Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 22 - Malaikat vs Iblis


__ADS_3

Kelly mengepalkan tangannya menahan amarah dengan bibir tersenyum kaku, "aku mengerti Vin, cinta memang tidak bisa di paksakan."


"Terima kasih atas pengertian-mu, kita masih bisa berteman," ujar Kevin.


"Baiklah, biar aku beri nama hubungan kalian, Temanku adalah Istri pertamaku," perkataan yang terlontar dari mulut Kenan seketika membuahkan geplakkan dan cubitan untuknya.


"Aw... Kalian kompak banget sih dalam hal nyiksa adik sendiri," keluh Kenan sambil menggosok bagian tubuhnya yang terasa berdenyut.


"Itu karena adik ngeselin kaya kamu wajib di kasih pelajaran!" timpal Kelly.


"Aku itu unik bukan ngeselin," ucap Kenan so-imut.


"Karena kamu unik, sini aku buat kamu jadi patung lilin." Kevin mengaitkan lengan di leher Kenan dan menariknya erat.


"Aah ampun Kakak!"


~*~


Kalina sudah di perbolehkan pulang setelah beberapa hari mendapat perawatan, Kevin menggandengnya dan mendudukkannya di sopa, dia lantas berjongkok menggenggam lengan Kalina, "sayang kamu ingin pulang ke panti asuhan?" Kalina melebarkan matanya menatap tak percaya.


"Memangnya boleh?" Kevin mengangguk sambil tersenyum.


"Ka-kamu lepasin aku Vin? A-aku bisa bebas?" seketika air muka Kevin berubah.


"Lin, kamu bisa pulang ke-rumah kamu untuk beberapa hari dan kembali lagi kesini. Tapi... Mulai sekarang kamu tidak akan di kurung lagi, kamu bebas kemana pun kamu mau, tapi dengan catatan kamu harus menjaga diri dan menghargai pernikahanmu dengan Kakak," timpal Kenan.


"Ja-jadi kita bukannya berpisah? A-aku tidak ingin menjadi orang ke-tiga Vin, kasian Mbak Kelly," lirih Kalina menundukkan kepala.


Kenan mengisyaratkan pada Kelly untuk bicara, "aku tidak masalah Kevin menikah lagi, kau bisa tinggal disini sesukamu, aku sudah menerima pernikahan kalian," ucap Kelly ketus sembari melipat tangan di dada.


"Terima kasih Mbak, tapi--," dia melirik Kevin.


"Katakan saja Lin, aku jamin Kakak tidak akan berani mengurung Kamu lagi," ujar Kenan memberi dukungan.

__ADS_1


"Beneran Vin?" tanya Kalina ragu, Kevin langsung mengangguk tanpa paksaan.


"Aku ingin kita tetap merahasiakan pernikahan kita sampai kapan pun, terutama dari keluargaku," Kevin mengepalkan tangan seraya memejamkan mata, namun dia tetap mengangguki keinginan Kalina.


"Lin, kenapa sih kamu gak jujur aja sama keluarga kamu, kalau kamu sudah menikah?" lagi-lagi Kenan yang bertanya.


"Ibu asuhku sangat membenci yang namanya perebut suami orang, dan kini aku jadi orang yang di bencinya. Apa yang akan dia pikirkan jika putri yang Ia besarkan jadi sosok seperti itu?" Kalina melempar tatapan sembarang arah.


"Kamu bukan perebut sumi orang, Lin. Aku mencintai kamu sejak dulu, bahkan sebelum aku mengenal Kelly," Kevin berdecak kesal.


"Bukan perebut sumi orang, lalu aku ini apa? Faktanya kamu sudah menikah, itu yang aku dan dunia tahu Vin. Menikahi pria beristri meski terpaksa sekali pun, tetap saja dunia menyebutnya seorang Pelakor." Kenan dan Kelly hanya diam dalam hati mereka mengiakan perkataan Kalina yang tentu saja benar adanya.


Kevin bangkit dengan wajah gusar, "jangan mengatai dirimu seperti itu, aku yang salah cukup salahkan aku jangan salahkan dirimu."


"Faktanya kita berdua sama-sama salah Vin, aku tidak bertanya padamu sebelum kita menikah, apa kau sudah punya Istri atau belum."


"Oke, sudahi perdebatan ini, Lin kamu harus Istirahat dan memulihkan diri sebelum pulang besok, kamu lupa?" Kenan mengalihkan perbincangan.


