Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 10 - Tertangkap


__ADS_3

Kalina duduk di atas pot semen yang mengelilingi pohon mangga, pohon itu memang sengaja di tanam di pinggir jalan untuk mengurangi polusi udara, gadis tengah asik menikmati gorengan tempe yang Ia beli tadi, matanya ter-edar mengawasi sekitar.


Instingnya sebagai pencopet langsung menyadari bahwa seseorang menaruh dompet sembarangan di atas pot semen. Dia mengunyah perlahan, namun ujung matanya tak henti-hentinya mengawasi dompet tersebut, dalam satu sambaran kini dompet itu sudah berpindah tempat, Kalina menyelipkan dompet tersebut di kedalam bajunya, lantas Ia pun pura-pura berjalan dengan santai.


"Mah liat dompet Papah gak?" tanya seorang pria pada istrinya, yang menyadari jika dompetnya sudah raib di gondol maling.


"Lah, tadi kan Papah yang pegang Mamah mana tahu," balas sang Istri.


"Tadi Papah taruh dompetnya disini," Laki-laki itu mengedarkan pandangan, "pasti cewek tadi yang ngambil, itu dia!" teriaknya saat melihat punggung Kalina yang masih berjalan belum terlalu jauh dari korbannya itu.


"Aah, sial!" pekiknya, seketika Ia berlari menerobos barisan orang yang juga tengah berjalan di trotoar.


"Copet! Mas, tolong tangkap wanita itu, dia copet!" teriak bapak-bapak tadi memberi tahu semua orang.


Dan aksi kejar-kejaran pun tak dapat di hindarkan, beberapa orang mencegat Kalina dari arah depan membuat Kalina berputar arah mengambil jalur samping, dia berlari menyusuri gang sempit tempat pemukiman warga. Hingga gang berakhir pun orang-orang itu tak kunjung menyerah, Kalina hampir kehabisan napas, larinya semakin melambat, peluh sudah membanjiri tubuhnya apa lagi baju yang Ia kenakan cukup tebal hingga hawa panas dua kali lipat lebih terasa di tubuhnya.


"Si-sial, mereka gak mau nyerah gu-gue harus kemana lagi sekarang?" Kalina berhenti sejenak untuk mengatur napasnya, namun dari arah belakang dan dari samping masing-masing dua orang pria tadi mengepungnya.


"Mau kemana kamu hah, cantik-cantik kang copet, ayo serahkan dompetnya dan ikut kami ke kantor polisi." Pria itu hendak menarik Kalina, namun gadis itu tak tinggal diam, dia melempar sepatu yang di pakainya tepat ke-muka si bapak, membuat pria paruh baya itu mengumpat seketika.


"Dasar perempuan sialan! Tangkap dia!" Kalina hendak kembali berlari, namun kali ini dia tak punya kesempatan, dirinya sudah di kepung dari segala penjuru, tak ada jalan untuk lari. Sepertinya dia harus menyerah dan membiarkan dirinya di giring ke-kantor polisi dari pada babak belur.


"Kamu mau lari kemana sekarang hah? Kembalikan dompetnya sekarang juga, atau kami akan mengambilnya dengan kekerasan!" ancam sang bapak, dengan terpaksa Kalina menyerahkan dompet tersebut dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


"Ayo bawa dia, jangan hanya karena wajah cantiknya kita membiarkannya bebas begitu saja, hukum tetap harus di tegakan." Tangan Kalina di ikat ke-belakang dan di giring menuju kantor polisi.


Namun sebuah mobil mewah berhenti menghalangi pergerakan mereka, "siapa dia?" pertanyaan itu terdengar dari salah satu di antara mereka.


"Mungkin korban juga," pertanyaan itu di jawab oleh temannya.


Seorang pria rupawan dengan tubuh gagah keluar dari dalam mobil, membuat semua orang terpana menatapnya, "dia siapa, artis kah?"


"Kayanya Ia deh, ganteng banget."


