Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 57 - Siapa pelakunya?


__ADS_3

Sesampainya di sana, Kalina langsung menyeruak masuk, dia meninggalkan Kenan di belakangnya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Kevin.


"Ya Tuhan, Kevin semoga tidak terjadi apa pun padamu," gumam Kalina di iringi langkah cepat setengah berlari.


"Lin, ruangan Kakak di sebelah sini!" Kenan meneriakinya. Tanpa pikir panjang Kalina putar arah dan menuju arah Kenan menunjuk.


Brak...!! Kalina membuka pintu seketika, membuat orang-orang yang tinggal di dalamnya tampak terkejut melihat kedatangan mereka. Kalina tak peduli dengan tatapan aneh yang orang-orang layangkan padanya, pandangannya teredar ke setiap penjuru mencari keberadaan Kevin.


"Maaf, kalian mencari siapa ya?" tanya seorang suster yang tengah merawat pasien.


"Kami mencari pasien atas nama Kevin Alterio, yang mengalami kecelakaan mobil." Kenan yang menjawab.


"Oh pasien yang itu, dia sudah di pindahkan ke ruang rawat."


"Ruangan yang mana? Tolong cepat katakan?!" desak Kalina tak sabar.


"Kalian jalan lurus ke arah sana, kemudian belok kiri, dia di rawat di ruangan nomor 109." Jelas sang suster, Kenan yang mengucapkan terimakasih, sedang Kalina dia langsung saja berlalu tanpa pamit.


Kalina menemukan ruangan tersebut, lantas masuk, tampak Kevin tengah tertidur, pelipisnya tampak terbalut perban, pun dengan lengan kirinya. Kalina berjalan perlahan mendekati ranjang tempat Kevin terbaring.


"Maafkan aku Vin, seharusnya aku mencegahmu pergi, aku tidak mempertimbangkan kalau kamu kelelahan, maafkan aku," lirih Kalina, dia menggenggam jemari Kevin yang terlihat memiliki beberapa luka.


"Lin, aku akan tunggu di luar," ucap Kenan, setelah dia memastikan Kalina menemukan kamar yang benar, lantas Ia pun menutup pintu, membiarkan Kalina menemani Kevin sendirian.


Kalina menundukkan kepala, dengan air mata yang terus saja mengucur tanpa mau berhenti, Kalina merasai ada sesuatu yang menyentuh kepalanya, refleks Kalina mendongak, ternyata itu lengan Kevin.

__ADS_1


"Vin, kamu udah sadar?" pekik Kalina, dia merasa lega karena Kevin ternyata baik-baik saja.


"Aku tidak pingsan, aku hanya tidur karena mengantuk," ujarnya, dia berusaha bangkit dan mendudukkan dirinya, punggungnya ia sandarkan ke kepala ranjang.


"Sudah jangan menangis, aku baik-baik saja," Kevin menyeka air mata di pipi Kalina menggunakan Ibu jarinya, "aku senang melihatmu menangis untukku Lin, aku pikir kamu sudah tidak peduli lagi," ujarnya dengan tatapan lembut.


"Maaf, karena selama ini aku terlalu egois, aku pikir dengan aku pergi kehidupan kamu akan membaik Vin, aku tidak ingin menjadi penghancur kehidupan orang yang aku cintai," lirih Kalina.


"Kamu bukan penghancur, justru karena kepergianmu hidupku yang hancur Lin. Meski tanpa kehadiran kamu sekali pun, kehidupan aku dan Kelly tak pernah bisa membaik, aku tidak pernah mencintainya Lin. Jika memang syarat untuk bersamamu adalah dengan melepaskan segalanya yang aku miliki, itu tidak masalah, kita bisa memulainya kembali dari awal."


"Kamu benar, mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu meski apa pun yang terjadi. Aku akan menceraikan Kelly secepatnya dan kita bisa pergi dari tempat ini." Kevin membawa Kalina dalam dekapannya.


"Tapi Vin," Kalina mendorong Kevin perlahan, "aku tidak berani mengatakan ini pada Ibu, aku takut," ujar Kalina.


Ceklek... Pintu pun terbuka, menampakkan dua orang pria berseragam lengkap, "maaf, kami ingin meminjam waktu kalian sebentar, kami butuh keterangan dari Pak Kevin soal Kecelakaan yang terjadi, kami menduga ini di sengaja, melihat dari cara Anda tertabrak dari arah belakang," ujar salah satu polisi tersebut, membuat Kalina dan Kevin saling pandang satu sama lain.


