
Irni sudah siap dengan penampilan nya lalu duduk dengan manis di depan cermin dia menatap bayangan nya lalu tersenyum.
"Anda kenapa nyonya, lagi senang ya?" tanya Ella, aku berbalik menatap Ella.
"Apa aku terlihat bahagia Ell? Ella mengangguk.
" Sangat terlihat, smoga anda akan selalu bahagia ya nyonya saya sangat berharap " ucapnya. aku tersenyum mendengar ucapan pelayan pribadiku itu.
kulihat waktu sudah menunjukan pukul 8 sudah waktunya berangkat, aku gak mau membuat mas Arkha menunggu lama, aku pun segera bangkit dan keluar dari dalam rumah.
"El, aku pergi dulu "
"Iya nyonya hati hati" Aku berjalan memasuki rumah utama, kulihat mas Arkha tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Mas," Mas Arkha menoleh saat aku memanggilnya lalu tersenyum.
"Sudah siap, ayok berangkat " Aku mengangguk, kamipun berjalan keluar rumah.
"Arkha, tunggu, kamu mau kemana?" Helen datang dengan di dorong oleh perawat nya menghampiri kami yang mau memasuki mobil.
"Bukan urusanmu, istirahat saja biar keadaanmu cepat pulih" Kulihat Helen menunduk sedih.
"Ayok kita berangkat sudah siang" Aku memasuki mobil lebih dulu, saat mas Arkha mau masuk mobil perawat itu berteriak memanggil mas Arkha.
"Tuan, Tuan, tolong nyonya tuan," Mas Arkha langsung berlari meninggalkan ku sendiri, kulihat mas Arkha membopong tubuh Helen yang sudah tak sadarkan diri.
Aku menghela nafas berat, apa mungkin aku gak akan jadi bertemu papa hari ini.
Aku berjalan dengan lesu menuju taman di dekat kolam ikan, lalu duduk di kursi sambil menatap ikan yang bergerak secara bergerombol.
"Hei, kenapa wajahnya di tekuk begitu, lagi ada masalah? Kak Rania duduk di dekatku.aku menghela nafas berat.
" Kenapa sih? sini cerita sama aku kalau ada masalah?" aku menatap sekilas kak Rania lalu kembali menatap kolam ikan.
"Kak, sepertinya aku gak bakal ketemu papa hari ini.! ucapku.
" Kenapa begitu? tanyanya.
"Tadi pas aku sama mas Arkha sudah siap berangkat Helen tiba tiba datang lalu pingsan, mas Arkha membawanya lebih dulu dan meninggalkan ku" Kak Rania langsung memeluk tubuhku, mengusap rambutku dengan perlahan.
__ADS_1
"Aku punya feeling gak enak tentang Helen, entah apa itu smoga hanya perasaanku saja tapi kamu harus tetap hati hati ya Ir" aku menatap kak Rania tak mengerti.
"Pasti otak kamu lagi loading yah, gak apa nanti juga kamu bakal mengerti apa yang aku maksud" ucap kak Rania, Aku memang gak ngerti dengan apa yang kak Rania bicarakan.
"Sudah ya nanti kalau sudah waktunya pasti akan bertemu dengan papa" Aku mengangguk perlahan.
"Iya kak"
"Ir, aku pulang duluan yah, apa kamu mau ikut ke rumah ku?
" Gak usah kak, aku mau menunggu mas Arkha di sini saja"
Kulihat waktu sudah jam setengah 10 pagi tapi mas Arkha belum juga ada keluar dari dalam rumah utama, Aku semakin tak tenang ku langkahkan kakiku menuju rumah utama untuk melihat sedang apa mas Arkha di sana.
"Arkha, tetaplah di sini aku gak mau kamu tinggal sendirian" Terdengar suara rengekan seorang perempuan dari dalam ruang perawatan yang ada di rumah utama sudah ku pastikan kalau perempuan itu adalah Helen.
