Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 19 - Penjara!


__ADS_3

Brak...!!


Kevin membanting pintu dan menghempaskan Kalina ke ranjang.


"Sepertinya aku sudah terlalu memanjakan mu Lin, hingga kamu kini berani memberontak," Kalina mendengus kasar, sembari membuang muka.


"Lin, jangan menguji kesabaran-ku, sungguh aku tak ingin menyakitimu," Kevin berjongkok di hadapan Kalina, entah mengapa terbersit rasa takut di hati Kalina terhadap Kevin.


Kevin tersenyum pelan, "kau takut padaku Lin? Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu sayang, aku sangat mencintaimu," Kevin meraih tangan Kalina menatap cap bekas tangannya, dan menciumnya pelan.


"Maafkan aku Lin, aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya takut kau meniggalkan-ku, aku takut Lin, aku ketakutan," Kevin menunduk dalam.


Kalina hanya diam saja masih enggan menoleh pada pria yang kini jadi separuh jiwanya, "Lin," Kevin menaruh kepala di pangkuan Kalina, "maaf aku harus melakukan ini padamu!"


Kalina mengernyitkan dahi, namun suara ketukan pintu membuat Kevin seketika bangkit, "masuklah!" perintahnya.


Pintu pun terbuka, menampakan dua orang pria membawa besi juga alat-alat yang lain, "apa ini Vin?" Kalina tampak bingung.


"Maaf Lin, aku melakukan ini demi kebaikan kita."


"Kamu sudah gila Vin, kamu ingin memenjarakan-ku? Lepas, aku ingin keluar!" teriak Kalina histeris, kini dia mulai menyadari bahwa menikah dengan Kevin adalah pilihan yang salah.


"Aku tidak ingin di kurung Vin, aku ingin pulang," lirih Kalina, sambil meronta dalam dekapan Kevin.


"Maafkan aku sayang," Kevin mencium pucuk kepala Kalina.


Tak butuh waktu lama, semua besi pun sudah rapi terpasang di jendela, kini Kalina hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


Hari-hari dia lalui di dalam kamar ini lagi, perlahan senyuman memudar di wajah gadis itu, saat Kevin datang Kalina langsung pura-pura tertidur, meski laki-laki itu berusaha mengajaknya bicara, Kalina enggan menggubrisnya. Bahkan Kevin merampas benda paling berharga dalam hidupnya, benda yang menjadi penghubung antara dia dan Ibu asuhnya.


"Lin sayang, kamu sudah tidur?" Kevin menyentuh pundak Kalina, sudah beberapa hari sejak kejadian itu Kalina mendiamkannya.

__ADS_1


"Bicaralah," lirihnya, namun Kalina tak menggubrisnya sama sekali. Kevin terdiam, dia menyerah mengajak Kalina bicara, kemudian Ia melingkarkan lengan di pinggang gadis itu mencium rambutnya kemudian tertidur.


Di lantai atas, Kelly duduk sambil menatap kosong gelapnya malam, mendapatkan cinta mau pun kebencian Kevin tak ada satu pun yang membawa keberuntungan, dia melihat jelas seperti apa kehidupan Kalina, meski dia mendapatkan cinta Kevin namun dia kehilangan seluruh kehidupan bahkan kebebasannya. Sedangkan dirinya mendapatkan kebencian Kevin, namun punya kehidupan yang bebas, kehormatan juga kehidupan yang layak, sebetulnya siapa yang menderita disini?


Kalina dengan cinta Kevin? Atau Kelly dengan kebenciannya?


"Kakak Ipar, kenapa kau duduk sendirian disini?" Kenan mendekat dan bergabung bersama Kelly.


"Nan, apa aku terlihat menyedihkan?" tanya Kelly.


"Tidak sama sekali, jika orang lain yang melihatnya. Tapi disini akulah yang ditanya, Kakak Ipar, aku tak ingin banyak berkomentar tentang hubunganmu dengan Kakak, kita sudah tahu seperti apa kegilaannya, mungkin yang paling menderita disini adalah Kalina, aku tahu kau juga sakit hati dengan perlakuan Kakak terhadapmu, tapi apa yang terjadi pada Kalina, menurutku sudah sangat keterlaluan."


"Awalnya aku pikir Kalina adalah wanita yang gila harta, makanya dia menikah dengan Kakak yang statusnya sudah berkeluarga, tapi setelah aku tahu, niatku berubah Kak, aku kasihan padanya dari pada ingin menyingkirkannya aku lebih ingin menyelamatkannya," tambah Kenan.


