
"Aku percaya padamu Vin, tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri, a-aku takut akan membuatmu malu," Kalina menunduk dalam.
"Membuatku malu apanya, tidak akan." Kevin bersikukuh.
"Aku orang yang konyol Vin, aku sering melakukan suatu hal yang konyol tanpa aku sadari, dan aku takut itu akan terjadi juga pada saat aku ikut denganmu, lagi pula keluargamu pasti tidak akan suka melihat aku berada disana." Kalina masih tetap dengan pikirannya, begitu pun Kevin.
"Lin, aku tidak ingin kamu terus beralasan, yang pasti malam ini kau harus tetap ikut." Kevin kekeh tak ingin di bantah.
"Tapi Vin--," ah... perkataan Kalina langsung berganti dengan lenguhan, akibat ulah Kevin yang meremas area sensitifnya.
Dia terus melakukan apa yang ingin ia lakukan, "kenapa diam, ayo bicara lagi." Ujarnya masih dalam aktifitasnya.
Kalina hanya melengos, menanggapi ucapan Kevin, dia tahu suaminya itu tak akan berubah pendiriannya meski Kalina terus memberi alasan. Tapi jujur Kalina merasa enggan mengikuti acara tersebut, dia menghela napas pelan.
"Lin, ayo mandi bersama!"
"A-apa? Aku tidak mau," tolak Kalina seketika.
"Ayolah sayang, please." Ucapnya memohon.
"Tidak, aku tidak mau. Aku malu Vin, yang benar saja."
"Kenapa harus malu, aku sudah menyentuh seluruh tubuhmu, merasakannya dan--," mulut Kevin seketika di bekap oleh Kalina, wajahnya tampak memerah. Membuat Kevin tersenyum gemas, dia ingin terus menjahili Kalina sepanjang waktu.
"Kenapa kau selalu mengatakan itu, apa kau tidak malu," keluh Kalina kesal.
"Kenapa aku harus malu, kau tempatku berekspresi Lin, segala yang kau ketahui tentangku belum tentu orang lain tahu." Kalina mendengus kasar.
"Kenapa, apa kau tidak percaya?"
"Tidak, aku percaya." Kalina mengakhirinya tak ingin berdebat.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita mandi bersama!" Kevin menggendong Kalina dan membawanya ke-kamar mandi sebelum wanita itu sempat menolak.
"K-kevin, turunkan aku. Aku tidak mau." Cicit Kalina sembari meronta.
"Tidak, kau harus mau."
Kevin mendudukkan Kalina di atas meja marmer tempat Whastaple berada, "ayo buka baju-mu, atau mau aku yang membukanya?" tanyanya menawarkan diri.
"Tidak terima kasih, aku bisa melakukannya sendiri," tolaknya seraya membuang muka ke-arah lain, tak kuasa menahan malu, saat Kevin melucuti pakaiannya sendiri.
"Aku tunggu kamu di bath tub," ucapnya seraya berlalu dengan tubuh terpampang jelas, tanpa sehelai kain pun yang menempel. Otot perutnya membuat Kalina menenggak saliva, tubuh Kevin terlihat kurus saat berpakaian, padahal nyatanya tidak, tubuhnya cukup atletis apa lagi dia lumayan sering berolah raga membuat otot perutnya samar terlihat.
Kalina menghembuskan napas kasar, dia tak pernah membayangkan akan ada di posisi seperti hari ini, dimana dia harus menekan urat malunya, meski dia dan Kevin sudah berhubungan intim, namun itu terjadi dalam kondisi gelap, sedang sekarang terang benderang dia tak sanggup jika harus muncul telanjang di depan Kevin.
"Lin, buruan!" suara Kevin menegur.
"I-iya, sebentar." Kalina melucuti pakaiannya satu persatu, dia menatap pantulan dirinya di cermin, tubuhnya di penuhi cap merah bekas semalam.
"Sial, warnanya tak kunjung pudar." Keluhnya dengan wajah masam.
Kali ini Kalina tak menolak, dia melakukan apa yang Kevin perintahkan, "duduk disini," pintanya saat Kalina duduk bersebrangan dengan Kevin dengan posisi berjongkok.
