
"Vin, kita gak mungkin tidur bersama," Kalina kekeh dengan keputusannya.
"Kenapa gak bisa? Aku dan kamu adalah suami istri sah, kita halal walau pun melakukan hal itu," ucap Kevin bola matanya menatap ke-arah lain.
"Aku tahu, hanya saja aku belum siap."
"Aku sudah bilang, selama kamu tidak mau aku tidak akan memaksa, apa kau tidak percaya padaku?" Kevin berdecak kesal.
"A-aku akan mencoba percaya," akhirnya Kalina pun luluh juga, dia kembali membaringkan dirinya di samping Kevin.
Dengan jantung yang henti-hentinya berpacu, Kalina berusaha memejamkan mata, walau matanya sudah tertutup namun dia tetap sadar, dia hanya pura-pura tertidur.
Jemari Kevin yang menyentuh rambutnya hampir saja membuat Kalina memekik karena terkejut, namun dia tetap bertahan dalam posisi ini, "Lin, akhirnya aku mendapatkan-mu, awalnya aku sudah menyerah, aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Perjodohan yang dilakukan keluargaku membuat aku harus menikahi wanita lain, walau aku tak ingin, tapi sekarang kau disini bersamaku, mulai saat ini dan seterusnya kau hanya akan jadi milikku tak akan aku biarkan siapa pun memisahkan kita, selamanya cintaku hanya kamu," Kevin mencium pucuk kepala Kalina, membuat jantung gadis itu hampir saja melompat sakit kagetnya.
'Aduh, aku udah gak tahan nih, mana kebelet lagi, kalau aku bangun sekarang si Kevin pasti bakalan tahu kalau sebenarnya aku gak tidur sama sekali,' Kalina menggigit bibir bawahnya sambil menahan dorongan alam dari bawah sana.
Kevin melingkarkan tangan di tubuh Kalina, membuat perasaan gadis itu semakin tak karuan, sepertinya malam ini dia tak akan bisa tidur sama sekali. Malam semakin larut, namun Kalina masih belum bisa terlelap, dia berusaha bergerak se-pelan mungkin agar terlepas dari pelukan Kevin, namun semakin dia bergerak, lingkaran tangan Kevin semakin erat saja.
'Sialan, aku harus gimana ini? Sudah ku duga ini akan terjadi, si Kevin sialan ini pasti sengaja melakukan ini, kadang aku ragu dia beneran tidur atau enggak?' Kalina kembali menggerakkan tubuhnya dan seperti tadi Kevin semakin mengeratkan pelukannya.
Kalina pura-pura menggeliat, sekalian agar bisa langsung melepaskan diri, namun tiba-tiba Kevin menariknya membalikan posisi tidur Kalina menghadap ke arah-nya. Deg... Kalina mengerjap beberapa kali, pasalnya ini kali pertama wajahnya dengan wajah Kevin amat dekat hanya berjarak beberapa inci.
__ADS_1
"Tidur, kenapa malah melotot?" Kevin menutup mata Kalina, entah bagaimana dia bisa tahu kalau Kalina sedang melotot padanya padahal mata dia terpejam.
"Siapa yang melotot, kamu bikin kaget tiba-tiba narik tangan aku," keluh Kalina sembari mendorong lengan Kevin dari wajahnya.
Kevin membuka matanya perlahan, bola mata perak itu kini menatap bola mata Kalina, tatapan dalam seolah kau bisa tenggelam di dalamnya, tatapan sarat akan makna, seolah berjuta kata-kata tertulis di sana, "Lin, jangan pernah tinggalkan aku, meski apa pun yang terjadi," kata-kata itu mengalun begitu saja dari bibir Kevin.
"Meski dunia menolak hubungan kita, selama kau berdiri di sampingku, aku yakin aku mampu menaklukkan mereka."
"Vin, apa kau pikir hubungan kita akan berjalan lama?" balas Kalina.
"Mengapa kau bertanya begitu?" Kevin nampak tak suka dengan pertanyaan Kalina.
