
" Rania apa kau tersiksa tinggal di rumah ini.? pertanyaan mas Arkha sontak saja membuat aku juga kak Rania saling tatap heran.
"Kenapa mas,?" tanya kak Rania sambil menatap mas Arkha heran.
"Rania maaf, selama ini mungkin sifatku sudah melukai perasaanmu, maaf aku gak bisa menjadikan mu istriku yang sesungguhnya karena aku, _ " ucapnya menggantung. " Karena aku tidak mencintaimu. " sambungnya lagi.
Kulihat kak Rania mengehela nafas lalu kembali tersenyum, begitulah kak Rania selalu menebar senyum manis nya sampai aku susah untuk menebak bagaimana situasi dalam hatinya.
"Mas, aku gak pernah berharap lebih sama kamu, aku tau dari saat pertama kali bertemu kamu dan kamu memutuskan untuk menikahiku itu bukan karena kamu cinta sama aku tapi karena kamu kasihan, aku sudah di tampung di sini saja sudah bersyukur dan dengan kamu bersikap begini juga sudah lebih dari baik " ucapnya.
"Rania, apa ada sesuatu yang kau inginkan,?" tanya nya membuat kak Rania kembali menatap mas Arkha dengan heran, aku memang belum memberi tahu kak Rania tentang obrolanku dengan mas Arkha tadi siang kupikir mas Arkha tak akan berfikir secepat ini.
"Emmmm, mas kenapa kau tanya begitu,?"
"Sudah jawab saja, apa ada yang kau inginkan? ulangnya lagi.
" Enggak ada mas, semua yang ada di rumah ini sudah cukup tak ada yang aku inginkan lagi " kulihat kak Rania meremas jari jarinya, terlihat jika dia tengah gugup saat ini aku tau betul jika kak Rania ingin mengungkapkan sesuatu tapi dia tidak bisa. Aku menatap mas Arkha memberikan kode untuk jangan di teruskan dulu tapi sepertinya mas Arkha kurang paham.
"Apa kau ingin bebas Rania, jika begitu maka akan aku kabulkan keinginan mu itu? kata mas Arkha yang langsung membuat kak Rania mendongkak menatap mas Arkha dengan tatapan terkejut juga tak percaya.
" Apa yang mas ucapkan sungguh?" tanya nya tak yakin dengan pendengaran nya.
"Jadi benar kau ingin aku bebaskan?" kak Rania kembali menunduk, aku meraih tangan nya menggenggam nya dengan erat dia melihat ke arahku dengan tatapan bertanya.
"Rania, jika memang benar kau ingin bebas maka akan aku bebas kan, tapi tidak sekarang " ucapnya, membuat kak Rania kembali menatapnya.
" Jujur aku memang ingin terlepas dari sini mas, aku ingin mencari kebahagiaan ku sendiri, bukan berarti selama di sini aku tak bahagia tapi aku tak bisa hidup seperti ini terus mas!"
"Ya aku paham. aku akan membebaskan mu carilah kebahagiaan mu tapi aku akan tetap mengawasi mu di luar sana, aku gak bisa melepaskan mu begitu saja " kak Rania tersenyum senang mendengar ucapan mas Arkha.
__ADS_1
"Terima kasih mas," ucapnya. mas Arkha hanya mengangguk tak menjawab ucapan kak Rania.
Setelah obrolan kami kulihat kak Rania terus mengembangkan senyumnya, aku pun ikut bahagia jika kak Rania bahagia "Aku permisi dulu ya Ir, mas Arkha aku kembali ke rumah ku dulu"
"Iya kak," ucapku.
"Mas, apa aku sudah boleh tidur di rumah ku lagi? tanyaku sambil menatap mas Arkha yang juga terus menatapku sambil tersenyum.
" Tidak, jangan dulu tidur sendiri. untuk sementara waktu tidur di sini saja dulu " ucapnya membuat ku sedikit kecewa, aku rindu kasur ku. Mas Arkha menarik perlahan tangan ku membawaku masuk ke kamarnya di lantai atas.
"Sekarang tidur lah, jangan terlalu sering tidur malam gak baik " Aku pun mengangguk, segera ku masuk kedalam kamar mandi untuk menggosok gigi juga mencuci wajah suatu kebiasaan yang tak pernah aku tinggalkan.
Aku mulai membaringkan tubuhku di atas ranjang, kulihat mas Arkha keluar dari dalam ruang ganti sudah dengan piyama tidur nya. aku masih termenung memikirkan bagaimana keadaan papa di dalam sel jeruji besi. meskipun papa selama 8 tahun ini selalu bersikap buruk terhadap ku tapi aku tak pernah menyimpan dendam untuk papa, apalagi sekarang Sonya sudah tidak ada. tidak ada lagi orang yang akan menghasut papa.
