
Kevin memberengut kesal, dia menolak makanan itu tanda dia menginginkan hal lain. Kalina berdecak sambil menyodorkan makanan ke mulut Kevin, yang langsung di sambut baik oleh pria itu.
"Kenapa kamu cepat kembali, bukankah sebelumnya kau sangat ingin pergi dariku?" tanya Kevin sembari menatap wajah Kalina.
"Jangan banyak bicara kalau sedang makan," Kalina menyuapi Kevin dengan pandangan mengarah ke tempat lain.
"Kau masih mencintaiku kan?"
"Tidak!" jawab Kalina masih enggan menoleh.
Kevin tersenyum, "Lin, maukah kau tetap di sampingku, menua bersamaku, walau statusmu hanya Istri kedua?" pertanyaan Kevin membuat Kalina sulit mendapat jawaban. Disisi lain dia memang punya perasaan terhadap Kevin, tapi dia juga ingin menjadi wanita satu-satunya yang menjadi istri dari seorang suami, apa keinginannya ini terlalu egois? Sebagai seorang wanita, Kalina juga ingin hanya menjadi wanita satu-satunya dalam hidup suaminya, tapi bersama Kevin rasanya itu tidak mungkin.
"Lin?!" Desak Kevin Karena istrinya diam saja.
"Kau tidak ingin menjadi Istri kedua?" Pertanyaan itu tepat sasaran sesuai dengan isi pikiran Kalina.
"Tapi Lin, aku tidak mungkin menceraikan Kelly, perjanjian itu tertulis saat kami menikah. Tapi, jika dia sendiri yang meminta, maka--," Perkataan Kevin seketika terhenti, karena Kalina membekap mulutnya.
"Cukup Vin, aku tidak pernah memintamu menceraikan Mbak Kelly. Justru sebaliknya, perbaiki hubungan kalian, Mbak Kelly jauh lebih berhak atas dirimu dibandingkan aku. Aku tidak memintamu memberikan seluruh hatimu untuknya, hanya sisihkan waktu untuknya juga, perhatikan dia, karena dia juga Istrimu." Ucap Kalina sembari beranjak, dia tak ingin Kevin menangkap ekspresi wajahnya. Meski mulutnya mengatakan itu tapi hati Kalina tetap tak rela, tapi semua ini harus tetap dia lakukan, Kalina menyadari siapa dirinya dalam keluarga ini.
__ADS_1
Kalina berlalu meninggalkan Kevin, 'Heh, apa aku ini termasuk orang munafik? Aku bahkan tidak bisa mengatakan hal yang jujur.' gumam Kalina dalam hati, dia mencuci piring bekas makan Kevin tanpa Ia sadari.
"Nyonya, anda tidak perlu melakukan ini, biar kami saja," ucap salah satu pelayan yang baru saja tiba di dapur.
"Tidak papa, aku sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah. Kau lakukan saja pekerjaan yang lain," jawab Kalina masih pada aktifitasnya.
"Baiklah Nyonya."
"Lin, kapan kamu balik?" tanya Kenan sambil mengambil botol air dingin dari kulkas.
Kalina menoleh sejenak, "tadi!" jawabnya datar.
Hem. Hanya suara itu yang keluar dari bibir Kalina, dia tak ingin mengatakan hal lain, untuk saat ini hatinya benar-benar merasa tak karuan. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya barusan membuat suasana hatinya terpengaruh.
"Lin, apa kau rela hidup seperti ini terus? Atau kau memang menikmatinya?" Kenan menatap tajam ke arah Kalina, namun gadis itu tetap mengabaikannya.
"Kau senang hidup di rumah mewah, mendapat suami kaya, hidup terjamin, walau hanya di anggap benalu oleh keluarga suamimu, apa kehidupan macam ini yang kau inginkan?" Kenan melempar tatapan sinis pada Kalina.
"Terserah apa yang kau pikirkan tentangku Kenan, aku tidak perlu pendapat orang lain tentang hidupku," Kalina mengakhiri aktifitasnya, kemudian berlalu.
__ADS_1
Malam pun tiba, usai makan malam Kalina kembali ke-kamarnya, dia mendapati Kevin yang tengah berganti pakaian dengan pakaian tidurnya.
"Malam ini, aku akan tidur di kamar Kelly, sesuai yang kau inginkan." Ucapan Kevin membuat dada Kalina bergemuruh.
"Itu bagus, pergilah!" Kalina berjalan ke kamar mandi menghindari Kevin.
Sakit, panas, hatinya merasa terbakar. Tanpa mampu Ia bendung, air mata luruh dari mata Kalina.
"Jangan menangis Lin, kau harus kuat. Ini untuk yang terbaik," lirih Kalina, di iringi isakan pelan. Dia mencuci wajahnya dengan air, kemudian keluar.
Saat Kalina keluar dia di kejutkan dengan keberadaan Kevin di depan pintu, rupanya dia sama sekali belum pergi, "jika hatimu sakit, mengapa kau menyuruhku pergi pada wanita lain?" tanya Kevin dengan tatapan tajam.
"Dia bukan wanita lain, dia istrimu Vin. Aku tidak papa, aku baik-baik saja. Mengapa aku harus sakit hati? Bukankah disini aku yang wanita lain," Kalina tersenyum pahit.
"Jadi kau ingin aku tetap pergi?"
Kalina membalas tatapan tajam Kevin, "Ya!" jawabnya pasti.
"Jangan pernah menyesalinya Lin, karena ini yang kau inginkan!" Ujar Kevin datar, lantas berlalu.
__ADS_1