Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 60 - Restu


__ADS_3

Jemari Kalina saling meremas satu sama lain, saat ini dia tengah berada di dalam mobil, mereka tengah dalam perjalanan menuju panti asuhan tempat Kalina di besarkan dulu.


"Kita sudah sampai, apa kamu belum mau turun?" tanya Kevin, dia menggenggam tangan Kalina memberi kekuatan dan ketenangan.


"Aku takut Vin," lirihnya sambil menunduk.


"Tenanglah, ada aku di sampingmu."


Kevin turun lebih dulu di susul Kalina, Kalina menghela napas dalam-dalam berusaha menetralkan ketegangan dalam dirinya, namun genggaman tangan Kevin membuat hatinya sedikit tenang.


"Itu Kak Lina!" teriak Anak-anak yang tengah bermain di halaman panti asuhan, mereka berteriak antusias menyambut kedatangan Kalina.


"Kak Lina kemana aja kenapa baru pulang?" tanya seorang anak yang berlari menghampiri Kalina.


"Eerr, Kak Lina--," ucapan Kalina di ambil alih Kevin dia berjongkok di hadapan anak-anak tersebut.


"Kak Lina ada pekerjaan, jadi dia tidak bisa pulang menemui kalian, tapi... Kak Lina bawa hadiah yang banyak buat kalian, kalian mau?" tanya Kevin. Seketika mata mereka berbinar senang.


"Mau Om, mau!" teriak mereka kegirangan.


Kevin bangkit, lantas berucap, "bawa semuanya kemari!" dan sekelompok orang-orang membawa barang-barang, berupa makanan ringan pakaian dan mainan untuk anak-anak, membuat mereka tampak begitu senang. Di saat semua perhatian tertuju pada anak-anak itu, Kalina menangkap raut wajah seseorang yang berdiri di ambang pintu, dialah Ibu.


Seketika tangan Kalina menggenggam tangan Kevin, membuat laki-laki itu langsung menyadari situasi, "ayo, kita temui Ibu dulu." Ajaknya.


Kalina dan Kevin duduk di ruang tamu dengan wajah tegang pandangannya menunduk menatap lantai, "sejak kapan kalian menikah?" tanya Ibu disertai tatapan tajam.


"E-empat bulan yang lalu," jawab Kalina dengan suara bergetar.


"Sudah empat bulan, tapi kenapa kamu baru memberi tahu Ibu sekarang Lin, apa kamu sudah melupakan siapa yang telah membesarkanmu?" seketika Kalina menggeleng dia menampik keras tuduhan tersebut.

__ADS_1


"Itu tidak benar Bu," seketika Kalina berjongkok di hadapan Ibunya, dia menggenggam tangan Ibu sambil menangis.


"Meskipun aku bukan Ibu kandungmu, tapi aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri, tapi kau," Ibunya pun ikut menangis, raut kekecewaan tampak kentara di wajahnya.


"Tolong maafkan aku Bu, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini darimu, aku takut, aku tidak berani untuk bilang kalau aku sudah menikah dengan Kevin," lirih Kalina pelan.


"Kenapa, apa karena dia seorang pria beristri?" Kalina hanya diam sambil menunduk, kali ini dia tak bisa lagi menampik tuduhan itu, karena memang benar adanya.


"Kenapa Lin, apa kamu se-putus asa itu, atau kamu sangat mencintainya? Hingga kamu nekad menikah dengan pria beristri?" perkataan dari Ibunya seakan membuat pundak Kalina memberat, kepalanya semakin tertunduk, air mata tak henti-hentinya membanjiri wajah wanita itu.


Kevin berangsur mendekat, dia menyentuh pundak Kalina, membuat gadis itu mendongak menatapnya, "tolong maafkan Kalina Bu, sejujurnya ini semua salah saya, saya yang menjebak Kalina untuk menikah dengan saya, tapi itu semua saya lakukan karena saya sangat mencintainya."


"Lalu, bagaimana dengan istrimu Nak Kevin, kamu sudah mengkhianatinya."


