Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 40- Cemburu Lagi


__ADS_3

Cekitt...


Aduh, "Vin, kamu apa-apaan sih ngerem tiba-tiba?" keluh Kelly sembari mengusap dadanya yang sesak karena terkejut.


Bukannya menjawab Kevin malah mengepalkan tangan menahan amarah, dia menatap lurus ke-depan.


"Kamu liat apa sih?" Kelly menatap sejurus, tatapannya berakhir pada dua sosok laki-laki dan perempuan yang tengah makan bersama di pinggir jalan.


"Ck, wanita itu," decak Kelly, "mau aku yang menyeretnya?" tawar Kelly, dia hendak beranjak turun.


Namun Kevin mencegahnya, "tidak biar aku saja." Dia melepas sabuk pengamannya lantas turun.


Brak...


Suara pintu mobil di banting cukup keras, membuat Kelly dan beberapa orang di sekitar terlonjak saking terkejutnya.


Langkah Kevin semakin mendekat, agaknya Kalina tak menyadari kedatangannya, dia masih asik membahas masalalu dengan Abran, dia juga bertanya tentang kehidupan Abran setelah dia di adopsi.


"Bang, baksonya lima porsi, yang pedes!" Suara itu menghentikan suapan Kalina, dia mendongak menatap orang yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.


Mata Kalina melebar sempurna, uhuk..., hampir saja dia tersedak bakso yang belum sempat di kunyah-nya.


"Tuan Kevin, saya kira anda tidak suka jajanan pinggir jalan?" Ucap Abran seraya berdiri menyapa Kevin.


"Siapa bilang saya suka jajanan pinggir jalan? Saya beli ini untuk kalian, makanlah sampai kenyang," Kevin tersenyum seraya duduk.


"Hah, untuk kita? Sebanyak ini?" Abran terperangah menatap lima mangkuk bakso yang baru saja tiba di mejanya.


"Ta-tapi pak, ini terlalu banyak, saya dan teman saya sudah makan barusan," jawab Abran tak enak hati.


"Aah, jadi kalian berteman," Kevin tersenyum pada Kalina. Namun wanita itu tak mampu menatap Kevin lebih dari tiga detik.

__ADS_1


"Iya kami sudah berteman sejak kecil, tapi kami baru bertemu lagi beberapa waktu terakhir," jawab Abran seraya menunduk dengan senyum manis tersungging di bibirnya.


"Oh kalian baru bertemu lagi ternyata, selamat kalau begitu," Kevin tersenyum sinis, "ayo di makan bakso-nya nanti keburu dingin."


Walau enggan Kalina dan Abran terpaksa mencicipi bakso tersebut walau perut mereka sudah terasa penuh.


"Tuan Kevin sudah kenal Kalina pasti, dia bekerja di rumah Pak Kevin sebagai pelayan, Ia kan Lin?"


"Hah? Ah I-iya," jawab Kalina gugup.


"Benarkah? Kenapa aku tidak ingat ada pelayan bernama Kalina di rumahku," jawab Kevin dengan pandangan tak putus menatap Kalina yang terus saja menghindari tatapan Kevin.


"Ya mungkin karena pelayan di rumah Bapak cukup banyak, jadi bapak tidak bisa ingat satu persatu nama dan wajah mereka." Ujar Abran.


"Bukannya aku tidak bisa mengingat nama dan wajah para pelayan ku, tapi memang tidak ada nama dan juga wajah ini yang jadi pelayan di rumahku," geram Kevin mulai kesal, dia sengaja terus mengulur waktu agar Kalina sendiri yang mengatakan pada Abran bahwa dia bukan pelayan, melainkan Istri dari Kevin sendiri.


Hah? Abran tampak kebingungan, dia melirik Kalina yang duduk di sampingnya.


"Lin, mau aku yang katakan, atau kamu sendiri?" tanya Kevin.


Kalina menghela napas berat, "Ban, sebenarnya... Kevin adalah suamiku." Ucap Kalina.


"Su-suami? Kamu dan Tuan Kevin, su-sudah menikah? Tapi, bagaimana bisa, bukannya Tuan Kevin sudah punya Istri?" Abran bangkit seketika, dia menatap tak percaya pada Kalina.


"Dia Istri ke-dua ku!" Jawab Kevin puas.