"Aku harus pergi Helen, aku ada janji dengan istriku"
"Arkha, jika nanti aku pingsan lalu kejang kejang lagi pas gak ada kamu gimana? aku butuh kamu di sini.! ku intip sedikit dari pintu yang tak tertutup rapat terlihat mas Arkha yang tengah duduk di sisi ranjang Helen.
Tak kuat melihat mereka aku segera pergi dan keluar dari rumah utama menuju ke rumah ku sendiri, sungguh aku sangat kecewa dengan mas Arkha yang sudah ingkar janji.
Aku masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu dari dalam, aku ingin menyendiri untuk menenangkan pikiran ku yang tengah kalut, setelah berdiam diri beberapa saat aku memutuskan untuk merendam tubuhku, mungkin dengan begitu otak ku bisa sedikit rileks.
____
"Tapi aku pengen nya kamu yang jaga bukan orang lain Arkha" ucapnya dengan manja.
"Jangan egois Helen, ada istriku yang harus ku berikan perhatian lebih. maaf aku harus pergi Helen" Arkha berlaku pergi dari dalam ruangan itu lalu menuju ke kamarnya untuk ganti baju.
"Arkha, jangan pergi Arkha, jangan tinggalin aku" Helen berteriak memanggil Arkha yang sudah menjauh dari ruang perawatan Helen.
"Sial, aku harus secepatnya menyingkirkan kedua istri Arkha" gumamnya.
____
"Nyonya apa anda di dalam?
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
" Nyonya?" panggil Ella sambil terus mengetuk pintu. Aku yang baru selesai mengguyur tubuhku pun segera keluar dari dalam kamar mandi.
"Ya El?"
"Anda sudah di tunggu tuan nyonya"
"Dimana?" tanyaku.
"Tuan ada di ruang depan, segera lah pakai baju nyonya " Ella membantu meggambilkan pakaian ku lalu membantu merias wajahku.
"Terima kasih El.!" ucapku.
"Sama sama nyonya," aku bergegas keluar dari dalam untuk menemui mas Arkha.
"Mas, apa urusan Helen sudah selesai?" tanyaku. mas Arkha mengangguk lalu tersenyum.
"Maaf membuat mu menunggu lama, apa kita jadi berangkat?"
" Jadi mas, meski sudah terlambat gak apa yang penting aku bisa bertemu papa hari ini " ucapku.
"Ya sudah ayo berangkat sekarang" Aku mengangguk antusias.
Setelah masuk kedalam mobil mas Arkha mengemudi kan mobilnya sendiri, mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota jakarta di siang hari. tak lama kemudian kami pun sampai di lapas tempat papa di penjara.
"Tuan Arkha, saya kira anda tidak dapat hadir hari ini" seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar, dan perut buncit datang menghampiri kami.
"Maaf Pak Hendra, ada sedikit masalah tadi di rumah jadi kami datang terlambat"
"Gak apa tuan, tapi maaf sidang nya sudah selesai 2 jam yang lalu" mas Arkha mengangguk, lalu kami mengikuti orang yang bernama pak Hendra itu masuk kedalam lapas.
"Kami ingin bertemu dengan pak Alan" seorang polisi itu mengangguk lalu mengantar kami menuju sel tahanan papa. Sampai di sana kulihat papa tengah duduk di atas ubin dengan beralaskan tikar yang sudah robek. hatiku sakit melihat kondisi papa saat ini, meskipun papa tak pernah memperlakukan ku dengan baik setelah menikah dengan sonya tapi melihat kondisi papa seperti sekarang mampu membuat hatiku terluka.
Aku berjalan semakin mendekat, sepertinya papa belum menyadari kehadiran ku dia masih asik dengan lamunan nya menatap kedepan dengan pandangan kosong.
"Papa" panggilku lirih. namun papa masih bergeming.
__ADS_1
"Papa." aku kembali memanggil untuk kedua kalinya, papa melihat ke arahku dengan mata berkaca kaca, dia bangkit lalu menghampiriku yang berdiri di balik sel.
"Irni"