
Kalina mematung di tempat, dia tak membalas pelukan Kevin atau pun menjawab kata-katanya, "apa kau tidak rindu padaku?" tanyanya lagi, namun Kalina tetap diam saja.
Kevin melepas rangkulannya dia menatap mata Kalina, sarat akan kerinduan, "kenapa kamu harus datang kemari Vin? Seharusnya kau lanjutkan saja hidupmu disana," kata-kata itu yang justru keluar dari bibir Kalina.
Sudut bibir Kevin tertarik ke atas, tanpa terasa lengannya mencengkeram kuat lengan Kalina, "kamu sengaja ingin meninggalkanku? Kau tahu betapa gilanya aku saat tahu kau pergi dari rumah, apa sedikit pun tak pernah ada rasa peduli di hatimu untukku?"
Kalina membalas tatapan Kevin sayu, "benar, aku tidak pernah memikirkanmu walau sedikit pun, kau tahu aku ingin bebas, hidup denganmu membuat aku tertekan!" Kalina mencengkeram ujung baju yang Ia kenakan.
"Dari dulu kamu tidak pandai berbohong Lin, aku tahu kamu pergi bukan atas kemauanmu sendiri," Kevin menggenggam jemari Kalina, membuat pandangan wanita itu melebar sempurna.
"Berapa kali harus aku katakan, aku--," Kevin menutup mulut Kalina dengan telapak tangannya, membuat perkataan wanita itu terhenti di tengah-tengah.
"Kembalilah denganku!" Kevin menarik lengan Kalina menyeretnya mengikuti langkahnya.
"Tunggu Kak!" Kenan angkat bicara, membuat pandangan Kevin mendelik seketika, "Kalina akan tetap disini, sampai Kakak menyelesaikan maslah Kakak dengan Kak Kelly dan juga Mamah." Ucap Kenan memberanikan diri
__ADS_1
Kevin membalikkan tubuh menghadap Kenan dengan sempurna, "apa katamu? Hak apa yang kau miliki, hingga kau bisa menahan istriku bersamamu?" darah dalam kepala Kevin mulai mendidih, dia sebisa mungkin menekan kemarahannya agar tidak meledak.
Kalina menatap Kenan sambil menggelengkan kepala, mengisyaratkan jangan ikut campur, atau dia akan terkena imbasnya.
"Karena aku adiknya," jawab Kenan.
Kevin mendengus tawa, "adik? Kau itu adikku bukan adiknya Kalina, atau kau sengaja menahannya atas nama adik dan Kakak agar tetap bisa bersamanya." Ucap Kevin penuh penekanan.
"Terserah apa yang Kakak pikirkan, tapi aku tidak akan mengijinkan Kakak membawanya!" Kenan menyeruak dan merampas tangan Kalina dari Kevin. Membuat api kemarahan dalam diri Kevin tersulut membara.
"Vin, lepasin Kenan!" ucap Kalina setengah berteriak, dia terlihat sangat panik.
"Diam di situ!" bentaknya, saat Kalina hendak mendekat untuk menjadi penengah, "atau tanpa sengaja aku juga akan menyakitimu." Geram Kevin, matanya seakan ingin menerkam Kenan hidup-hidup.
"Kak, sampai saat ini bahkan Kakak tidak pernah percaya padaku kan? Kenapa Kak? Apa karena Ibuku? Meski begitu aku tetap adikmu, kita berasal dari Ayah yang sama!" Kenan membalas tatapan Kevin tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Adik mana yang akan mencintai Kakak iparnya sendiri, apa kau pikir aku tidak tahu itu. Sejak dulu kau senang mengambil barang-barang milikku dan aku tidak pernah mengatakan apa pun, aku bisa berbagi segalanya denganmu, tapi tidak dengan Kalina, dia hanya milikku!"
Kenan mendengus senyum, "kau pikir apa Kak, kau pikir hanya kamu yang pantas untuk Kalina, sedang aku tidak? Jika di bandingkan denganmu jasaku lebih banyak, saat kau tidak ada aku yang menjaganya, saat kalian berpisah aku aku juga merasakan sakitnya!" perkataan yang keluar dari mulut Kenan membuat Kevin mau pun Kalina tertegun saat itu juga.
Kenan melepaskan diri dari cengkeraman tangan Kevin, "aku tahu kalian saling mencintai, makanya aku tidak pernah melewati batasku, meski hati ini terus mendorongku untuk mendekat, begitu pun dengan 8 tahun lalu."
"Apa maksudmu?" kali ini Kalina yang bertanya.
Kenan tersenyum lembut pada Kalina, "apa kamu ingat, saat kamu mencuri dompet seorang pria tua di pinggir jalan dan karena rasa iba kamu berpura-pura melihat dompet pria itu jatuh dan mengembalikannya," Kalina melebarkan matanya, bagaimana bisa Kenan tahu soal itu padahal tak ada satu pun yang dia kenali di tempat itu.
"Dan lagi, saat kau di kejar penjaga keamanan karena mencuri dompet seorang wanita di dalam toko, saat itu aku yang mengalihkan perhatian mereka hingga kau bisa selamat dari kejaran mereka Lin, mungkin kau tidak ingat bahkan kau tidak tahu, tapi itu karena aku. Bukannya aku ingin menyombongkan diri dengan membuka ini semua, tapi aku ingin membuka mata seseorang agar bisa lebih menghargaimu bukan hanya menganggapmu seperti barang miliknya." Geram Kenan.
"Kau mengikuti ku saat aku pergi bersama Kalina?" pertanyaan itu membuat Kenan terdiam, diamnya dia menandakan bahwa apa yang Kevin tanyakan sudah jelas jawabannya.
"Itu karena aku ingin tahu, gadis seperti apa yang membuat Kakak-ku jatuh cinta, hingga dia bisa melupakan kelinci yang hilang itu. Tanpa terasa aku sendiri mulai tertarik dan mengikuti Kalina kemana pun dia pergi, ya aku sadar aku seperti penguntit, tapi tujuanku tidak lebih hanya karena ingin melindunginya dan lebih mengenalnya saja. Maafkan aku Kalina."
__ADS_1
Kevin menggertakkan giginya, antara ingin marah dan kesal, serta perasaan yang campur aduk, dia tidak menyangka Kenan akan melakukan hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Haruskah Kevin berterimakasih atau justru memberi adiknya sebuah pukulan. Jadi sebetulnya cinta siapakah yang lebih besar, cinta Kevin atau Kenan? Antara dia yang mencintai dengan keserakahan atau dia yang mencintai dengan pengorbanan.