
Abran kembali keluar, kali ini dia berjalan bersama Kevin, mereka tampak mengobrol dengan serius.
Kalina melebarkan matanya seketika, dia bersembunyi di bawah meja yang kebetulan tak jauh dari posisinya saat ini, Kelly melirik tingkah madunya itu.
'Apa gue kerjain aja nih Pelakor?'Jiwa julidnya muncul seketika.
"Dokter Abran, bagaimana keadaan Kevin?" Tanya Kelly sembari berjalan mendekat.
"Tidak ada masalah serius yang terjadi pada Pak Kevin, Nyonya. Benjolan di kepalanya nanti juga hilang, tapi ko bisa sih Bapak ke jatuhan Mangga?" tanya Abran dengan bibir mengulum senyum.
"Ehem, siapa bilang kepala saya kejatuhan Mangga? Kepala saya hanya tak sengaja terbentur dinding, kalau saya tahu siapa yang menyebarkan berita semacam ini, saya pasti akan membuat dia menyesal seumur hidup karena telah bergosip!" Ucap Kevin kesal.
Abran nampak tak enak sekaligus takut, Kevin kalau marah memang lumayan menakutkan, "ma-maafkan saya Pak, saya hanya mendengar dari orang lain, saya tidak bermaksud kurang ajar."
"Sudahlah tidak papa, tapi lain kali hati-hati kalau bicara," ucap Kevin seraya berlalu.
__ADS_1
Abran menghela napas pelan, dia berpamitan terhadap Kelly lantas berjalan keluar, pandangannya ter-edar mencari sosok Kalina.
"Kemana Lina pergi ya? Mana aku belum sempat minta no hp dia lagi," pada saat itu seorang pelayan wanita lewat di depan Abran, "maaf Mbak saya mau tanya, apa Mbak kenal dengan seorang wanita bernama Kalina, katanya dia juga kerja disini sebagai pelayan."
"Maaf Pak saya tidak tahu, permisi." Pelayan itu secepat kilat pergi seolah takut apa yang Ia sembunyikan ketahuan Abran.
"Ya terima kasih." Abran tampak kebingungan, namun dia memilih untuk pergi, mungkin nanti dia bisa bertemu dengan Kalina lagi.
Kalina mengelus dadanya pelan, dia muncul dari persembunyiannya, matanya seketika melebar kala melihat siapa yang kini menatapnya dengan pandangan aneh dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.
"Lina, ngapain kamu sembunyi disitu?" tanya Kevin.
"Aku apa? Katanya mau nginep tiga hari, tapi baru juga semalem udah balik lagi, kenapa? Kangen ya?" cibir Kevin.
"Paan sih Vin, mana ada kangen. Aku cuma khawatir kamu kena penyakit mental gara-gara ketiban mangga kemaren. Jadinya aku cepet-cepet pulang," jawab Kalina berdalih.
__ADS_1
"Pulang? Jadi sekarang kamu sudah mengakui jika ini rumah kamu."
Kalina memutar bola mata malas, "terserah kamu lah Vin, kalau kamu baik-baik saja, aku akan balik lagi ke panti sekarang."
"Siapa bilang aku baik-baik saja, aku demam juga sakit kepala, kamu harus merawat aku. Bawakan aku makanan, aku lapar." Ucapnya sembari berlalu lebih dulu ke-kamarnya.
"Heleh tadi katanya gak lapar, sampe ngamuk-ngamuk giliran sekarang bilangnya lapar, pengen makan. Dasar plin-plan." Kalina merutuki punggung Kevin yang perlahan hilang di telan pintu kamar.
Dari kejauhan Kelly nampak memperhatikan Interaksi Kalina dan Kevin.
'Sampai kapan aku harus menjalani pernikahan seperti ini? Pernikahan ini hanya sebuah cangkang tanpa isi.'
Kalina membawa nampan berisi beberapa macam makanan ke kamar Kevin, tampak pria itu tengah duduk menanti Kalina datang.
"Ini!" Kalina menyodorkan nampan tersebut pada Kevin.
__ADS_1
"Kamu nyuruh aku makan sendiri?"
"Iyalah, yang demam itu kepala kamu kan, bukan tangan kamu."