Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 53- Kalina di temukan


__ADS_3

Kevin diam-diam menyuruh orang mencari keberadaan Kalina, namun sampai sekarang belum ada satupun yang membawa berita tentang keberadaan wanita itu berikut Kenan. Kevin melajukan mobilnya sembarang arah, tanpa terasa dia telah sampai di panti asuhan tempat keluarga Kalina tinggal.


Kevin menghentikan mobilnya di pinggir jalan, menatap nanar bangunan sederhana tempat dulu dia bermain bersama Kalina, tempat ini banyak memiliki kenangan mendalam di hati Kevin.


'Lin, apa sedikit pun kamu tidak ingat kenangan yang pernah terjadi di antara kita dulu? Kalau aku, sampai kapan pun tidak akan pernah melupakannya.' batin Kevin bergumam.


Tuk...Tuk...


Seseorang tanpa Kevin sadari mendekat dan mengetuk kaca mobilnya, ternyata dia Abran. Kevin membuka kaca agar dapat melihat orang tersebut dengan jelas.


"Pak Kevin, sedang apa Bapak disini? Dimana Kalina?" Abran menilik kusi penumpang yang tampak kosong.


Kevin diam tak menjawab pertanyaan yang Abran layangkan padanya, "seharusnya saya yang tanya sama kamu, sedang apa kamu disini?" balas Kevin sengit, masih saja dia mengibarkan bendera perang terhadap Abran.


Abran mendengus senyum, "setelah anda memecat saya dan mengganti saya dengan dokter yang lain, saya tentu harus mencari pekerjaan lain kan," dia terkekeh pelan, "lagi pula saya termasuk anak asuh yang tinggal dan besar di tempat ini dulu sebelum di adopsi."


"Kamu tidak pernah bekerja padaku dan aku juga tidak memecatmu, aku hanya memanggilmu sesekali, tapi setelah aku tahu kamu temannya Kalina aku tidak ingin lagi melihatmu," ucap Kevin malas.


"Oh ya, bagaimana dengan Kalina, apa dia baik-baik saja?" Abran tak menanggapi perkataan Kevin.


"Kamu menanyakan kabar tentang istri orang lain, apa kamu tidak malu?" Kevin mendengus kasar, dia menutup kaca mobil dengan kesal dan melajukan mobilnya tanpa berpamitan sama sekali.


"Dasar menyebalkan, bisa-bisanya aku bertemu dia disini, membuat mood-ku semakin buruk saja." keluh Kevin, dia melajukan mobilnya kembali, entah kemana arah yang dia tuju saat ini Kevin pun tak tahu. Semenjak kepergian Kalina, hidup Kevin terasa hampa bak ruang kosong yang tak berisi.


Dering telepon membuat perhatian Kevin sejenak teralihkan, dia menekan layar gawai tersebut dan menyalakan pengeras suara di ponselnya.

__ADS_1


"Katakan!" ujarnya, pandangannya tetap mengarah ke jalanan.


"Tuan, saya tahu dimana Tuan Kenan berada." Ucapan dari orang itu sontak membuat mata Kevin membola, "kirimkan lokasinya!" ucapnya tanpa ingin berbasa-basi lagi.


"Baik!" sambungan telepon pun terputus, tak lama kemudian muncul notifikasi pesan dan alamat yang di perkirakan adalah tempat Kenan dan Kalina berada saat ini.


Kevin memacu kendaraannya secepat mungkin, bahkan dia tak mempersiapkan apa pun untuk pergi keluar kota, yang ada dalam pikirannya hanya ingin bertemu dengan Kalina. Meski mungkin faktanya wanita itu sendiri yang ingin meninggalkannya, Kevin tak peduli asalkan dia bisa bertemu Kalina apa pun yang terjadi nanti dia tak ingin memikirkannya.


Sepanjang malam Kevin menyetir tanpa henti, hingga kini matahari mulai meninggi, waktu menunjukan pukul 07:30 WIB. Dan akhirnya dia pun sampai di sebuah desa yang rumahnya masih jarang dan cukup berjarak dari rumah satu ke rumah yang lainnya. Di sepanjang mata memandang banyak tumbuh pepohonan yang beragam, ada juga kebun jagung, singkong dan lain sebagainya.


