
Kevin berjalan keluar kamar dengan wajah sumringah, suara keributan dari arah luar mengalihkan atensinya. Langkahnya mengarah ke tempat keributan terjadi.
"Ada apa ini?" tanyanya pada beberapa orang pemicu keributan tersebut.
"Maafkan kami Tuan, kami sudah menggangu waktu anda," Ucap Bu Rima merasa bersalah, "cepat minta maaf dan akui kesalahan kalian," tegasnya pada dua orang pelayan wanita yang tengah menunduk di hadapan Kevin.
"Maafkan sa-saya Tuan, sa-saya memecahkan guci yang ada di ruang tamu, ta-tapi sungguh saya tidak sengaja." Ucapnya mengakui dengan kepala tertunduk.
"Sekarang kamu!" bentak Bu Rima pada pelayan yang satu lagi.
"Sa-saya tidak lari Tuan, sa-saya sudah meminta ijin Nyonya ke-dua untuk pulang sebentar, karena Ibu saya sakit keras." Ucapnya sambil terisak.
"Hanya itu?"
Diluar dugaan Kevin tidak marah sama sekali, sikapnya begitu tenang, "Bu Rima biarkan saja mereka, untuk kamu kembalilah ke-rumah mu, jika Ibu mu sudah sembuh barulah kembali bekerja, berikan uang gaji tiga bulan ke-depan dan uang santunan untuk Ibunya." Ucapan terima kasih tak henti-hentinya keluar dari mulut pelayan itu, begitu pun dengan Bu Rima, jujur dia merasa bingung kenapa sikap Tuannya itu begitu murah hati tak seperti biasanya.
Kenan berdiri mengintip dari sudut tembok, memperhatikan apa yang Kakaknya tengah lakukan, Kelly datang menghampiri dia ikut menatap sejurus.
"Kamu liatin apa, Nan?" tanyanya penasaran.
"Kakak Ipar. Itu Kak, Bu Rima marahin pelayan yang bikin kesalahan, tapi malah di maafin sama Kakak plus di kasih bonus juga." Terang Kenan sambil mengunyah apel merah yang di di genggamnya.
"Tumben, biasanya dia paling sensitif kalau urusan rumah." Ujar Kelly menilik penasaran.
"Iya makanya aku heran Kak, kayanya mood Kakak seharian ini bakalan bagus deh. Coba aku minta hp baru di kasih gak ya," Kenan ingin menguji peruntungannya.
"Coba aja!" Kelly melipat tangan di dada.
"Hay Kak," sapa Kenan saat dia berpapasan dengan Kevin.
__ADS_1
Kevin menilik penampilan Kenan dari ujung kepala sampai kaki, "ada apa Kak?" tanya Kenan bingung.
"Kamu pake baju ginian di rumah? Gak gerah?" tanya Kevin mengomentari penampilan Kenan. Dia saat ini mengenakan celana jeans, kaus serta baju kemeja yang seluruh kancingnya terbuka.
"Penampilan aku emang gini Kak, aku udah biasa. Kakak baru nyadar," Kenan terkekeh.
Kevin hanya mengangguk-anggukan kepalanya dia hendak berlalu, "eh Kak!" panggil Kenan ragu.
Kevin kembali menoleh, "apa?!" desaknya tak sabar.
"Handphone aku rusak, Kakak bisa kasih aku duit gak, buat beli yang baru?" tanya Kenan dengan hati-hati.
"Kalau mau duit itu kerja, kamu ini sudah dewasa sudah saatnya perusahaan cabang aku serahkan padamu."
Seketika Kenan menolak, "jangan dulu lah Kak, baru aja aku lulus kuliah aku masih ingin menikmati hidup, beri aku waktu satu tahun." Pinta Kenan.
Kevin mendengus kesal, "terus gimana Kak sama hp barunya?"
Kenan bersorak senang, "makasih Kak, semoga Kakak makin sukses!" teriak Kenan mendoakan, namun tak di gubris Kevin dia pergi tanpa menoleh kembali.
Kelly mendekat, "kayanya ada sesuatu deh yang bikin suasana hati Kevin bagus hari ini."
"Bukankah kalian semalam tidur bareng, mungkin karena itu." Tebak Kenan, yang seketika mendapat pelotottan Kelly.
