Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 58 : Dugaan


__ADS_3

Kalina duduk dengan gelisah, lantas keluar setelah dirasa Kevin sudah terlelap. Tampak Kenan dia tengah berbicara dengan seorang polisi, entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Iya Pak, ini masalah keluarga kami, kami akan menyelesaikannya secara pribadi, mohon pengertiannya." ujarnya, kata-kata itu semakin memperkuat dugaan Kalina soal Gwen.


Kalina berjalan mendekat untuk memperjelas pendengarannya, "ada apa Nan?" saat Kalina datang Kenan pun langsung menghentikan perbincangannya.


"Err, tidak ada apa-apa ko Lin," Jawabnya gugup.


Kalina menatap curiga pada Kenan, membuat yang di tatap semakin salah tingkah, "jangan menyembunyikan kesalahan orang lain Nan, itu akan menjadikanmu sama bersalahnya." Kalina memberikan nasehat.


Kenan menghela napas pelan, "aku tidak menyembunyikan apapun Lin, nanti setelah Kakak sembuh kami akan membicarakan ini sama-sama," Kenan tersenyum lemah.


"Apa Ibumu yang mengincar nyawa Kevin?" seketika Kenan mendongak menatap Kalina.


"Ba-bagaimana kamu bisa tahu? Lin, tolong jangan beritahu Kakak dulu soal ini, nanti aku akan bicara baik-baik dengannya, a-aku tidak ingin Ibuku di penjara, walau bagaimanapun aku tetap anaknya."


Kalina menghela napas pelan, "kamu penasaran dari mana aku tahu soal ini? Kevin, Nan, dia sepertinya sudah tahu sejak awal, kalau Nyonya Gwen yang ingin mencelakainya," Kenan tampak terkejut, pandangan matanya melebar sempurna.


"Lalu apa yang Kakak bilang, apa dia akan melaporkan Mamah ke polisi?" Kenan menuntut jawab setengah memaksa.


Kalina menggeleng pelan, "dia tidak mengatakan apa pun pada polisi, tapi aku yakin dia sudah tahu semuanya, Kevin bukan orang bodoh Nan. Tapi yang pasti, dia juga menyayangi Ibumu, itulah sebabnya dia tidak membawa masalah ini lewat jalur hukum." Kenan seketika terdiam, dia tidak menyangka Kevin punya perasaan begitu terhadap Ibunya, yang dia tahu selama ini hubungan mereka tidak pernah baik.


"Apa kau yakin, Kakak menyayangi Ibuku, setahuku selama ini hubungan mereka tidak pernah baik-baik saja, pikiran mereka tidak pernah sejalan."


"Apa kau yakin pikiran mereka tidak pernah sejalan, atau Kevin memang sengaja melakukan semua itu?" balas Kalina.

__ADS_1


Lagi-lagi Kenan terdiam, benar sikap Kevin berubah setelah pernikahannya dengan Kelly di putuskan, mungkin itu penyebab dia selalu memusuhi Ibunya.


"Sepertinya, kamu memang benar Lin. Aku saja bahkan tidak tahu soal ini, meski aku hidup dengan Kakak selama puluhan tahun," Kenan tersenyum lemah.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Aku akan melakukan semua yang harusnya aku lakukan sejak lama, kamu jagalah Kakak dengan baik. Aku pergi dulu." Kenan menepuk pundak Kalina lantas berlalu.


"Aku percayakan semua padamu Nan, aku yakin kamu pasti bisa," gumam Kalina pelan, dia menatap punggung Kenan yang perlahan menjauh.


***


Kalina pergi ke kantin sebentar untuk membeli makanan karena perutnya terasa lapar, dia ingin memakannya sambil menjaga Kevin.


Dia kembali memasuki ruang rawat Kevin, pria itu sudah duduk menyandarkan diri di kepala ranjang, "Vin, ko kamu udah bangun," ucap Kalina sembari menaruh kantong kresek belanjaannya di atas nakas.


"Aku beli makanan, perutku lapar," ujar Kalina.


"Apa aku membuatmu kelaparan? Seharusnya kamu bilang biar aku menyuruh seseorang untuk membelinya, tapi bukankah diluar ada Kenan, kemana dia? Kenapa dia tidak membelikanmu makanan?" cerocosnya.


Kalina tak lantas berujar dia malah menikmati makanan yang di belinya, "apa rotinya enak? Atau kamu mau makanan yang lain?" dia masih saja belum melupakan rasa khawatirnya yang berlebih itu.


"Kamu lupa siapa aku Vin? Aku wanita yang bisa hidup dengan makan sekali sehari, kenapa kamu sangat berlebihan begitu, aku baik-baik saja." Kalina terkekeh pelan.


Kevin terenyuh, dia menatap Kalina seakan tak ingin berpaling sedikit pun dari wanita itu, bahkan berkedip seolah enggan, dia takut Kalina akan menghilang lagi.

__ADS_1


"Jangan menatapku begitu," keluh Kalina merasa risih. Kevin hanya mendengus senyum sebagai jawaban.


Seorang suster masuk dan membawa nampan berisi bubur, sepiring buah segar dan segelas air putih. Kemudian meletakannya di atas nakas.


"Terimakasih Sus," ujar Kalina, kemudian suster itu pun berlalu.


"Ayo makam Vin," ujar Kalina dengan mulut di penuhi roti, Kalina makan seperti orang kelaparan, tapi ya memang begitu adanya sih, dia sedang kelaparan.


"Kamu mau? Kalau kamu mau, makanlah." Kalina melirik mangkuk bubur tersebut, aneh biasanya dia tidak menyukai makanan-makanan bertekstur lembek begitu, tapi sekarang isi di dalam mangkuk itu seakan menggodanya.


"Tapi, itukan makanan kamu Vin, masa ia aku yang makan," dalih Kalina.


"Gak papa, makan aja, aku masih kenyang," ujar Kevin.


"Kenyang, makan apa?" Kevin tampak berpikir, menimbang kata untuk menjawab ucapan Kalina.


"Udah jangan so, aku tahu kamu juga belum makan, sini aku suapi," Kalina meraih mangkuk bubur itu dan menyendok satu suapan, kemudian mengarahkan sendok tersebut ke mulut Kevin. Namun, dia justru mengambilnya dan menyuapkan bubur itu ke mulut Kalina.


"Kamu dulu yang makan, baru aku," ujarnya, dia membuka mulutnya dan meminta Kalina menyuapinya lagi.


"Dasar, ada-ada aja," keluhnya, namun Kalina tetap menurutinya.


Di tengah-tengah kemesraan dan canda tawa yang terjadi, seseorang mengetuk pintu lantas masuk, dia ternyata Kelly, seketika Kalina menghentikan kegiatannya, dia hendak bangkit, namun Kevin menahannya, dengan cara menggenggam tangan Kalina.


"V-vin, lepasin," gumam Kalina pelan, namun Kevin tak menggubrisnya, dia tetap menggenggam erat pergelangan tangan Kalina.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kevin, pada wanita yang statusnya masih menjadi istri pertamanya itu.


Kelly melirik Kalina yang duduk sambil menundukkan kepalanya, "secepat itu kamu menemukannya, kalau aku yang pergi apa kamu akan mencariku, Vin?"


__ADS_2