
Kevin melingkarkan lengan di pinggang Kalina dan menaruh dagu di pundak wanita itu.
"Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Kevin.
"Enggak ko, aku hanya sedang melihat bulan."
"Bulan, mana?" Tanya Kevin sembari membungkuk dengan pandangan menengadah ke atas, "gak ada ko bulannya."
"Emang gak ada," Kalina nyengir kuda.
"Dasar. Oh ya, aku dan Kelly akan segera bercerai, bagaimana menurutmu?" Kevin meminta pendapat.
"Bagaimana apanya?" Kalina pura-pura tidak mengerti, sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Bagaimana perasaanmu, apa kau senang?" Tanyanya lagi.
Kalina berbalik menatap bola mata Kevin, "apa menurutmu aku terlihat senang? Vin, hal ini bukan sesuatu yang akan membuat aku bahagia, disaat wanita lain yang aku ambil suaminya terluka, aku harus tertawa begitu? Aku juga seorang wanita Vin, aku bisa merasakan rasa sakit yang Mbak Kelly rasakan."
Kevin mengepalkan tangannya menekan amarah yang muncul dalam benaknya, dia sangat ingin mendebat Kalina, namun mengingat saat ini Kalina tengah mengandung anaknya, Kevin seketika mengurungkan niatnya.
"Sayang, kenapa kamu selalu membahas itu, kamu tahu benar pernikahan aku dan Kelly itu seperti apa." Jujur Kevin merasa lelah jika harus terus menjelaskan sesuatu yang sudah di ketahui olehnya tanpa henti, dalam setiap pertengkaran terjadi selalu itu saja yang menjadi bahan pembahasan, yang sudah pasti jawabannya pun tetap sama.
"Iya, aku tahu." Tukas Kalina enggan lagi berdebat.
"Kalau begitu jangan di bahas lagi, apa bisa?"
"Akan aku coba." Kalina melepas lengan Kevin yang melingkar di perutnya, lantas berlalu menuju kamar ganti.
"Kenapa sikapnya selalu tiba-tiba berubah, tadi dia tidak papa, wanita memang sulit di mengerti," gerutu Kevin, dia duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselnya, terdapat beberapa panggilan dari Ibunya yang tidak dia angkat, karena dia pergi tanpa membawa ponsel tadi.
Kevin mendengus kasar sembari kembali menaruh ponsel itu ke tempatnya semula.
__ADS_1
"Pasti Kelly sudah mengadu padanya."
Kalina datang dengan pakaian tidur tertutup, dia tidak memakai pakaian tidur yang biasanya Ia kenakan setiap malam, "ko pake baju itu?" Tanya Kevin dengan tatapan heran bercampur kecewa.
"Baju tidur itu tipis Vin, aku lagi hamil aku takut masuk angin pake baju begitu," ucap Kalina, dia membaringkan diri dengan posisi menyamping memunggungi Kevin.
"Kamu mau langsung tidur Lin?" Kevin memberi kode.
"Tidurlah mau ngapain lagi, ini udah malem kamu juga harus tidur." Balas Kalina tanpa menoleh.
Kevin merapatkan diri ke-punggung Kalina dan membisikkan sesuatu ditelinga wanita itu, "Lin, aku ingin...itu."
"Kata dokter jangan terlalu sering melakukannya saat hamil muda, itu bisa membahayakan janin." Balas Kalina yang langsung tahu arti kata-kata Kevin. Kevin mendengus kasar, dia kembali ke posisi semula dan berbaling terlentang.
"Iya, tapi kamu jangan munggungin aku gitu dong, ngadep sini." Ucap Kevin sambil menarik lengan Kalina, membuat tubuh wanita itu seketika tertarik kearahnya dengan posisi menghadap.
Kevin memeluk Kalina membuat kepala wanita itu tenggelam di dadanya, "tidurlah, istriku sayang, mimipi indah." Guamamnya seraya mengecup pucuk kepala Kalina.
***
"Dimana wanita itu?" Suara itu terdengar samar di telinga Kalina.
"Mah tolong jangan begini, Kevin akan marah kalau dia tahu Mamah mengusik Kalina." Suara Kelly ikut terdengar, di iringi langkah kaki yang kian mendekat.
Kalina mendudukkan dirinya sembari mendengarkan kegaduhan yang terjadi, apa lagi namanya ikut terlibat disana.
Brak...!! Tanpa di duga, pintu kamarnya terbuka lebar dengan kasar, membuat Kalina terlonjak saking terkejutnya.