"Kau sudah punya seseorang dalam hidupmu, aku lihat Mbak Kelly sangat mencintai kamu. Vin, orang bilang istri pertama adalah orang yang berjuang bersamamu dari nol, mungkin apa yang kamu miliki sekarang adalah berkat doa dia." Bukannya terharu, Kevin malah terkekeh mendengar perkataan Kalina.
"Ko gitu?"
"Lin, Kelly adalah sepupu jauh aku, sebelum kami menikah. Dia sering datang ke-rumah karena Mamah yang memintanya, awalnya aku pikir Mamah hanya mengundangnya karena dia adalah anak dari saudaranya, tapi nyatanya perjodohan itu sudah dia rencanakan. Selama hidupku, aku tidak pernah tertarik pada wanita, selain dirimu."
Heh, harus kah Kalina senang dengan ucapan Kevin?
Bagaimana tidak senang, coba bayangkan ada laki-laki tampan, kaya raya, yang se-umur hidupnya hanya tertarik pada satu wanita, rasanya sulit di percaya.
__ADS_1
"Dulu, kenapa kau memutuskan ku tanpa sebab? Kau tahu betapa hancurnya hatiku, Lin. Kau menghindari ku, bahkan kau tidak menjawab saat aku sapa."
"Itu sudah bertahun-tahun Vin, kenapa kamu masih mengingatnya?" Kalina mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Jangankan hal itu, aku ingat semua tentangmu, bahkan perasaanku untukmu tidak pernah berubah, katakan padaku kenapa kamu tiba-tiba minta putus?" desak Kevin.
"Sama seperti hal nya sekarang, lihat dirimu dan lihat aku, kau memiliki segalanya Vin, hidupmu sempurna. Sedang aku, bahkan orang tua pun tak punya, seandainya panti asuhan tidak mau menampungku, mungkin aku tidak akan hidup sampai saat ini."
"Lin, harta bukan sebuah patokan, harta tidak mampu membeli cinta atau kebahagiaan, faktanya meski hidupku bergelimang harta aku tak bahagia sama sekali, yang aku ingat hanya kamu. Aku rela kehilangan segalanya, kecuali kamu." Kalina tertegun mendengar penuturan Kevin, ternyata begitu besar cinta pria ini untuknya, tapi dia sendiri tak yakin perasaan apa yang dia miliki untuk Kevin.
Perasaan terbesarnya untuk Kevin saat ini, adalah rasa takut. Kalina takut cinta Kevin yang terlalu besar justru akan membawa kehancuran dalam hidupnya, Kalina menyadari Kevin ingin mengurungnya di rumah ini dia ingin menjadikan Kalina milik dia sepenuhnya, dia ingin mengurung Kalina di dalam sangkar emas.
"Vin, meski harta bukan patokan kebahagiaan, tapi faktanya tak punya uang pun tak bahagia, buktinya aku, aku hidup untuk mencari uang. Adik-adik di panti asuhan membutuhkan uang dariku, tapi sekarang aku sudah tidak bisa bekerja, apa yang akan mereka makan nanti?"
"Kamu tidak usah bekerja apa pun lagi, aku yang akan membiayai panti asuhan atas namamu, kau hanya perlu hidup dengan baik di rumah ini, sisanya biar aku yang urus."
"Vin, apa ini tidak terlalu berlebihan? Kamu tidak adil pada Mbak Kelly, dia juga istrimu."
"Apanya yang tidak adil? Dia sudah aku fasilitasi, hidupnya tidak kekurangan uang, dimana letak ketidak adilan-nya?"
"Kasih sayang-mu Vin, semua orang dapat melihat, bahwa kamu terlalu memanjakan ku, aku takut ini akan menjadi Boomerang dalam hidupku."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu takut pada siapa pun, kamu adalah Istriku, perintah-mu adalah perintahku, di rumah ini suaramu tidak lebih rendah dari suara ku, kau bebas melakukan apa pun."
Kalina mengangguk dia tak ingin berdebat lagi dengan Kevin, mungkin memang merubah pikiran pria ini membutuhkan waktu yang cukup lama.