
Kevin mencengkeram dadanya yang terasa sesak, sebelah tangannya meremas sehelai pakaian Kalina yang tersisa di lemari.
'Kamu kejam Lin, teganya kamu pergi ninggalin aku. Apa yang tidak aku lakukan untukmu. Dasar wanita tidak berperasaan.' Ingin rasanya Kevin menangis, namun itu akan melukai harga dirinya sebagai Pria.
'Kita lihat saja Lin, dimana pun kamu berada saat ini, aku yakin aku akan mencapai keberadaanmu dengan cara apa pun, jadi tunggulah aku!' batin Kevin bergumam.
Keesokan harinya, Kevin keluar dengan pakaian berantakan, rambutnya yang biasanya tertata rapi tampak semerawut tak beraturan, dia berjalan ke dapur dan mengambil sebotol air dingin dari kulkas, dia bahkan tak menghiraukan para pelayan yang menunduk ke arahnya.
"Tuan, apa yang anda mau untuk sarapan?" kepala pelayan bertanya, namun Kevin malah mendelik bukannya menjawab, dia benci pada semua penghuni rumah ini, karena dia yakin semua orang telah sekongkol untuk mengusir Kalina dari rumah ini.
"Terserah kau mau masak makanan apa, bila perlu kau masak racun untukku," geram Kevin kesal, "kalian semua bekerja untuk wanita itu kan, jadi lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan, dan aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan." Kevin melemparkan tatapan sengit, kemudian berlalu.
Dia berpapasan dengan Kelly yang juga hendak mengambil minuman, Kevin pergi begitu saja seakan menganggap Kelly hanya angin lalu.
'Aku tahu hubungan kita tidak akan pernah menjadi nyata Vin, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, ini pilihan Kalina sendiri.'
...----------------...
Satu minggu berlalu semenjak kepergian Kalina, keadaan Kevin tak lagi sama, dia yang selama ini tak pernah menyentuh minuman beralkohol, entah kenapa dia mulai meminumnya dan sikapnya itu berdampak pada perusahaan. Dua proyek yang harus Ia tanda tangani gagal begitu saja, dan perusahaan merugi cukup besar.
Brak...!!
Nyonya Gwen datang dengan wajah murka, dia melempar tatapan kesal sekaligus benci pada Kevin.
"Sepertinya, aku di matamu sudah tidak ada harganya, hingga kau bersikap begini," ucap Kevin tenang.
"Apa yang kau lakukan? Gara-gara kau perusahaan rugi cukup besar!" Gwen melempar sebuah map ke meja Kevin.
__ADS_1
Kevin mendengus senyum, "lalu aku harus bagaimana, kalau uang itu sudah pergi, biarkan saja!" Kevin berucap malas, dia kembali menenggak minuman di hadapannya.
"Kau minum di dalam kantor? Apa kau gila? Sejak kapan kau mulai minum, minuman sialan ini?!" Frang... Botol minuman yang Nyonya Gwen lempar jatuh menjadi serpihan saat menyentuh lantai.
"Kenapa kau peduli, aku bukan anakmu," desis Kevin, "ah, aku lupa, kalau sebetulnya kau bukan peduli padaku, tapi pada harta ini, perusahaan ini dan warisan Papah-ku," Kevin tertawa seperti orang tidak waras.
"Kamu sepertinya sedang tidak sadar, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat untuk beberapa hari, biar Mamah yang mengurus perusahaan untuk sementara."
Lagi-lagi Kevin mendengus mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ibu tirinya itu, "baiklah-baiklah, kau boleh melakukan apa pun, terserah saja!"
Kevin bangkit dengan tubuh limbung, tangannya bertumpu pada meja, dari mulutnya tercium bau minuman yang menyengat, "hey kau nenek sihir, kau tahu aku benci melihat wajahmu yang sudah berkerut itu, apa kau tidak menyadarinya, kulit di wajahmu bahkan bisa di robek," Kevin terkekeh pelan, dia bahkan tak menyadari apa yang dia katakan.
"Kulit wajahmu terlihat seperti topeng!" dia kembali menertawakan Ibu tirinya itu.
