
Kulit wajah Kalina memucat, matanya nampak cekung, tulang pipinya tampak menonjol, tubuhnya lemas lunglai.
"Lina, sayang kamu kenapa?" Kevin tampak panik, dia meraup tubuh Kalina dalam dekapannya.
"Kakak ada apa? Apa yang terjadi pada Kalina?" teriakan disertai gedoran pintu nyaring terdengar.
"Vin buka pintunya!" tambah Kelly, dia ikut panik.
"Kakak!" desak Kenan tak sabar.
Kevin membaringkan kepala Kalina pelan, deru napasnya tak beraturan, tatapan matanya penuh rasa kekhawatiran, dia menyapu air mata yang menerobos sudut matanya, lantas turun. Saat pintu terbuka, tampak wajah panik Kenan dan juga Kelly.
"Ada apa dengan Kalina?" desak Kenan semakin tak sabar, tanpa menunggu jawaban Kevin, Kenan menerobos masuk di ikuti Kelly di belakangnya.
"Astaga Lina, kamu kenapa?" Kenan hendak mendekati tubuh Kalina, namun pergerakannya seketika di halangi Kevin.
"Jangan sentuh dia!" Kevin pasang badan.
Kenan berdecak kesal, "cepat bawa dia ke-rumah sakit," perintah Kenan.
"Tidak, panggil saja dokternya kemari dan itu pun harus perempuan."
"Astaga Kakak, apa kau sudah tidak waras? Lihat keadaannya, kau masih saja memikirkan ego-mu, bawa dia sekarang atau aku yang akan membawanya?!" Tegas Kenan.
Dengan terpaksa Kevin menyetujui keinginan Kenan, dia memangku tubuh Kalina yang lemas tak bertenaga, tubuhnya terasa ringan berat badannya turun drastis dari yang sebelumya kisaran 45 kilo gram, mungkin sekarang hanya sekitar 35 kilo gram saja.
"Kakak kau lihat apa yang telah kau lakukan? Cinta gila-mu itu membuat Istrimu terlihat seperti mayat hidup." Rutuk Kenan, dia menatap Kevin yang tengah mendekap kepala Kalina di kursi belakang, sedang Kelly duduk di kursi depan bersama Kenan.
__ADS_1
"Diam Kamu!" bentak Kevin tak terima dirinya di salahkan.
"Cih, dasar brengsek!" seumur hidupnya baru kali ini Kenan berani mengatai Kakaknya sendiri, sungguh tak dapat di percaya.
Mobil mereka masuk parkiran rumah sakit, dengan segera Kevin memangku tubuh Kalina membawanya ke pembaringan, "suster tolong Istri saya, dia pingsan!" Kevin tampak panik.
"Apa yang terjadi dengan istri anda kenapa dia bisa pingsan?" suster itu memicingkan mata, tentu dia menebak kemungkinan yang terjadi melihat kondisi Kalina yang memprihatinkan.
"Suster nanti saja bertanya-nya, cepat rawat Kakak Ipar saya!" desak Kenan dengan tampang kesal.
"Baiklah!" Suster mendorong blangkar tempat Kalina di baringkan.
"Tunggu Suster," Suster itu berhenti sejenak menunggu kata-kata yang akan terlontar dari bibir Kevin, "Saya ingin Dokter wanita yang merawat istri saya."
Kenan berdecak, "jangan dengarkan dia Sus, cepat bawa Kakak Ipar ke-dalam."
"Dia akan baik-baik saja, duduklah." Ucap Kelly dengan pandangan datar.
"Tentu saja Kalina akan baik-baik saja, tak-akan terjadi apa pun padanya!" Kevin meninggikan suaranya, maksud baik Kelly di salah artikan oleh pria gila ini.
Kelly kembali mengatupkan rahangnya, nampaknya lebih baik membisu dari pada harus mengatakan kata-kata penghibur untuk Kevin.
"Kak, dari pada Kakak mondar-mandir gak jelas lebih baik renungkan kesalahan Kakak," ucapan Kenan seketika membuat Kevin menoleh.
"Apa maksudmu, kesalahan apa yang aku buat?" Kevin menatap garang.
"Hah, jadi Kakak pikir mengurung Lina dalam kamar selama berhari-hari bukan sebuah kesalahan?"
__ADS_1
"Panggil dia Kakak Ipar!" bentak Kevin, membuat beberapa pasang mata menoleh seketika pada mereka.
"Kenan, jangan memicu pertengkaran, ini di rumah sakit," desis Kelly. Kenan menekan amarahnya dia membuang muka ke-arah lain.
"Mengapa kau sangat peduli terhadap istriku, apa jangan-jangan kau menyukainya?"
Kenan sudah membuka mulut untuk mendebat Kevin, namun niatnya itu seketika terhenti karena ucapan Kelly, "kalian bisa diam tidak? Ini rumah sakit, jika kalian ingin ribut pergi keluar sana!" tegas Kelly, membuat kedua pria itu seketika bungkam.
Seorang Dokter wanita keluar dari rungan tempat Kalina di periksa, degan segera Kevin bangkit dan menyuguhkan dokter itu dengan berbagai pertanyaan, "dokter bagaimana keadaan Istri saya? Dia baik-baik saja, kan? Apa boleh saya menemuinya?"
"Istri Bapak baik-baik saja, dia mengalami anemia dan kekurangan nutrisi, setelah di infus keadaannya akan lebih baik. Oh ya maaf, jika saya sedikit tidak sopan, apa Istri anda mengalami tekanan batin? Penurunan berat badan secara drastis, mungkin itu di sebabkan oleh tekanan berat yang di alami pasien, saya sarankan perbanyaklah mengajaknya bicara atau jalan-jalan, itu akan memberi pasien penenangan, saya takut jika ini terus berlanjut, Istri anda akan mengalami depresi."
Ucapan sang dokter amat menohok jantung Kevin, dialah penyebab Kalina jadi seperti ini, "ba-baik dok, saya akan turuti saran dokter."
Kenan tertawa sinis, dia merasa puas karena dokter mengatakan itu pada Kevin, "kau dengar apa yang dokter katakan, jika masih kurang jelas, biar aku yang perjelas."
"Kenan cukup, jangan jadi kompor!" tegur Kelly.
Kevin terduduk dengan wajah menunduk menghadap lantai, "jadi semua ini karena aku, Lina sakit gara-gara aku, sial," keluhnya sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Vin, mencintai seseorang itu tidak salah, tapi cinta yang berlebihan juga bisa berakibat fatal," ucap Kelly tenang. Kini dia sudah mampu menguasai dirinya, cintanya untuk Kevin entah sejak kapan mulai memudar.
Kini hatinya terasa kosong, namun tenang. Bara api yang semula selalu menyala kala menatap Kevin dan Kalina bersama perlahan padam, hanya menyisakan abu hangat, bukan lagi kecemburuan yang hadir namun rasa iba.
"Masuklah dan temani dia, aku dan Kenan akan pergi mencari minum." Kelly menepuk pundak Kevin memberi sedikit penyemangat untuk pria itu.
Ceklek...!!
__ADS_1
Kevin memasuki ruangan dengan langkah pelan, dia mendekati pembaringan Kalina dengan tatapan penuh kesedihan, dia mendudukkan diri di kursi samping ranjang, "Lin, aku minta maaf, semua orang bilang sikapku terlalu berlebihan. Kamu jadi begini gara-gara aku," lirihnya pelan, dia meraih tangan pucat Kalina lantas menciumnya.