"Baiklah, saya bersedia Pak, silahkan tanyakan apa pun pada saya, saya akan menjawabnya dengan jujur." Jawab Kevin yakin.


"Baiklah, apa Anda ingat dengan kecelakaan yang terjadi pada orang tua anda? Kecelakaan yang menewaskan Ibu anda?" Kevin mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan perkataan orang ini.


"Kecelakaan kalian hampir sama, sebuah truk yang di gunakan untuk menabrak kalian dari arah belakang, ide ini hampir sama seperti dulu." Jelasnya.


"Benarkah, saya tidak tahu Pak. Saya pikir ini hanya kecelakaan lalu lintas biasa, soalnya tadi saya mengantuk dan mengemudikan mobil cukup pelan, saat saya hendak menepi tiba-tiba Truk itu menabrak saya dan menyeret mobil saya, beruntung saya masih baik-baik saja." Penjelasan Kevin membuat Kalina meringis mendengarnya.


"Apa anda mencurigai seseorang sebagai pelakunya? Atau anda punya musuh?" tanya sang polisi yang hanya di tanggapi gelengan kepala oleh Kevin, sejujurnya satu nama terlintas di benak Kevin, tapi dia tidak ingin menuduh seseorang tanpa bukti.

__ADS_1


"Baiklah, hanya itu yang ingin kami tanyakan, semoga anda lekas sembuh, kami permisi dulu. Sebaiknya untuk sekarang, anda tetap berada dalam pengawasan kami, mungkin saja pembunuh itu memang dengan sengaja mengincar nyawa anda." Ujar sang polisi, membuat raut cemas nampak kentara di wajah Kalina.


"Vin, kamu di incar pembunuh? Kamu punya musuh?" kini giliran Kalina yang mengintrogasi Kevin.


Dia mendengus pelan, dia tersenyum tenang, "dia tidak akan membunuhku Lin, walau bagaimanapun aku masih menjadi asetnya, mungkin ini ia tujukan sebagai peringatan untukku."


"Apa maksudmu? Apa sebenarnya kau sudah tahu siapa pelakunya?" Kalina melebarkan matanya, lagi-lagi pertanyaan Kalina hanya di balas senyuman oleh pria itu.


"Sudahlah, jangan di pikiran lagi, bagaimana kondisi bayi kita di dalam perutmu, apa sudah ada pergerakan?" Kevin mengalihkan pembicaraan.


"Belum, dia baru masuk sepuluh minggu, jadi dia belum bisa bergerak. Tapi Vin, aku khawatir dengan keselamatanmu, jangan-jangan nanti dia datang kemari pura-pura jadi dokter dan melukaimu." Ucap Kalina terdengar serius.


Bhaha, seketika Kevin tergelak, dia tidak menyangka Kalina akan berpikir hingga kearah sana, dia menyeka sudut matanya yang berair, "kita bukan sedang suting film Mafia Lin, mana mungkin mereka datang kesini tanpa di ketahui polisi, lagi pula banyak kamera CCTV disini. Dan aku bukan orang yang penting hingga mereka sangat ingin membunuhku." Namun kemudian dia terdiam, sambil tersenyum pelan.


"Tapi tidak ada salahnya kalau kita berjaga-jaga, kita tidak tahu niat orang lain." ujar Kalina.


"Baiklah, terserah kamu saja. Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku dan Kenan akan bergantian menjagamu, selama kamu tidur. Sekarang tidurlah lagi, kamu pasti sangat kelelahan, aku akan berada disini."


"Baiklah Istriku, aku tidur dulu. Jangan terlalu memaksakan diri, jika sudah lelah tidurlah juga. Diluar ada polisi yang berjaga, jangan terlalu khawatir." Kevin mengusap lembut pipi Kalina. Wanita itu hanya mengangguk mengiyakan.


Kevin perlahan terlelap, sedang Kalina dia masih setia duduk di sampingnya.


'Sebenarnya siapa orang yang tidak bisa Kevin sebut namanya? Apa dia Nyonya Gwen?' Kalina melebarkan matanya saat dia memikirkan nama itu.

__ADS_1


__ADS_2