
Kulihat ponselku yang tadi berdering, aku menghela nafas saat melihat nama orang yang tadi menelpon aku, aku pun meletakan kembali ponsel itu di atas meja dan kulihat ponselku kembali menyala terlihat nama Maura di sana.
" Ada apa lagi dengan Maura?." gumamku, sedikit kesal aku sudah bisa menduga kalau ini pasti ada kaitan nya dengan papa, tapi sungguh aku sangat malas menerima panggilan dari adikku itu.
"Nyonya saya bereskan kamar anda dulu." Aku mengangguk membiarkan Ella masuk kedalam kamar.
Ponselku kembali berdering segera ku angkat telpon dari Maura, aku juga jadi penasaran ada apa dia terus menelponku.
" Hallo, ada apa Maura?, tanyaku ketus.
"Kak, tolong papa kak aku mohon tolong papa,aku tidak bisa hidup tanpa papa kak " Terdengar suara isakan dari balik ponselku.
"Aku tidak bisa berbuat apa apa Maura, aku di bawah kendali suamiku, kau cari saja pengacara yang hebat yang bisa mengeluarkan papa dari penjara.!" ucapku, kudengar Maura semakin terisak.
"Kak, aku tidak punya siapa siapa lagi selain papa sekarang tolong aku kak aku gak mau hidup sendiri, " ucapnya membuatku mengerutkan kening heran dengan ucapannya.
"Memang tante sonya kemana, ?" tanyaku.
" Setelah polisi membawa papa Mama depresi karena harta papa semua nya habis di sita kak, minggu lalu mama meninggal karena bunuh diri.! kudengar Maura menangis pilu, akupun sedikit terkejut mendengar ucapan Maura jika sonya sudah meninggal, meski dia begitu jahat padaku saat aku di rumah papa tapi dia adikku juga mendengar dia hidup sendiri ada sedikit rasa iba.
" Tenang lah dulu Maura, kau di mana sekarang?"
"Aku numpang di kontrakan Arsyi kak, kak tolong bantu papa " ucapnya lagi membuatku jadi tak tega.
"Nanti aku cari cara bagaimana supaya papa bisa keluar dari penjara," ucapku, aku juga gak tau bagaimana caranya aku belum tanya lagi dengan mas Arkha bagaimana perkembangan kasus papa sekarang smoga saja masih ada keringanan untuk papa.
"Makasih ya kak "
"Iya.! " aku segera mematikan sambungan telpon nya lalu berjalan masuk kedalam kamar kulihat Ella sudah selesai membersihkan tempat tidurku yang sudah seminggu ini ku tinggalkan.
Aku merebahkan tubuhku sambil menatap langit langit kamar, ingin rasanya aku keluar dari sini untuk menemui papa tapi itu semua tidak mungkin bisa terjadi mas Arkha tidak akan pernah membiarkan ku keluar rumah apalagi untuk menemui papa.
__ADS_1
"Nyonya, anda kenapa? jangan terlalu banyak melamun anda baru saja sembuh " Aku menghela nafas, lamunanku buyar seketika.
" Gak ada apa apa El," Aku segera bangkit dari ranjang dan berjalan keluar dari dalam rumah. Sekarang tujuanku mau menemui mas Arkha ingin bertanya perkembangan kasus papa.
Sampai di depan ruang kerja mas Arkha aku berdiri mematung bingung antara masuk atau tidak, takut jika aku menganggu mas Arkha yang tengah bekerja. Saat ingin membuka pintu aku sedikit mendengar percakapan mas Arkha entah dengan siapa.
"Jadi bagaimana perkembangan nya?," terdengar suara mas Arkha di dalam sana.
"Sepertinya akan sangat susah tuan mengetahui tuan Alan telah merencanakan pembunuhan tuan willson.! " mendengar percakapan mereka aku segera membuka pintu yang tak tertutup rapat itu, kulihat raut wajah terkejut mas Arkha juga Heru.
"Mas, maaf ada yang ingin aku bicarakan denganmu, " Mas mengangguk lalu menyuruh Heru untuk keluar.
"Saya permisi tuan, nyonya." Setelah Heru keluar aku duduk di sofa yang ada di ruang kerja mas Arkha.
"Ada apa?" tanya nya sambil menatapku heran.
"Mas, bagaimana dengan perkembangan kasus papa,?" tanyaku langsung pada intinya.
