
Selesai sarapan, aku mengantar mas Arkha sampai ke pintu utama Setelah kulihat mas Arkha masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan halaman aku segera pergi ke rumahku, rumah yang semalam tadi kutinggalkan saat aku masuk di sana sudah ada Ella yang tengah membersikan rumah.
" Selamat pagi nyonya " Sapa nya saat melihat ku masuk kedalam rumah.
" Pagi El," Ku dudukan bokongku di sopa lalu menyalakan televisi untuk mengusir rasa bosanku.
"Apa anda sudah bener bener sehat nyonya? tanya nya, Ella berjalan mendekat ke Arahku lalu dia menatap wajahku dengan tatapan heran. " Nyonya wajah anda pucat, sebaiknya anda istirahat saja dulu " ucapnya sedikit cemas.
"Aku sudah sehat Ella, aku pucat karena gak pake lipstik kau lupa membawakan nya kemarin" ucapku. ku lihat Ella menggaruk tengkuknya sambil tersenyum malu.
"Maaf nyonya saya lupa bawakan kosmetik anda kemarin, tapi bener kan anda baik baik saja kalau merasa tak enak badan segera istirahat ya nyonya saya mau ke rumah utama sebentar untuk menemui bik sum"
" Pergilah El, aku gak apa sendiri di sini dulu tapi jangan terlalu lama nanti aku kesepian kalau kau gak ada " ucapku, kulihat Ella mengangguk dia pun segera berlalu dari hadapan ku dan meninggalkan ku sendiri di rumah, aku masih pokus menonton televisi sampai beberapa saat kemudian perut ku terasa seperti ada yang meremas, sakit sekali.
" Awhhhh kenapa dengan perut ku" gumam ku. aku segera bangkit dan berlari kecil masuk kedalam kamar mandi yang ada di dapur, aku terus meringis sambil memegangi perutku yang terasa begitu sakit seperti ada yang meremasnya dengan sangat kuat.
" Ya Tuhan sakit sekali, Ella, Mas Arkha " panggil ku lirih. perutku begitu terasa sakit tapi tidak ada yang keluar saat aku mencoba untuk mengeluarkan nya malah tubuhku yang terasa lemas kembali.
" Irni, apa kamu di dalam" ku dengar ada suara kak Rania memanggil tapi suara ku sudah sangat sulit untuk keluar.
"Kak Ra-nia to-long" ucapku lirih, kurasa kak Rania tak akan mendengarnya.
"Irni, apa kamu di kamar, boleh kakak masuk Ir? telinga ku masih bisa mendengar suara kak Rania juga langkah nya
yang terus mondar mandir mencariku, semakin lama tubuh ku semakin merosot ke bawah closet tubuh ku terasa semakin lemas, rasa sakitnya semakin menjadi ku rasakan.
"Ya tuhan apa ini akhir dari hidupku" Batin ku.
"Kemana perginya Irni, tadi kata Ella ada di rumah" ucapan kak Rania yang terakhir kali ku dengar sebelum kesadaran ku menghilang seutuhnya.
___
__ADS_1
Di rumahnya Marisa tersenyum senang membayang kan reaksi obat yang dia taburkan pada sup yang di buatkan khusus oleh bik sum untuk Irni, dia yakin jika sekarang obat itu tengah bereaksi obat yang dia taburkan adalah obat pencahar perut dengan dosis tinggi obat itu bisa membuat orang bolak balik masuk kamar mandi dan buang air besar sampai membuat yang mengalaminya kehabisan tenaga juga cairan.
"Rasakan kamu Irni, lagian bisa bisa nya kamu memenangkan hati mas Arkha padahal kamu hanya istri baru nya dan baru menikah beberapa bulan saja, sedangkan aku yang sudah 3 tahun menikah dengan nya jangankan di sentuh, di beri perhatian saja tidak" ucapnya sambil tersenyum mengerikan.
"Ini belum seberapa Irni, apa yang aku lakukan terhadap mu ini belum ada apa apanya, lihat saja kedepan nya apa yang akan aku lakukan" ucapnya dengan senyuman Devilnya.
"Huekkkkk" Marisa memegangi perutnya lalu segera berlari masuk kedalam kamar mandi dan memuntahkan semua sarapan yang sudah di makan nya tadi pagi.
"Hueekkk, Huekkkkk" Marisa terus memuntahkan isi perutnya sampai yang keluar hanya cairan kuning.
"Nyonya anda kenapa? pelayan Marisa mengetuk pintu kamar mandi yang di tutup oleh Marisa. " Nyonya tolong buka pintunya saya mau masuk, anda kenapa?" teriaknya dari luar.
