
"Bukan apa-apa Kak, tadi Kalina bilang Kakak ganteng," ucap Kenan, yang langsung mendapat pelotot-tan dari Kalina.
Kalina menyeringai, "hooh soalnya Kenan bilang di kepala kamu ada tanduk Vin, jadi aku bilang kalau kamu ganteng meskipun punya tanduk." Kenan memekik seketika.
"Tanduk?" Kevin tampak bingung, dia meraba kepalanya sendiri.
"Hehe, mana ada Kak, Kalina salah denger. Mana ada aku bilang kaya gitu," Kenan berdalih, dia menatap kesal pada Kalina. Yang di tatap hanya mengulum senyum sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Kevin tersenyum samar, melihat senyuman di wajah Kalina membuat dia merasa bahagia.
Kevin, Kalina dan Kenan berangkat menuju panti asuhan tempat Kalina tinggal, Kenan ikut karena Ia penasaran dengan kehidupan Kalina, apa lagi Kenan tipe pria yang suka anak-anak.
Mobil pun berhenti tak jauh dari area halaman panti, "Ini rumah kamu Lin?" Kenan tampak antusias, apa lagi saat melihat anak-anak yang tengah bermain di halaman, matanya langsung berbinar senang.
"Iya Nan, aku kan anak yatim piatu, jadi hanya tempat ini yang bisa aku sebut rumah," jawab Kalina.
Kevin menghela napas, "sekarang kamu punya aku Lin, rumah aku adalah rumah kamu juga," dia mengusap kepala Kalina lembut.
"Udah ayo buruan turun!" Kenan tampak bersemangat, dia mengeluarkan barang-barang bawaan mereka dari bagasi, yakni oleh-oleh berupa makanan dan pakaian serta mainan untuk anak-anak.
Anak-anak langsung menghentikan permainan mereka menatap orang yang datang, "Kak Lina!" pekik mereka senang, "Bu, Kak Lina pulang, bawa dua Kakak ganteng!"
Teriakan salah satu anak perempuan itu sampai ke-telinga semua orang, jadilah halaman pun ramai, Kalina di sambut bak selebritis yang tengah berkunjung.
"Lina," ucap sang Ibu dengan wajah sumringah.
Kalina mendekat mencium punggung tangan sang Ibu dan memeluknya erat, "apa kabar Bu? Kalina sangat rindu Ibu," gumamnya lirih.
"Ibu baik Nak, kami semua juga kangen sama kamu, ini pertama kalinya kamu pergi sangat lama, sampai sebulan. Jujur Ibu sempat khawatir, takut kalau kamu di culik orang."
Kalina terkekeh, "siapa juga yang mau nyulik aku Bu, Penculiknya pasti bingung mau minta tebusan sama siapa."
__ADS_1
"Oh ya Lin, mereka siapa?" tanya Ibu sembari menatap ke arah Kenan dan Kevin.
"Yang sebelah kiri namanya Kenan dia teman kerja Kalina Bu, dan yang sebelah kanan Ibu pernah kenal dia ko," Ibu menilik wajah Kevin dengan seksama sembari menjelajah ingatan tentang Kevin yang tertimbun ingatan baru.
"Nak Kevin ya? Temen SMA-nya Kalina, kalau Ibu gak salah?"
"Tebakan Ibu benar, saya Kevin." Kevin langsung mencium punggung tangan Ibu mertuanya, begitu pun Kenan dia melakukan hal yang sama sebagai penghormatan untuk yang lebih tua.
"Kamu kerja bareng Lina juga?" baru saja Kevin membuka mulut untuk menjawab perkataannya langsung di potong Kalina.
"Sekarang Kevin bos aku Bu, aku kerja di perusahaan milik dia, Ibu kan tahu dia anak orang kaya." Ibu mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Oh gitu, bagus deh kalau kamu kerja di tempat temen kamu. Nak Kevin udah nikahkan ya, Ibu pernah bantuin bikin kue waktu masih kerja di toko kue, katanya pesanan dari rumah keluarga Nak Kevin, untuk acara pernikahan putra pertama mereka. Waktu itu Ibu lupa bilang sama Kalina kalau temennya mau Nikah," ucapan sang Ibu membuat mulut Kalina dan Kevin bungkam seketika.
"Ayo masuk, anak-anak mainnya jangan berisik ya." Ibu memperingatkan.
