
"Kelly!?" panggilan itu membuat Kelly kembali tersadar dari lamunannya.
"Ah maafkan aku Riko, aku harus tutup telponnya, sampai nanti." Kelly mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
'Tidak, aku tidak bisa begini, aku harus melakukan sesuatu, meski aku mencintai Kevin tapi aku tidak bisa membuat dia di sisiku dalam keadaan begini, mungkin nanti aku hanya akan memiliki mayatnya.'
Kelly menekan layar gawai-Nya memilih nama yang tertera di sana.
Tut...Tut...Tut...
Telpon tersambung, namun tak ada yang mengangkatnya, "kemana sih si Kenan, kenapa dia sulit sekali di hubungi," keluh Kelly kesal.
Ya, sudah cukup lama Kenan tidak menghubunginya, entah kemana Pria itu pergi, saat Kelly bertanya pada Ibu mertuanya dia hanya bilang Kenan sedang liburan ke luar negeri. Aneh rasanya, Kenan pergi liburan dalam kondisi begini.
...----------------...
Di tempat lain, Kalina tengah memasak di dapur, di bantu Kenan, Pria itu tengah memotong-motong sayuran sembari duduk di di meja makan, dia melirik wajah Kalina yang tampak tengah serius mengaduk masakannya di atas meja.
__ADS_1
"Nan, kamu coba deh, ini kurang apa? Rasanya seperti ada yang kurang, tapi apa?" Kalina tampak berpikir, namun sulit menentukan apa yang kurang dalam masakannya.
Kenan bangkit dan mengambil sendok dari tangan Kalina, dia menyendok sedikit kuah sayur itu dan mencicipinya, "ini enak-ko, garam udah, penyedap udah, gula juga udah, menurutku rasanya udah pas," ucap Kenan.
"Masak sih?!" Kalina yang tak percaya kembali merampas sendok bekas Kenan tersebut dan mencicipi kuah sayur itu juga, Kenan terkekeh pelan.
Kalina terdiam sambil berpikir, "gimana rasanya?" tanya Kenan.
"Pas apanya coba, ini masih aneh rasnya." keluh Kalina, dia menaruh sendok itu dengan kasar, membuat dentingan cukup keras terdengar di ruangan itu.
"Kalau gitu kita tambahkan lagi, gula, dan sedikit garam," Kenan memasukan kedua bumbu itu dan mengaduknya, kemudian mencicipinya kembali, "nah, kalau ini enak, coba kamu cicipi lagi," Kenan menyodorkan sendok bekas dia pada Kalina lagi.
"Kamu baru nyadar, dari tadi kita berbagi sendok yang sama," kekeh Kenan.
Kalina berdecak kesal, kemudian mematikan api kompor dan menuangkan sayur itu ke mangkuk.
Dan mereka pun makan bersama, seperti hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
"Nan, gimana kabar Kevin?" pertanyaan Kalina, membuat Kenan seketika mendongak menatapnya.
"Kamu masih mikirin dia?"
"Walau bagaimanapun dia suami aku Nan, dan aku mencintainya, tak mudah untuk aku melupakan dia, saat tanda cinta kami tinggal dalam diriku." Ujar Kalina tersenyum hampa.
"Aku juga tidak tahu, aku belum menghubungi siapa pun sejak seminggu terakhir."
"Nan, kamu tidak boleh terjebak denganku selamanya di tempat ini, kamu harus kembali. Kamu tidak harus selalu menemaniku disini, jika aku butuh sesuatu aku akan menghubungimu. Kembalilah, kamu masih punya masa depan yang harus kamu jalani, aku tahu maksudmu, tapi jawabannya akan tetap sama, Nan. Aku mengatakan ini bukan dengan maksud apa pun, aku hanya ingin sahabat sekaligus adikku, hidup dengan baik dan menjalani kehidupannya dengan bahagia. Nan, jangan hancurkan dirimu karena aku, mungkin saja karena ini, aku akan membencimu."
"Apa yang kau katakan Lin, aku tidak mengerti," dalih Kenan.
Kalina tersenyum pelan, "pikirkan saja sekali lagi, aku yakin kamu akan mengerti."
Mulut Kenan seketika terkatup rapat, dia mengunyah makanan nya dalam diam. Sejujurnya dia sangat mengerti arti ucapan Kalina namun dia enggan mengakuinya. Hatinya masih saja terjebak di tempat yang sama, saat ini Kenan bak berada di sebuah labirin, setiap jalan keluar yang dia ambil selalu saja salah. Kenan tak pernah bermaksud jahat, kesalahannya hanya satu yaitu mencintai Kalina.
Kenan bangkit dan berjalan ke arah bak cuci piring, ''taruh saja di situ Nan, biar nanti aku yang mencucinya'' ujar Kalina.
__ADS_1
''Tak apa Lin, aku bisa melakukannya,'' Kenan tersenyum pelan.
Kalina kembali terdiam dan makan dengan pelan, beruntung kehamilannya tak membuat dia kesulitan sama sekali.