"Kamu benar Nan, terima kasih. Kalau begitu aku permisi dulu." Kevin dengan sigap memapahnya, namun Kalina langsung menolak.


"Sabar ya Kak, ini adalah ujian," Kenan menepuk pundak Kevin pelan, "Kakak Ipar ayo kita ke kamar."


"Apa kamu bilang?" Kelly melotot tajam.


"Kamar masing-masing maksudnya, dih Kakak Ipar ngeres nih otaknya sapu gih biar pasirnya ilang," Kenan terkekeh pelan.


"Ugh, dasar ngeselin!" Kelly berdecak kesal seraya berlalu, Kenan mengulum senyum sembari melenggang menuju kamarnya sendiri.


Malam harinya, Kevin masuk kamar dan mendapati Kalina tengah membaca majalah, "kamu belum tidur sayang?" Kevin mendekat dan duduk di samping Kalina.


"Belum," jawabnya dingin.


"Lin, tatap aku dan tersenyumlah. Aku suka Kalina yang dulu, murah senyum dan pembuat onar. Kembalikan dia padaku," Kalina hanya diam dengan pandangan datar.

__ADS_1


"Mungkin dia sudah mati."


"Lin!" Kevin meninggikan suaranya.


"Kamu yang sudah membunuhnya!" tambah Kalina, Kevin berdecak kesal dia kembali bangkit dan berlalu keluar kamar setengah membanting pintu.


Kalina menyeka ujung matanya yang berair, "maaf Vin, mungkin hanya dengan cara ini kamu bisa melepas-ku. Mungkin sejak awal seharusnya kita tidak pernah bertemu."


Keesokan harinya Kalina sudah bersiap hendak kembali ke rumahnya, dia sudah mengenakan pakaian lamanya, yakni jaket Hoodie dan celana jeans sobek-sobek di bagian lututnya. Kalina juga mengikat rambutnya tinggi seperti sebelum dia datang kemari.


"Sayang kau sudah siap?" Kevin menjulurkan kepala dari pintu melihat sang Istri. Kalina menoleh dengan pandangan datar, lantas mengangguk.


Penampilannya memang sama, tapi senyuman di wajahnya kini memudar. Kalina berjalan keluar dan duduk bergabung dengan Kenan dan Kelly di meja makan.


"Wah, jadi seperti ini penampilan asli kamu Lin?" komentar Kenan, "God job!" dia memberikan jempolnya, "hanya tinggal tambahkan sedikit senyum, pasti terlihat cantik." Tambahnya.


Kalina menyematkan senyum kaku di wajahnya, "tuh kan, kamu itu cantik banget kalau senyum, apa lagi kalau senyumnya Ikhlas." Kenan tertawa kecil saat melihat ekspresi kesal Kalina, dia melirik Kevin yang melempar tatapan menusuk padanya, sambil mengunyah makanan penuh dendam.


"Makanlah yang banyak Lin, agar kamu kuat menghadapi Kakak," semua menatap Kenan dengan tatapan kesal, namun dia sendiri malah asik mengunyah makanannya tanpa dosa.


"Nan, terima kasih kamu selalu baik padaku. Aku pikir sebelumnya kamu orang yang jahat, tapi ternyata kau seperti malaikat."


"Sama-sama Lin, aku memang sangat baik dan juga tampan, bidadari saja malu jika melihatku." Kelly berdecak tak percaya.


'Nih anak, kepedeannya emang di batas normal.' keluh Kelly dalam hati.


Kalina terkekeh menanggapi ocehan Kenan, "kalau aku malaikat, lalu Kakak apa?" tanya Kenan setengah berbisik.


Kalina mengerjapkan mata, lalu melirik Kevin yang duduk di sampingnya, "Dia seperti Iblis kan, apa kau melihat tanduk merah di kepalanya?" bisik Kenan lagi, yang hanya di dengar Kalina.


"Mana, aku tidak melihatnya?" balas Kalina.


"Itu di kepalanya, coba kau perhatikan lagi," ucap Kenan. Kalina memicingkan mata mencari benda yang di masud Kenan, namun tentu saja benda itu tak mungkin ada, itu hanya ada dalam imajinasi Kenan semata.

__ADS_1


"Kalian bisik-bisik apa?" pertanyaan Kevin sontak membuat Kenan dan Kalina kembali ke-posisi semula.


__ADS_2