Kevin dan Kenan duduk di sopa sederhana yang terdapat di ruang tamu, Kalina datang membawa dua cangkir teh, beserta makanan ala kadarnya.
"Silahkan di cicipi, walau cuma ala kadarnya." Kevin dan Kenan meraih cangkir itu dan menyesapnya sedikit.
"Nak Kevin sama Nak Kenan ini agak mirip ya, kalian seperti bersaudara," ucap Ibu sambil tersenyum.
Seketika Kenan dan Kevin saling berpandangan, berbicara di hati masing-masing.
'*Emang Ia aku mirip Kenan? Kayanya enggak deh,' Kevin mengernyitkan dahi.
'Aku dan si raja cemburu ini mirip dari mananya coba, lubang hidung kami kali yang mirip,' Kenan terkekeh pelan*.
"Iya Bu, orang sering bilang kalau kami kaya kembar, kalau lagi barengan gini," Imbuh Kenan, Kevin hanya diam sambil menghela napas berat.
"Wah Iya kah? Kalian bersaudara?" tanya Ibu tampak penasaran.
__ADS_1
"Iya kami saudara, saudara beda Ibu, beda Ayah dan beda rumah." Seketika Ibu tergelak mendengar candaan Kenan.
"Nak Kenan bisa aja."
Kenan sengaja berbohong, dia tidak mungkin mengatakan kalau dia adiknya Kevin, Ibu Kalina bisa curiga nanti, masa seorang karyawan biasa bisa berteman dengan bos dan adiknya, lebih baik Kenan jadi karyawan biasa saja.
"Lin tinggal-lah beberapa hari untuk Istirahat, tubuh kamu agak kurusan, wajah kamu juga pucat. Kamu sakit? Pantesan Ibu telpon kamu gak pernah di angkat, kamu cuma balas pesan Ibu sekali dalam seminggu," Kalina hanya tersenyum sebagai balasan.
"Maaf Bu, Kalina sibuk banget kemarin. Lina janji Lina akan terus kasih Ibu kabar nanti, dan Lina juga akan nginap untuk beberapa hari di rumah ini, boleh kan Bos?" Kalina melayangkan pertanyaan pada Kevin di akhir katanya.
"Boleh ko, sa--," perkataan Kevin seketika terhenti, "Iya boleh ko, kamu saya kasih cuti tiga hari," Kevin mengulang kembali kata yang terhenti tadi. Hampir saja kata sayang meluncur dari bibir Kevin, jika sampai keceplosan bisa berabe apa lagi Ibunya Kalina ternyata sudah tahu kalau Kevin sudah menikah.
"Thank you Bos!" ucap Kalina senang.
"Kak Lina, pohon mangga di belakang buahnya banyak, ayo kita ambil!" ajak Chika yang datang menghampiri.
"Wah beneran Chik? Kebetulan banget, cus kita rontokkin semua buahnya, dah lama Kakak gak makan mangga muda." Ucap Lina penuh semangat.
"Lin kamu--," seketika ucapan Kevin terhenti saat tangan Kenan menekan lututnya.
"Kalau kalian mau gabung gih, Kalina itu emang gitu gak bisa kalau liat pohon mangga berbuah banyak, dia suka banget sama mangga muda udah kaya orang ngidam," Ibunya tertawa kecil.
Kenan dan Kevin bangkit dan mengikuti Kalina ke halaman belakang, benar saja gadis itu sudah tampak berdiri di atas cabang pohon, membuat Kevin meringis menatapnya, namun tidak dengan Kenan, pria itu malah tampak ikut berbaur dengan anak-anak memungut mangga yang di lempar Kalina.
"Kakak bantu ya dek, ini mangganya mau di makan gitu aja?" tanya Kenan penasaran.
"Gak ko Kak, biasnya Kak Lina suka bikin sambal rujak, enak loh Kakak. Kakak harus coba," ujar Chika anak yang tadi menghampiri Kalina.
"Wah, Kakak juga mau coba!" ucap Kenan antusias.
Kevin mendekat dia merasa iri karena Kenan bicara dengan akrab dengan adik-adik Kalina, "Vin, awas!" teriakan Kalina malah membuat Kevin mendongak.
__ADS_1
Duang...!
Satu buah mangga mendarat tepat di kepala Kevin! Membuat dia jatuh pingsan di tempat.