"Aku gak apa Yun, gak usah khawatir sepertinya aku salah makan tadi sampai membuat mual mual" ucapnya setelah keluar dari dalam kamar.
"Tapi ini sudah yang kesekian kalinya anda muntah muntah seperti ini nyonya, apa anda hamil?" pertanyaan Yuni pelayan pribadi Marisa sontak saja membuat Marisa terkejut.
"Ah bukan, aku sedang tidak enak badan saja Yun, tolong ambil kan koin sama minyak angin trus kerokin punggung ku" titahnya. Yuni pun segera mengambil apa yang di perintahkan oleh majikan nya.
"Nyonya Rania, kenapa anda seperti kebingungan begitu, dimana nyonya Irni apa sudah ketemu?" tanya Ella yang baru saja datang.
"Itu dia aku belum ketemu dengan Irni, katamu tadi dia ada di rumah tapi mana ko gak ada " ucapnya.
"Tadi pas saya tinggal nyonya tengah menonton televisi nyonya, itu televisi nya masih nyala berarti nyonya Irni masih di rumah mungkin di kamar nya"
"Aku tadi sudah periksa di kamar sama kamar mandi Irni yang ada di dalam tapi tidak ada di dapur juga tidak ada, coba kau telpon dia aku sudah membawakan nya puding buah untuk dia makan eh orang nya malah gak ada" ucapnya kecewa.
Ella merogoh kantong celana nya lalu menyalakan ponsel dan mencari nomor nyonya nya, namun ponsel Irni tertinggal di atas sopa.
"Yah ponselnya ketinggalan"
"Eh tunggu deh, Irni kan belum sehat betul El tadi aku lihat wajah nya masih pucat apa mungkin dia pingsan lagi di sekitar sini coba kita cari dulu takut nya bener lagi" Usul Rania dia pun membawa puding buatan nya ke dapur dan memasukkan nya kedalam kulkas.
__ADS_1
Melihat pintu kamar mandi dapur yang tertutup Rania mencoba menghampirinya, Rania mencoba membuka pintu kamar mandi namun sangat susah untuk di buka.
"Ir, Irni apa kamu ada di dalam?" Rania mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Irni, namun nihil tak ada jawaban dari dalam kamar mandi.
"El, Ella cepat kesini El" teriaknya dari arah dapur. Ella yang tadi tengah mencari di kamar pun segera keluar dan menghampiri Rania yang berdiri mematung di depan kamar mandi dapur.
"Kamar mandi ini belum di periksa, pas aku dorong susah sekali sepertinya terkunci dari dalam." ujar Rania. membuat wajah Ella pias dia segera berlari mencari kunci cadangan setelah menemukan nya dia segera menghampiri Rania yang juga terlihat sama cemas nya mengingat keadaan Irni yang belum benar benar pulih mereka menjadi cemas memikirkan bagaimana keadaan Irni di dalam sana.
"Cepat buka El, " Ella segera mencoba memasukan kunci itu untuk membuka pintu.
"Pintunya tidak terkunci nyonya, tapi kenapa susah sekali untuk di buka" ucap Ella membuat mereka berdua semakin cemas juga panik, dengan cepat Ella mengambil ponselnya lalu menelpon Arkha untuk menyuruh nya segera pulang.
Setelah menelpon Arkha Rania juga Ella berusaha untuk membuka pintu namun begitu susah entah apa yang menghalangi nya. tak lama kemudian Arkha datang dengan langkah panjang juga wajah paniknya.
" Kenapa kau bisa lalai dalam menjaga istriku, kau di bayar mahal untuk menjaga nya" Bentak nya, gurat kemarahan tercetak jelas di wajah nya.
"Maafkan saya tuan, saya salah" Ella langsung menunduk dia sudah siap jika nanti harus di hukum karena memang betul dia sudah lalai dalam menjaga nyonya nya.
"Mas sudah sekarang Irni di dalam, selamatkan dia dulu, pintu nya tidak bisa di buka cepat mas" Rania segera menyadarkan suaminya. Arkha pun mencoba membuka pintu kamar mandi namun benar saja pintu itu sulit untuk di buka.
"Panggilkan pengawal dan bawakan alat untuk membongkar nya cepat" Titahnya dengan suara kerasnya.
Rania langsung berlari memanggil pengawal setelah itu dia ikut kembali masuk kedalam rumah Irni.
"Cepat buka pintunya" titahnya.
Setelah beberapa saat mencoba membongkar pintu akhirnya pintu itu pun bisa di bongkar paksa, terlihat Irni yang sudah tergeletak mengenaskan di atas lantai kamar mandi dengan kaki mengarah ke pintu.
"Irni"
"Nyonya" teriak Rania juga Ella barengan.
__ADS_1