"Ti-tidak, aku disini saja," tolaknya dengan wajah takut, insting Kalina mengatakan bahwa tempat teraman adalah posisinya saat ini.
Kevin mendengus kasar, "cepat kemari." Paksanya dengan tampang kesal. Mau tak mau Kalina pun menurut dan duduk di depan Kevin.
"Nah, ini baru benar, gadis pintar," pujinya sambil menarik Kalina lebih dekat padanya, kulit mereka saling bergesekan di dalam air, menghasilkan sensasi desiran untuk keduanya.
Aroma terapi dan kelopak mawar tampak memenuhi bak mandi ini, "Lin, aku mencintaimu," lirih Kevin, suaranya berubah parau, itu tandanya dia terangsang.
Itu bisa Kalina pastikan karena benda keras tersebut menusuk punggungnya, lengannya yang melingkar kini mulai menjelajah area-area yang menghasilkan desiran aliran darah, bibirnya menjelajah bahu leher bahkan bagian belakang telinga Kalina. Membuat dia terbuai dan mulai mengikuti permainan, rasa malu yang sebelumnya mengungkung hatinya, seolah sirna entah kemana.
__ADS_1
"Lin, katakan kau mencintaiku," pinta Kevin dengan suara berat.
"A-aku, huh... aku...," suaranya di iringi erangan lembut.
"Katakan, aku ingin mendengarnya secara langsung dari bibirmu, Lin." Desak Kevin.
"A-aku, mencintaimu Kevin Alterio." Seketika Kevin menyergap bibir Kalina, mereguk rasa manis dari bibir merah alami itu, dan pergulatan pun kembali terjadi dalam kurun waktu cukup lama, saling mengekspresikan cinta dengan sentuhan dan hembusan napas kasar.
...----------------...
Kalina kembali menatap pantulan dirinya di cermin, dia tampak mengenakan baju mandi berwarna putih dengan handuk kecil dengan warna senada terlilit membungkus kepalanya.
Cap merah itu semakin banyak saja, kini leherhya tampak penuh dengan setempel kepemilikan dari Kevin, pria itu benar-benar ganas saat beramin, membuat Kalina kewalahan.
"Kenapa belum berganti baju?" tegur Kevin saat dia memasuki ruangan ganti, dia sendiri sudah tampak rapi dengan setelan jas hitamnya.
"Apa aku harus memakai ini? Kau lihat semua ini, ini karena ulahmu sendiri." Tunjuk Kalina pada lehernya sendiri, membuat Kevin terkekeh pelan.
"Sudah ayo kenakan dulu bajunya, aku punya cara untuk menutupinya."
"Kalau begitu kamu keluar dulu."
"Kenapa harus keluar, lakukan saja di hadapanku." Kalina berdecak, namun dia tetap melakukannya kali ini dia sudah mulai terbiasa. Kevin tak henti-hentinya memerhatikan tubuh Kalina yang putih mulus namun kali ini penuh dengan warna merah karena ulah Kevin sendiri.
"Pilihanku tepat, gaun itu sangat cocok denganmu," Komentarnya, "duduklah, aku akan meriasmu."
Kalina melongok, "kamu bisa merias Vin?" Kalina menatap tak percaya.
"Hanya sebuah bakat tersembunyi," ucapnya seraya tersenyum.
Kalina menuruti setiap perintah Kevin dan duduk di depan meja rias, dia pun mulai merias wajah Kalina bak perias propesional, hingga beberapa waktu berlalu riasan Kalina pun sudah jadi, riasan natural senada dengan pakaian yang Ia kenakan, juga tataan rambut yang sederhana namun cantik, di tambah jepitan kecil seperti manik-manik membuat Kalina tampak sempurna.
__ADS_1
"Kau sangat cantik," puji Kevin, "rasanya aku tidak rela membawamu keluar kamar," keluh Kevin, dia kecewa dengan hasil riasannya sendiri yang semakin membuat aura Kalina keluar.
"Dih, dasar lebay. Untuk apa kau meriasku kalau hanya akan tetap berada di dalam kamar, tapi Vin kamu benar-benar hebat, dari mana kamu punya keahlian merias seperti ini? Ini sudah seperti makeup artis." Puji Kalina.