"Mah, tolong jangan begini," Kelly mengekorinya di belakang, pandangannya berakhir pada Kalina yang masih duduk di ranjang dengan tatapan cengo.
"Heh kamu, Pelakor! Enak-enakan ya jam segini masih tidur, sini kamu!" Tatapan garang penuh amarah, Ibu mertuanya layangkan kearahnya, Kalina hanya bisa diam sambil menunduk tanpa mau mendebat sedikitpun.
__ADS_1
Nyonya Gwen pun mendekat dengan tatapan terhunus tajam, "kamu sudah berasa jadi Nyonya rumah ya, ck ck ck, dasar tidak tahu diri. Kamu pasti yang terus menghasut Kevin agar menceraikan Kelly, iya kan?!" Bentaknya, membuat Kalina tersentak dengan mata terpejam.
"Saya tidak pernah menyuruh Kevin untuk menceraikan Mbak Kelly, Mah." Kalina membela diri.
"Apa kamu bilang? Mamah, saya gak salah denger? Sejak kapan saya nerima kamu jadi menantu saya, selamanya menantu saya hanya Kelly, seorang. Kamu tidak akan pernah diterima di keluarga kami, meski kamu punya anak sekalipun!"
Kalina mendongak menatap tepat ke-mata Nyonya Gwen, "apa kamu lihat-lihat, hmp, meski kamu memasang tampang memelas sekalipun, saya tetap tidak akan berubah pikiran. Kamu lihat ini," Nyonya Gwen menunjukkan selembar kertas, "ini adalah surat gugatan cerai yang semalam Kevin tanda tangani." Gwen merobek surat itu menjadi beberapa serpihan, dan melemparnya ke wajah Kalina.
Lagi-lagi Kalina hanya diam, dia memejamkan matanya sekilas, menelan setiap kata yang tak mampu keluar dari bibirnya.
"Mah, tolong dengarkan aku, ini tidak ada hubungannya dengan Kalina, aku yang memutuskan ingin bercerai dengan Kevin." Kelly berusaha mencegah apa yang hendak kembali Ibu mertuanya itu lakukan.
"Itu tidak mungkin, jika wanita sialan ini tidak datang dalam hidup kalian, mana mungkin kau akan meminta cerai pada Kevin, apa kamu pikir Mamah ini bodoh, Kelly. Sampai kapanpun Mamah tidak akan membiarkan kalian bercerai!" Tegas Gwen.
Kelly menghela napas berat, "Iya Mah, ayo kita pergi, jika Kevin tahu dia akan marah besar." Ucap Kelly tampak ketakutan.
"Awas aja kalau kamu ngadu sama Kevin dan nyalahin Kelly!" Ancamnya.
Kalina hanya mengangguk tanda mengerti, "lebih baik kamu segera pergi dari hidup Kevin, sebelum saya laporkan kelakuan kamu sama Ibu asuh kamu itu!" Gwen tersenyum sinis.
Mendengar kata Ibu disebut membuat napas Kalina seketika tercekat, "tidak, jangan beritahu Ibu, saya mohon." Lirih Kalina, Ibunya adalah kelemahan terbesar baginya.
"Kalau kau tidak ingin Ibumu tahu tentang hubunganmu dengan Kevin, pergilah sejauh mungkin dari hidupnya." Ujarnya lagi.
"Tapi aku sedang hamil, bisa kemana aku dalam kondisi begini," lirih Kalina, air mata peralahan membanjiri wajah wanita 25 tahun tersebut.
"Mah--," belum sempat Kelly melanjutkan kata-katanya, perkataannya di hentikan seketika oleh Gwen..
"Diamlah, ini semua demi kamu Kelly!" Bentak Gwen, membuat Kelly bungkam seketika.
"Kalau kamu setuju untuk pergi, saya akan menyiapkan segalanya, kamu tidak perlu khawatir tentang kehidupan kamu dan bayimu, serta saya akan tetap memberikan donasi ke panti asuhan setiap bulannya, bagaimana? Bukankah tawaran ini cukup menggiurkan?"
__ADS_1
Kelly menatap tepat ke mata Kalina, tatapan yang sarat akan makna tersembunyi, Kelly menggelengkan kepalanya pelan, memberi Isyarat agar Kalina menolaknya.
Kalina tersenyum lemah, dia menyeka sisa air mata dari pipinya, "baiklah, aku terima. Tapi, Nyonya harus pegangan janji Nyonya, untuk menjamin seluruh hidup keluargaku."