"Jadi kau sengaja di kirim ke-sini oleh Mamah?" tanya Kelly, yang seketika di angguki Kenan.


"Hem, Mamah menyuruhku mempersulit hidup Kalina, membuat dia tidak betah di rumah ini, kemudian atas kemauannya sendiri dia akan pergi dari hidup Kakak dan Kakak Ipar," Kenan membenarkan.


"Aku tidak tahu Kak, aku bingung harus melakukan apa. Penjagaan di rumah ini sangat ketat, apa lagi kini di lantai bawah terpasang banyak cctv, bahkan untuk sekedar menyapa Kalina pun sekarang sangat sulit. Kakak melarang semua orang masuk ke-kamarnya, kecuali dirinya."


"Si Kevin benar-benar gila, cinta macam apa ini? Dia bukannya menjaganya, tapi ingin menghabisinya, Kalina yang malang." Kelly mengiba, kini dia sadar hidupnya jauh lebih baik dari pada Kalina.


"Nan, sebaiknya kita cari cara untuk membawa Kalina keluar dari kamar itu."


Kenan nampak terkejut, pasalnya dia tahu jika Kelly membenci Kalina, namun saat ini justru kata-kata itu yang muncul dari mulut Kakak Iparnya, "Kakak sudah tidak membenci Kalina?"


"Tidak bisa di bilang tidak benci sih, tapi aku juga seorang wanita, sesama wanita pasti akan mengerti penderitaan wanita lainnya," imbuh Kelly.


"Baguslah, apa Kakak sudah punya rencana?" tanya Kenan antusias.


"Belum sih, tapi aku akan segera mencari cara."

__ADS_1


Dan obrolan itu pun berakhir dengan kesepakatan.


......................


Keesokan harinya, Kelly dan Kenan sudah duduk lebih dulu di meja makan, mereka menanti Kevin keluar kamar. Dan beberapa saat kemudian, Kevin keluar, dengan sebuah troli berisi banyak makanan, sepertinya itu makanan semalam yang Ia bawa untuk Kalina, agaknya gadis itu tak menyentuhnya sama sekali.


"Buatkan makanan yang lain lagi, setiap hari menu makanannya harus berbeda-beda, Nyonya tidak ingin makanan seperti ini!" Dia berucap setengah marah, membuat kepala pelayan Rima mengiakan dengan kepala tertunduk.


Kelly dan Kenan hanya bisa makan sambil terdiam, setiap hari sikap Kevin semakin berubah, dia terlihat stres dan frustasi, mungkin karena dia terpengaruh sikap Kalina. Cekungan di matanya nampak kentara, dia juga terlihat kelelahan.


"Kak, bukan makanannya yang salah, tapi sikapmu lah yang membuat Kalina tidak makan apa pun," Kenan memberanikan diri buka suara.


"Kamu jangan ikut campur, Kalina terkurung di dalam sana karena dirimu. Jika kau tidak mencoba membawanya keluar dari rumah ini, aku tidak akan mengurungnya. Kau membawa pengaruh buruk untuknya. Mengapa sepertinya kau sangat betah tinggal di rumahku, apa ada sesuatu di antara kalian?" tudingnya, membuat Kelly mengepalkan tangan merasa geram.


"Tidak semua orang seperti dirimu Kevin," balas Kelly.


"Apa maksudnya seperti diriku?"


"Tidak papa Kak, abaikan saja. Sebaiknya kau urus Kalina," dalih Kenan, mencoba mengalihkan perhatian Kevin.


Seorang pelayan datang membawa se-troli penuh makanan, dari mulai makanan berat sampai makanan ringan tersedia di sana, begitu pun minuman dengan rasa berbeda-beda. Kevin langsung membawa benda bergerak itu kedalam kamarnya dan kembali menutup pintu.


"Lin, ayo bangun, kamu belum makan sayang." Kevin mendudukkan diri di samping Kalina, mengusap rambut gadis itu yang tampak terlelap.


"Lin!" Kalina tak merespon sama sekali.


"Lina!" Panggil Kevin untuk yang kesekian kalinya.


Dia memaksa tubuh Kalina terlentang, hingga dia dapat melihat wajah gadis itu sepenuhnya.


"Lina!" teriak Kevin lantang.

__ADS_1


__ADS_2