"Hah, kamu gila Lin! Apa Ibu tahu soal ini?"


Kalina menggeleng keras, "tidak Ban, aku mohon jangan beritahu Ibu soal ini, kamu tahu Ibu sangat membenci seorang pelakor, kalau beliau tahu aku begini beliau pasti akan sangat kecewa, dan aku tidak siap menerima kemarahannya."


Kevin bangkit dan mencekal tangan Kalina, "ayo kita pulang, selebihnya kita bicarakan lain waktu, dan untuk kamu Dokter Abran, meski-pun kamu adalah teman lama Kalina, saya harap kamu menjaga jarak dengannya mulai sekarang, karena selamanya tidak akan ada kesempatan bagimu!"

__ADS_1


"Kevin, kamu apa-apaan sih!" Tegur Kalina dengan wajah kesal, dia tak enak hati pada Abran.


"Ma-maafkan aku Ban, aku pergi dulu." Kalina menarik Kevin menjauh dari tempat itu.


"Kamu apa-apaan sih Vin, kenapa kamu bicara begitu sama Aban, kamu kan tahu kami hanya berteman!" Keluh Kalina.


"Aban, Aban, Aban! Kenapa kamu selalu memanggil orang lain dengan begitu mesra Lin, kamu tahu aku tidak suka itu, aku benci saat kamu memanggil nama orang lain dengan bibirmu dengan begitu akrab!"


"Astaga Kevin, Aban itu memang panggilan dia, semua orang di panti asuhan memanggil dia begitu," Kalina merasa lelah dengan kecemburuan dan sikap posesif Kevin.


"Tapi aku tidak suka saat kamu memanggil dia begitu!" Bentak Kevin dengan mata melotot, "kamu tidak menyadari bahwa dia menyukaimu, kamu terlalu bodoh untuk menyadari tiap orang yang menyukaimu, Lin. Kamu selalu begitu, kamu membuat diriku tidak tenang."


Kalina mendengus kesal, "bukan aku yang membuatmu tidak tenang, Vin. Tapi pikiran kamu sendiri, kamu yang selalu tidak percaya padaku, kamu yang selalu curiga pada semua orang, aku lelah dengan itu." Kalina bersandar ke-mobil dengan tangan terlipat di dada.


Tiba-tiba kaca mobil terbuka, menampakan wajah Kelly yang tampak malas, "apa sudah cukup bertengkar-nya? Bisa kita pulang sekarang?"


Kevin membuang muka kearah lain, "maafkan aku Mbak, Mbak harus menyaksikan hal seperti ini." Kalina mengusap air mata yang tak sengaja menetes tanpa Ia sadari.


Tanpa di persilahkan Kalina masuk dan duduk di jok belakang mobil Kevin, dan Kemudian Kevin pun menyusul.


Abran yang belum beranjak dari tempatnya tadi, hanya bisa diam menyaksikan pertengkaran antara Kevin dan Kalina, dia menghela napas berat seraya bangkit kembali.


"Mas ini baksonya gimana?" tanya sang penjual yang tampak bingung dengan pelanggannya yang barusan, dia memesan banyak namun tak di cicipi sama sekali.


"Terserah Abang aja mau di apain." Jawab Abran tampak enggan.


"Tapi ini udah di bayar sama Mas yang tadi, apa mau saya bungkus kan?" tanyanya lagi.


"Gak usah Bang, mau di buang atau di kasiin ke-orang lain terserah Abang aja." Abran melenggang pergi tak menengok kebelakang lagi.


...----------------...

__ADS_1


Kalina menjejakkan kakinya di pelataran rumah Kevin, rumah megah dan mewah, namun tak ubahnya seperti penjara bagi Kalina. Cinta Kevin yang selalu mengekangnya membuat dia sesak seakan sulit bernapas. Baru saja Kalina merasakan manisnya cinta, namun Kevin kembali merusaknya dengan sikap cemburunya yang berlebihan membuat Kalina kesal.


Kenan berjalan dengan cepat menghampiri Kalina, "Lin kamu--," ucapan Kenan seketika terhenti kala melihat Kevin berdiri di belakang Kalina, pun dengan langkahnya, seakan tembok penghalang tiba-tiba berdiri di tengah-tengah antara dia dan Kalina.


__ADS_2