"Hubungan aku dan Istri pertamaku tidak seperti hubungan suami istri pada umumnya, kami tidak saling mencintai, kami di paksa bersama oleh keadaan, bahkan setelah dua tahun menikah kami tidak benar-benar bersama, kami hanya tinggal satu atap untuk memenuhi pernikahan kami di mata keluarga, pada nyatanya aku tak pernah menyentuhnya sama sekali, dan kemudian aku bertemu Kalina, pemilik hatiku yang sebenarnya." Jelas Kevin, dia membantu Kalina berdiri dan merangkulnya.


"Aku berjanji aku tidak akan pernah mengkhianati Kalina seumur hidupku, aku bersumpah atas nyawaku, bila perlu aku akan mengalihkan seluruh aset yang aku miliki atas namanya, sebagai bukti bahwa aku sangat mencintainya dan itu tak akan pernah berubah!" Ucap Kevin penuh keyakinan, tangannya menggenggam tangan Kalina erat.


"Aku akan memegang janjimu, tapi ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan," Ibu menjeda ucapannya, "nikahi Kalina secara resmi, aku ingin menyerahkannya dengan tanganku sendiri." Kalina dan Kevin saling pandang, diluar dugaan ternyata Ibunya menyetujui hubungan mereka berdua.


"Tentu, akan segera aku persiapkan. Tapi, aku harus menyelesaikan perceraianku terlebih dahulu, aku harap Ibu bisa memberiku waktu." ujar Kevin.


"Baiklah, tapi untuk sementara Kalina akan tinggal disini sampai kalian menikah secara resmi untuk menghindari fitnah."


"Baiklah," ucap Kevin sambil tersenyum.


***


Malam harinya, Kalina mengetuk pintu meminta izin bertemu Ibu di kamarnya.

__ADS_1


"Bu, boleh aku masuk?" tanyanya dengan hati-hati.


"Masuklah." Setelah mendapat izin Kalina pun masuk, tampak Ibunya tengah duduk masih mengenakan mukena putih dengan bordir motif bunga-bunga di beberapa bagian dada, kepala dan ujungnya. Kalina berdiri tak jauh dari ranjang sang Ibu.


Sejenak Kalina diam, dia ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya seakan memberat, kata-kata yang semula Ia susun dalam pikirannya, tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Ibu, karena Kalina tak kunjung bicara.


"A-aku, a-aku, i-ingin minta maaf Bu, a-aku--," Kalina tak sanggup menuntaskan kata-katanya.


"Sudahlah, kemari duduklah disini," Ibu menepuk sisi ranjangnya yang kosong, menyuruh Kalina menempatinya.


"Ibu sudah tahu semuanya, Istri pertamanya Nak Kevin datang kemari dan sudah menjelaskan segalanya."


"Mbak Kelly datang kemari?" Kalina merasa terkejut, dia tidak menyangka Kelly akan datang kemari dan menjelaskan semua itu pada Ibunya.


"Ia, dia datang kemari, sepertinya dia tidak membencimu Lin, kamu sangat beruntung mendapatkan Kevin dalam hidupmu, bahkan Ibu belum pernah mendapati hubungan percintaan seperti kalian ini, maafkan Ibu nak, kamu pasti mengalahkan banyak kesulitan karena harus menghidupi kami disini." Ibu terisak pelan.


"Apa yang Ibu katakan, aku sama sekali tidak merasa begitu, aku justru merasa sangat beruntung karena menjadi bagian dari panti asuhan ini. Aku tidak pernah merasa keberatan menjadi tulang punggung kalian, justru aku sangat bahagia." ujar Kalina.


Ibu membawa Kalina dalam pelukannya, "semoga kamu dan Nak Kevin selalu bahagia dan bersama selamanya."


"Oh ya Bu, Ibu akan segera punya cucu," ujar Kalina.


"Hah, kamu hamil Lin?" Ibu menatap tak percaya.


"Iya Bu, aku hamil." Wajah Ibu tampak sumeringah dia kembali membawa Kalina dalam pelukannya, rasa takut yang semula menghantui Kalina kini sirna sudah, rasa takut akan di benci dan tidak di terima lagi membuat dia enggan melangkah, tapi sekarang semuanya telah berubah.


'Terimakasih Mbak Kelly, aku tidak bisa membalas kebaikanmu dengan hal serupa, tapi aku akan mendoakan semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.'

__ADS_1


__ADS_2