"Kenapa melamun,? pertanyaan mas Arkha langsung menyadarkan ku dari lamunan.
" Aku begitu tau bagaimana kamu saat tinggal di rumah itu, tapi kamu masih bisa mengingat papa setelah apa yang dia lakukan padamu?"
"Aku gak pernah membenci papa mas, biar bagaimanapun dia satu satunya orang tua yang kupunya sekarang, gak ada alasan untuk aku membencinya terlepas bagaimana perlakuan nya padaku dulu," ucapku. mas Arkha menarikku kedalam dekapan nya, dekapan yang selalu membuat ku nyaman.
"Mas, jadi sebelum papa menjual ku padamu kamu sudah lebih dulu tau aku? tanyaku penasaran.
" Ya begitulah, ada satu rahasia yang belum kamu ketahui." ucapnya, aku langsung menatap mas Arkha dengan tatapan penuh tanya.
"Apa itu mas? tanyaku.
"Setelah aku melihatmu di sekolah waktu kelulusan, aku selalu memantau mu waktu itu, aku banyak mencari tau tentang kamu juga keluarga mu, setelah mengetahui jika perusahaan papa sedang dalam ambang kebangkrutan aku menyuruh Heru menemui papa dan memberikan nya penawaran, memang terdengar cukup konyol tapi saat aku tau bagaimana ibu tiri, adik tiri, juga papa memperlakukan mu aku semakin yakin ingin membawamu keluar dari rumah itu." aku cukup terkejut mendengar pengakuan mas Arkha, ternyata dia tau semua nya.
"Jadi semua itu rencana kamu mas, kupikir papa yang menemuimu lalu menjualku" ucapku.
__ADS_1
"Ya, aku yang merencanakan semuanya, semua itu aku lakukan karena aku mencintaimu," ucapnya membuatku tersenyum malu.
"Terima kasih ya mas sudah mencintaiku sebesar ini, Aku gak akan pernah membenci papa apapun yang papa lalukan mas, aku ingin segera menemui papa, " ucapku. lalu masuk kembali kedalam pelukan nya.
"Minggu depan, kita akan menemui papa sekarang tidur lah aku gak mau kamu sakit lagi," Aku mengangguk perlahan memejamkan mata saat mas Arkha dengan lembut mengusap rambutku. Saat mata mulai terpejam terdengar suara ponsel mas Arkha berbunyi beberapa kali.
"Mas, ponsel mu terus berbunyi dari tadi" ucapku, namun mas Arkha seperti enggan untuk menerima nya.
"Biarkan saja, panggilan gak penting " ucapnya lalu kembali memejamkan mata.
"Mas tapi kalau itu panggilan penting gimana, coba angkat dulu " Mas Arkha bangun sambil berdecak kesal, dia ambil ponselnya kemudian turun dari ranjang berjalan ke arah balkon untuk menerima telpon.
"Gak bisa yah gak ganggu aku terus. sudah aku bilang aku gak bisa kesana!" ucapnya dengan nada ketus.
" Aku gak peduli.! " entah apa yang mereka bicarakan dan entah siapa yang menelpon mas Arkha malam malam begini.
Tak lama kemudian mas Arkha masuk lagi kedalam kamar dengan wajah merengut kesal, dia berjalan menghampiri ku yang sudah terbaring.
"Maaf mas harus meninggalkan mu lagi malam ini, tidur lah jangan tunggu mas pulang" Aku menatap mas Arkha dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sebenarnya siapa yang menelpon mas? dan kemana kamu pergi?" tanyaku penasaran.
"Nanti mas kasih tau, sekarang mas pergi dulu istirahat lah" Aku mengangguk, meski ada sedikit rasa kecewa mas Arkha belum mau terbuka dengan ku, siapa yang suka mas Arkha temui akhir akhir ini.
Kulihat mas Arkha sudah siap dengan pakaian nya, dia menghampiri ku lalu mengecup singkat kening juga bibir ku sebelum akhirnya dia keluar dari dalam kamar, aku menghembuskan nafas berat. aku yang kesepian tinggal di kamar besar ini sendirian memutuskan untuk kembali ke rumah ku sendiri.
"Nyonya anda mau kemana?" aku cukup terkejut saat bik sum datang secara tiba tiba.
"Mau kembali ke rumah bik sum, oh iya bik boleh minta tolong panggilkan Ella aku kesepian gak ada yang menemani" ucapku, bik sum mengangguk lalu pergi untuk memanggil Ella di rumah khusus pelayan sementara aku duduk menunggu di meja makan sambil meminum satu kotak susu yang ku ambil dari kulkas di dapur.
__ADS_1