"Mas, gimana,? " tanyaku tak sabar menunggu jawaban apa yang akan mas Arkha ucapkan.
" Akan sangat sulit membantu papa, waktu itu pernah mas bilang bukan kalau papa terkena pasal pembunuhan berencana, jadi kita berdoa saja smoga pengacara yang mas sewa bisa membantu papa keluar dari penjara, " ucapnya membuatku mendesah kecewa.
" Apa aku boleh menemui papa mas,? tanyaku dengan hati-hati takut jika mas Arkha tersinggung dengan ucapan ku.
" Boleh tapi tidak sekarang, minggu depan papa sidang kamu boleh ke sana tapi_, " ucapnya menggantung membuatku jadi penasaran.
"Tapi apa mas,? "
"Tapi kamu gak boleh berangkat sendirian, nanti mas antar .! " ucapnya membuatku bernafas lega, aku mengangguk sambil tersenyum.
"Makasih ya mas.! ucapku, mas Arkha menarikku kedalam pelukan nya, pelukan yang selalu membuatku merasa nyaman.
__ADS_1
" Mas bolehkah aku bertanya sesuatu,? Aku memainkan jari jariku di dagu mas Arkha.
"Mau tanya apa, selagi mas bisa jawab akan mas jawab.! "
"Kenapa mas menahan kak Rania di rumah ini, sementara mas gak pernah menunaikan haknya sebagai istri,?" mas Arkha menarik nafas berat mendengar pertanyaanku.
"Dalam sejarah hidupku, aku tak ingin menceraikan istri tanpa sebab untuk itu aku menahan Rania di rumah ini karena dia tak pernah membuat kesalahan yang membuat aku murka.!"
" Mas, apa kamu tau seperti apa perasaan kak Rania selama ini,? dia selalu tersiksa di balik wajahnya yang selalu ceria dia itu sebenarnya kesepian mas.! kulihat mas Arkha hanya menarik nafas berat lalu mengalihkan pandangan nya.
"Terus apa yang harus aku lakukan,? membebaskan nya begitu,? " Aku mengangguk yakin.
"Bebaskan dia mas, biarkan kak Rania mencari kebahagiaan nya sendiri, jangan kurung dia disini, disini memang kak Rania serba tercukupi segala kebutuhan nya tapi hatinya hampa mas, kalau saja mas bisa adil mungkin lain lagi ceritanya " Ucapku. membuat mas Arkha langsung berbalik menatap kearah ku.
"Apa kau ingin aku melakukan hal yang sama pada Rania seperti aku memperlakukan mu,? tanya nya sambil menatap wajah ku dengan tatapan serius.
" Harus nya memang begitu kan dia juga istrimu, kak Rania posisinya lebih dari aku dia istri yang kau nikahi lebih dulu mas.!"
"Tapi aku tidak mencintai nya Irni, aku menikahinya karena kasihan, aku gak mau melihat wanita di lecehkan dia juga sebatang kara tak punya siapa siapa di luar sana " ucapnya sambil menunduk.
"Tapi cara kamu salah mas, kalau mas ingin membantunya bantu saja sebisanya tak usah mengikat kak Rania menjadi istri terus mengekang nya seperti sekarang, itu sama saja mas menyiksa orang, menyiksa orang itu bukan hanya di pukuli mas tapi tersiksa batin itu lebih parah, " ucapku sambil mengusap lembut tangan nya.
"Akan aku pikirkan nanti bagaimana yang terbaik untuk Rania " ucapnya membuatku tersenyum senang, bukan senang karena hanya akan menjadi istri satu satunya mas Arkha karena itu belum pasti, tapi senang karena kak Rania ada harapan untuk bisa bebas dari belenggu sangkar emas.
"Mas, satu lagi pertanyaan yang harus kamu jawab dan sangat penting dari pertanyaan yang tadi." ucapku membuat mas Arkha menarik nafas berat, mungkin dia sudah jengkel tapi mau marah pun gak bisa.
"Mau tanya apa lagi sih,? emang sepenting apa pertanyaan yang mau di tanyakan padaku,?" tanya nya sambil mencubit gemas hidungku.
"Emmm, Kenapa mas mencintai ku, dan sejak kapan perasaan itu hadir di dalam hati mas.?" Mas Arkha terdiam lalu menatap mataku dalam, dia tersenyum dengan begitu manis membuat wajah tampan nya semakin rupawan.
"Apa perlu aku jawab pertanyaanmu ini?"
__ADS_1