Mobilnya mengundang perhatian anak-anak yang tengah bermain di pinggir jalan, mungkin karena sangat jarang orang memakai mobil seperti ini masuk ke kampung mereka. Kevin memelankan laju mobilnya karena selain banyak anak-anak, jalanan ini cukup sempit dan rusak, banyak jalan yang berlubang dengan selokan yang cukup dalam karena tergerus air hujan. Kevin menghentikan laju mobilnya, saat dia melihat seorang pria kisaran usia 40 han berjalan sambil memanggul cangkul di pundaknya.


"Maaf permisi Pak, saya mau tanya, apa bapak pernah liat orang di foto ini? Namanya Kenan, saya saudaranya." ujar Kevin, Si Bapak menatap curiga, mungkin dia takut Kevin orang yang jahat.


"Saya Kakaknya Pak, saya tidak bisa menghubunginya lewat telepon, jadi saya tidak tahu rumah dia yang mana," tambah Kevin, dia ingin menghapus kecurigaan yang nampak jelas di wajah pria paruh baya itu.


"Iya Kenan yang itu!" ujar Kevin, meski kata Istri yang di sematkan si Bapak dalam kata-katanya membuat hati Kevin terusik dia harus menahannya.


"Mas terus aja lurus, nanti ada rumah dua lantai di ujung jalan ini, itulah rumah Mas Kenan dan sang Istri," ujar sang Bapak.


"Terimakasih Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Kevin berpamitan dengan ramah. Si bapak pun menjawab dengan ramah pula.


"Sialan kamu Kenan, kamu mengenalkan Kalina pada semua orang sebagai istrimu, dasar adik tidak tahu diri." gerutunya kesal, tangan Kevin mulai gatal dan ingin menghajar wajah Kenan sampai babak belur.


Tak butuh waktu lama, mobil Kevin pun sampai di pekarangan sebuah rumah yang di maksud si Bapak tadi, Rumah bercat merah bata yang hampir mengelupas dan sudah berlumut, serta banyak pula tanaman merambat yang mendiami dindingnya, mungkin saja memang sengaja di tanam di sana.

__ADS_1


Bruk...!


Kevin membanting pintu mobilnya cukup keras, hingga seseorang memekik karena terkejut dan kepalanya muncul dari balik tanaman setinggi setengah badannya.


Kevin menatap tajam orang itu yang juga membalas tatapannya, dialah Kalina. Wanita itu keluar dari semak lantas mencuci tangannya yang terlihat kotor karena karena menyentuh tanah.


"Masuklah, aku akan membuatkanmu sarapan, kamu pasti belum sarapan kan," ucap Kalina wajahnya tak nampak terkejut sama sekali.


Kevin bergeming di tempat, "apa hanya itu yang ingin kau sampaikan?"


Kalina kembali menoleh, dan tersenyum pelan, "ayo kita bicara di dalam." Ujarnya, masih menggunakan dengan nada suara yang sama.


Kevin berdecak, namun mau tak mau dia mengikuti langkah Kalina memasuki rumah tersebut.


Tak...Tak...


Suara langkah kaki yang menuruni tangga membuat perhatian Kevin teralihkan, "Lin, apa kamu melihat pakaianku yang di cuci kemarin, aku tidak menemukannya di lemari?" Bibirnya seketika bungkam, saat melihat sosok orang yang ia kenali kini berdiri tepat di hadapannya.


Glek...Kenan menelan saliva-nya, wajahnya pucat pasi bak tak teraliri darah, "bagus, kalian berdua, wah kalian sangat hebat!" Kevin bertepuk tangan, senyuman sinis ia arahkan silih berganti pada Kenan juga Kalina.


"Apa kalian sudah merencanakan ini sejak lama?"


"Aku yang merencanakan ini, Kenan tidak tahu apa-apa Vin," ujar Kalina.


"Kenan tidak tahu apa-apa, benarkah? Aku tidak yakin," Kevin mendelik pada Kenan, sedang pria itu hanya diam saja tak membantah atau pun mengiakan.

__ADS_1


Kevin merubah raut wajahnya, dia berusaha mengabaikan semua yang terjadi, dia memeluk Kalina membawa wanita itu dalam dekapannya, dia memang ingin marah tapi sebisa mungkin Kevin menekannya, Kevin bisa melupakan segalanya asal Kalina bersedia kembali ke sisinya.


"Aku merindukanmu, Lin."


__ADS_2