"Tidur bareng apaan, aku belum tidur dia udah kabur dan gak balik lagi. Lagian dia tidur di sopa, dan aku ngobrol sama Riko." Ucap Kelly.
"Riko, temen kampus kalian itu?" tanya Kenan.
Kelly mengangguk mengiakan, "ngapain Kak? Kakak kan tahu dia suka sama Kakak?" Kenan nampak tak suka.
__ADS_1
"Aku tahu dan Kevin juga tahu. Nan, mungkin sudah saatnya aku menjalani hidupku sendiri, kamu tahu seperti apa kehidupan pernikahan kami kan, Aku selamanya tak punya tempat sama sekali di hati Kevin, dari pada terus bertahan dalam kisah cinta sepihak, lebih baik aku mencoba membuka hatiku untuk orang yang memang mencintaiku." Ujar Kelly.
Kenan menghela napas berat, "apa pernikahan kalian memang sudah tidak bisa di selamatkan?"
"Menurutmu? Aku rasa kau sudah bisa melihat segalanya, Nan. Sejak awal Kevin menikahi-ku karena terpaksa, jika bukan karena aku yang menjebaknya mana mungkin dia mau menikah denganku." Kelly tersenyum lirih.
Kenan mengangguk mengerti, dia tahu betul sifat Kevin yang keras kepala, dia juga tahu sifat bucin Kakaknya yang jika sudah mencintai maka dia akan sulit berpaling ke-lain hati.
Dering telpon mengalihkan atensi Kenan, dia menatap layar gawai-nya menilik nama yang tertera di sana, "halo Mah," ucap Kenan pada telponnya.
"Nan, bagaimana tugas yang Mamah berikan padamu, apa sudah selesai?" tanya dia yang Kenan panggil Mamah dari sebrang telpon.
"Emh, masih belum Mah. Mah, kenapa kita tidak biarkan saja Kakak bersama Kalina, aku lihat dia wanita yang baik, dan terutama Kakak sangat mencintainya." Ucap Kenan yang seketika mendapat semprotan dari sang Mamah.
"Apa kamu bilang, Kalina? Kamu memanggil nama Pelakor itu dengan namanya, dengar ya Kenan, sampai kapan-pun Mamah tidak akan menerima wanita selain Kelly yang menjadi menantu Mamah, camkan itu! Mamah kasih kamu waktu satu bulan lagi, jika dalam satu bulan kamu belum bisa membuat Pelakor sialan itu keluar dari rumah Kevin, Mamah sendiri yang akan turun tangan. Mamah tidak peduli meski Kevin akan membenci Mamah sekali pun, yang pasti kehormatan keluarga kita harus tetap terjaga." Ucap Mamah panjang lebar.
"Mah--," Kenan hendak membantah, namun sambungan telponnya langsung terputus saat itu juga.
Kenan berdecak kesal, "Mamah dan Kakak sama-sama keras kepala, entah kenapa meski mereka bukan Ibu dan anak kandung tapi sifatnya sama-sama keras kepala."
Kelly terdiam, sejak awal dia tahu keberadaan Kenan di rumah ini bukan semata-mata karena di usir dari rumah.
Kenan menghela napas, dia mengacak rambutnya frustasi, "kenapa aku harus berada di tengah-tengah kekacauan rumah tangga kalian sih. Mungkin setelah ini aku akan trauma dan tidak akan mau menikah." Keluh Kenan.
"Heh, aku tidak memintamu mengurusi pernikahanku dengan Kevin, tapi aku cukup bersyukur karena kalian masih memilihku sebagai menantu di banding Kalina." Kelly tersenyum puas.
...----------------...
Kalina keluar dari kamar, langkahnya Ia atur agar tidak terlalu aneh, dia berjalan menuju ruang makan. Kevin sudah tampak duduk disana, sedang Kenan dan Kelly baru sampai seperti dirinya. Kenan dan Kelly menatap aneh pada Kalina, yang di tatap seketika langsung salah tingkah.
__ADS_1
"Kamu pakai pakaian begitu di cuaca panas begini, Lin?" Kenan buka suara, membuat semua yang hadir menatap kearahnya, tak terkecuali Kevin dan Bu Rima yang tengah menghidangkan makanan di meja.