
Kalina mengenakan baju rajut lengan panjang yang bagian kerahnya menutupi hingga ke-leher.
"Iya Lin, jangan pakai baju begitu, nanti kami kepanasan." Kevin menambahkan.
"A-aku baik-baik saja, aku merasa kurang sehat, jadi badanku terasa agak dingin," ucap Kalina canggung dia menarik kursi, lantas duduk.
"Kamu sakit? Kenapa kamu gak bilang." Kevin berdecak, dia menghentikan aktifitasnya dan beralih pada Kalina, "tapi suhu tubuh kamu baik-baik aja, apa kepala kamu yang sakit?" Kevin menempelkan punggung tangannya di dahi Kalina.
Kenan dan Kelly saling pandang, mereka berbicara lewat tatapan mata.
"Errr, ya, kepala aku yang sakit, agak sedikit pusing." Jawab Kalina mengiakan, padahal dia baik-baik saja.
"Apa ini gejala awal kehamilan?!"
Brush...
Kalina yang semula hendak menelan minuman yang Ia tenggak, menyembur ke wajah Kevin.
Dia berdecak, "Lin." Ucapnya kesal, seraya mengusap sisa air di wajahnya.
__ADS_1
Kalina melirik wajah Kelly juga Kenan yang tampak cengo mendengar perkataan Kevin, "Kalina hamil? Kalian sudah, eh... melakukan itu?" tanya Kenan penasaran.
"Ya sudah, semalam." Ucap Kevin seraya tersenyum, dia sedikit pun tak merasa canggung malah terlihat senang.
"Kevin!" Bentak Kalina kesal, wajahnya merah padam, rasanya ia ingin menenggelamkan diri ke-dasar bumi dan lenyap dari pandangan mereka.
Kelly berdecak sembari duduk, "melakukannya sekali mana bisa hamil, lihat aku. Aku juga pernah melakukan itu denganmu tapi tidak hamil," ucap Kelly santai, dia meneguk sedikit susu dari gelas yang di sediakan dan mengolesi selai ke atas roti, lantas menyantapnya.
Kalina menunduk tak punya kata untuk mendebat, Kevin menatap tajam ke-arah Kelly, memberi peringatan lewat sorot matanya.
"Apa Kakak sangat ingin punya anak?" tanya Kenan mengalihkan perhatian.
"Tentu saja, adanya pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan." Ucapnya datar.
"Tentu saja, tapi setiap pasangan pasti ingin punya anak kan, apa kau tidak ingin punya anak?" tanya Kevin.
"Aku...--,"
"Sudah jangan bahas itu lagi, ayo makan sarapan kalian," timpal Kelly dia sudah menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
...----------------...
Kalina termangu menatap gemersik dedaunan yang tertiup angin, pikirannya melayang jauh.
'Apa jadinya jika aku punya anak? Akan-kah anakku di terima di keluarga ini? Diriku saja bahkan belum punya tempat di keluarga ini, bagaimana nasib anakku nanti. Mungkin sebaiknya aku menunda kehamilan terlebih dahulu.'
"Lin, kau sedang memikirkan apa sayang?" Kevin memeluk pinggang Kalina dari belakang, menaruh dagu di pundak sang Istri.
"Aku hanya sedang memikirkan Ibu dan adik-adikku, sudah beberapa hari aku tak mendengar kabar dari mereka." Dalih Kalina.
"Kau merindukan mereka?" Kalina hanya mengangguk sebagai jawaban, "kau ingin bertemu mereka?" tambahnya lagi.
Hem, jawab Kalina.
"Kalau begitu kita bisa pergi lusa, malam ini aku ingin kau ikut denganku, ada acara tahunan di kantor kami mengadakan Festa, aku ingin kau ikut serta." Tutur Kevin lembut, bibirnya tak henti-hentinya menjelajah leher Kalina.
"Aku rasa itu bukan ide bagus Vin, keluarga kamu pasti hadir disana juga, kan. Akan lebih baik jika aku tidak ikut," Kalina berucap sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa apa kau takut? Lin, kamu adalah Istri aku, mereka juga tahu. Aku jamin tidak akan ada yang berani menyakitimu, aku janji!"
__ADS_1
"Aku bukannya takut Vin, hanya saja aku pasti akan sangat canggung berada di lingkungan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupanku sebelumnya."
"Percayalah padaku, Lin."