
Kelly mendengus kasar sembari membuang muka ke arah lain, "terserahlah Vin, mungkin kamu benar, semakin cepat semakin baik." Ucapnya pasrah.
"Baiklah, aku akan mempercepat segalanya, aku pergi dulu," Kevin menepuk pundak Kelly sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Kelly menatap nanar punggung Kevin yang perlahan menjauh dari hadapannya.
'Kini segalanya akan segera berakhir, Vin hiduplah dengan baik.'
***
Satu bulan pun berlalu semenjak resminya penceraian Kevin dan Kelly, kini usia kandungan Kalina sudah mencapai lima bulan, perutnya sudah nampak menggembung pun dengan tubuhnya yang sedikit membengkak.
"Aduh Vin, gaunnya kekecilan, masa ia aku pakenya resletingnya kebuka gini," keluh Kalina, pasalnya Kevin membeli gaun itu sendiri dan membeli dengan ukuran Kalina dulu.
"Maaf sayang, aku gak nyangka kamu akan jadi se-gemuk ini," ucapnya sambil menggaruk kepalanya tak gatal.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, aku gemuk?!" Nada suara Kalina seketika meninggi.
"Haish, maaf-maaf aku salah, maksudku kamu lebih berisi," ralatnya.
"Apa bedanya di katain gemuk sama berisi? Kamu jahat Vin, kamu pikir siapa yang bikin aku jadi kaya gini, kamu," isak Kalina pelan.
Kevin jadinya serba salah, jujur salah gak jujur di katain bohong, "iya, iya maaf sayangku, udah jangan nangis, aku bawa lagi beberapa baju yang lain, kamu coba juga ya. Maaf aku gak bisa ngadain acara besar karena kamu tahu kan keadaannya seperti apa."
Kalina menatap wajah Kevin datar, "apa aku pernah minta pernikahan besar Vin? Aku bahkan tidak pernah memintamu menikahiku secara resmi, bagiku hanya dengan bersamamu setiap waktu, itu sudah cukup Vin. Tapi mungkin sekarang sedikit berbeda karena adanya bayi kita, aku butuh pengakuan dari masyarakat, itu saja."
Kevin mencium dahi Kalina, "ya sayang, itu akan segera terjadi."
Kursi pelaminan pun di pasang sangat sederhana, hanya berupa sebuah sopa berwarna coklat dengan buket bunga yang terpasang di belakangnya. Dan acara sakral pun di mulai. Kevin mengucapkan ijab kobul di hadapan semua orang yang menatap mereka berdua penuh haru, hari yang tak pernah mampu Kalina bayangkan akhirnya saat ini dia alami juga.
'Ibu, apa Ibu melihat ini? Kini dia suami sahku Bu, awalnya aku tak berani memperkenalkan dia Bu, karena dia bukan sepenuhnya milikku, tapi sekarang dia hanya akan menjadi milikku seorang, dia suamiku Kevin Alterio.'
__ADS_1
Sah... Teriakkan itu menggema, membuat kata syukur dan doa seketika keluar dari mulut semua orang.
Kevin mencium pucuk kepala Kalina dengan sayang, lalu memakaikan cincin pernikahan di jari manis wanita itu, pun dengan sebaliknya. Dan acara pun berakhir setelah acara makan bersama.
Kevin dan Kalina pun berpamitan untuk kembali ke rumah mereka.
"Pergilah Nak, doa Ibu akan selalu menyertai kalian berdua, hiduplah dengan baik dan jaga bayi kalian dengan baik."
"Iya Bu, aku akan sering menelpon Ibu," ucap Kalina sembari merangkul Ibunya itu.
"Iya Nak, Ibu akan selalu menanti telpon darimu untuk kelahiran cucu Ibu." Kalina tersenyum pun dengan Kevin, dan mereka pun berlalu.
Kepakan sayap merpati mengiringi kepergian keduanya, jalanan yang mereka lewati terasa lenggang dan damai, seakan perasaan sesak yang mengikat dada kini menghilang begitu saja.
*Kalina aku mencintaimu, terimakasih untuk terus bersamaku dan mencintaiku dengan segenap hatimu.
__ADS_1
Terimakasih untukmu juga Kevin, karena tak pernah melupakanku selama belasan tahun. Aku mencintaimu Kevin.
Tamat*.