti benar yang ku dengar waktu itu tapi yang jadi pertanyaan dengan siapa kak Marisa selingkuh, gak mungkin jika dia main api dengan orang luar karena Akses keluar masuk rumah mas Arkha sangat lah ketat, berarti kak Marisa bermain main dengan orang dalam.


__ADS_2