"Dasar kurang ajar, beraninya kamu menjelek-jelekkan aku di depan mataku sendiri! Raihan! Bawa anak sialan ini dari hadapanku, aku tidak tahan ingin memukulnya!" teriak Nyonya Gwen memanggil sekertaris-nya.
Tak butuh waktu lama Kevin pun telah sampai di rumah di antar oleh sekertaris bernama Raihan tersebut.
"Ada apa dengan Pak Kevin?" tanya Kelly yang keluar menyambut kedatangan Kevin dan Raihan.
"Pak Kevin terlalu banyak minum, jadi dia tidak sadarkan diri." Jawab Raihan yang membopong Kevin dan meletakannya di sopa ruang tamu.
"Kevin minum-minum saat jam kerja?" Kelly menatap tak percaya.
"Iya Bu, sudah hampir satu minggu beliau begitu, saya tidak dapat melarangnya, saya mohon maaf." Raihan tampak merasa bersalah.
"Tidak papa, itu bukan salahmu. Terimakasih sudah mengantarnya kemari, kau boleh pergi." Raihan pun lekas pergi setelah mendapat izin dari istri Bos-nya itu.
__ADS_1
Kelly menyuruh pelayan pria membawa Kevin ke kamarnya, dia sendiri kemudian menyusul. Tinggallah Kelly dan Kevin yang tak sadarkan diri di ruangan itu.
"Kamu terlihat menyedihkan Vin, cinta membuatmu hilang akal begini, aku tidak lagi melihat Kevin yang sama dalam dirimu," Kelly menghela napas pelan, "ternyata sebegitu berpengaruhnya Kalina bagimu, jujur aku merasa sakit hati melihat keadaanmu yang begini." Gumam Kelly pelan, dia menatap Iba pada Kevin, dia merasa kasihan melihat orang yang di cintainya terlihat hancur dan menyedihkan.
Dering ponsel mengalihkan atensi Kelly, dia menatap layar gawai yang menyala, menampakkan nama seseorang yang kini menghubunginya.
"Halo Riko, ada apa?"
"Apa kabar Kel? Sudah lama kita tidak bicara," ucap orang bernama Riko dari sebrang telpon.
"Aku baik-baik saja, ada perlu apa kamu menghubungiku?" tanya Kelly datar.
"Kamu memang wanita kejam ya, setelah menggunakanku kau buang aku begitu saja," bukan nada kemarahan yang terdengar namum suara tawa yang keluar dari mulut Riko.
"Maaf soal itu, aku tak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu, aku hanya ingin membuat Kevin percaya bahwa aku sudah melupakannya," Kelly tersenyum pelan, "tapi sayangnya semua tak berjalan mulus," tambah Kelly.
"Bukankah kamu sudah memutuskan untuk bercerai dengannya?" Kelly tak langsung menjawab, dia melirik Kevin yang sama sekali tidak bergerak di atas ranjang.
Kelly bangkit, lantas keluar dari kamar Kevin, "Kelly!" panggil Riko, karena tak kunjung mendapat jawaban dari wanita itu.
"Perceraian kami gagal karena Mamah mengetahuinya, aku juga bingung dari mana dia tahu soal ini," Kelly menghela napas pelan.
"Dan aku tebak, Kevin pasti menyalahkan kamu kan? Dia memang selalu begitu, apa aku boleh menghajarnya?"
Kelly terkekeh pelan, "bagaimana caramu menghajarnya, bahkan kamu sedang di luar negeri sekarang."
"*Kalau kamu ingin, saat ini juga aku akan kembali ke Indonesia dan menemuimu besok pagi. Kelly, sampai saat ini aku belum berubah, jika kamu sudah lelah dengan kehidupanmu sekarang, kamu bisa datang padaku, tanganku terbuka lebar untukmu." Kelly terdiam dia tak menanggapi perkataan Riko.
__ADS_1
'Entah kenapa hatiku sulit menerima orang sebaik kamu Riko, betapa sialnya kamu karena menaruh hati pada orang seperti ku, tidak bisakah kamu buang semua perasaanmu itu*?'