Kalina menunduk dalam, dia bergeser ke samping menyembunyikan diri di antara para pria yang membawanya, "maaf kalau saya boleh tahu, ini ada masalah apa ya, kenapa kalian membawa seorang wanita dengan kasar seperti itu?" tanyanya sopan.


"Ini Mas, cewek ini tukang copet. Kami akan menyerahkannya ke kantor polisi, biar dia jera dan gak nyopet lagi." Tutur salah satu dari mereka.


"Mas kenal sama cewek ini?" tanya mereka keheranan.


"Dia Kalina Istri saya Pak, hobinya memang agak aneh," Kevin tersenyum, "jadi bapak-bapak bisa tolong lepaskan dia, saya memohon maaf atas nama istri saya, saya akan mengganti setiap kerugian yang Istri saya timbulkan terhadap kalian."


Mereka pun melepas ikatan Kalina dan mendorongnya ke arah Kevin, gadis itu masih saja menunduk tak berani menatap wajah suaminya, "baiklah, kami akan melepaskannya kali ini, tapi kami harap kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Tolong Mas didik istri Mas dengan baik, jika Mas tidak datang hari ini mungkin dia sudah mendekam di penjara untuk waktu yang lama."


"Baik, saya akan membuat dia mengerti untuk melepas hobinya ini. Sekali lagi saya mohon maaf, bapak-bapak silahkan bisa meminta ganti rugi pada asisten saya, terima kasih atas kebaikan kalian, kami permisi dulu." Kevin melingkarkan tangan di pinggang Kalina setengah mencengkeramnya.


"Kamu sudah mulai membangkang," bisik Kevin di telinga Kalina, dia mendorong Kalina masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


Kalina menelan saliva, tangannya saling meremas dengan keringat membanjir di masing-masing telapak tangannya.


"Kenapa diem? Apa tidak ada yang ingin kamu katakan padaku?" Kalina tetap menunduk tak berani menatap wajah Kevin.


Asisten Kevin kembali dan duduk di balik kemudinya, membuat Kevin seketika terdiam. Dia tak pernah ingin membahas masalah pribadinya di depan orang lain meski itu adalah karyawannya sendiri.


Keheningan terjadi sepanjang perjalanan, Kevin melempar pandang keluar jendela, begitu pun dengan Kalina. Mereka pun sampai di di rumah, Kalina turun dari mobil masih dengan wajah di tekuk. Dia menunggu Kevin untuk berjalan bersama, namun diluar dugaan pria itu berjalan lebih dulu meninggalkan Kalina seorang diri di belakang.


'Kevin pasti marah besar.' Kalina berjalan setengah berlari menyusul langkah lebar Kevin.


Kalina terperangah melihat deretan pelayan berjajar rapi saling berhadapan di ruang tengah, jajaran sebelah kanan khusus perempuan dan yang sebelah kiri untuk laki-laki, jumlah mereka cukup banyak hingga bisa dia ajak untuk latihan baris-berbaris.


Sedang Kelly wanita itu tampak berdiri sendiri tak jauh dari mereka, "siapa di antara kalian yang membantu Nyonya untuk keluar dari rumah ini?" teriak Kevin, kini kemarahan tampak jelas di raut wajahnya.


"Nyonya belum tahu area rumah ini, bagaimana bisa dia pergi tanpa sepengetahuan kalian, sedangkan rumah ini di jaga dengan ketat," bentaknya penuh amarah.


Wajah Kelly nampak memucat, beberapa pelayan wanita yang berdiri di antara mereka tahu jika dia orang yang terakhir kali menemui Kalina tadi pagi.


"Aku pergi sendiri Vin, gak ada yang bantu aku. Tolong jangan salakan mereka." Kalina maju untuk membela semua orang, dalam kenyataan pun Kalina memang pergi sendiri namun atas petunjuk Kelly.


"Diam kamu, sekarang urusan aku dengan mereka! Jangan lupa kamu juga sudah melakukan kesalahan!" Geram Kevin, nyali Kalina seketika langsung ciut.


"Katakan padaku, siapa yang terakhir kali datang menemui Nyonya?!"

__ADS_1


__ADS_2