Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 38 - gambar kura-kura


__ADS_3

"A-apa yang kau lakukan, Lin? Tidak, tidak, tidak, aaah!"


Bruk...


"Lina, kenapa kau mengikatku?" Kevin terbaring di ranjang dengan tangan di ikat ke-atas dengan dasi oleh Kalina.


Kalina tersenyum miring, dia mengeluarkan spidol berwarna hitam dengan sebuah gantungan bulu berwarna putih dari sakunya.


"A-apa yang akan kamu lakukan?" Kevin terlihat panik, saat Kalina membuka kemeja yang di kenakan Kevin.


"Menurutmu?"


Kevin mendengus tawa, "ayolah, jika kau menginginkannya kau hanya tinggal memintanya, mengapa harus mengikatku begini? Aku beritahu ya, kau akan kelelahan jika harus bekerja sendiri."


"Aku cukup kuat untuk itu, jadi jangan meremehkan-ku!" Kalina naik dan duduk di atas paha Kevin, seketika dia merasakan sesuatu terbangun di bawahnya.


Kalina menatap remeh benda itu, "Ish, benda milikmu ini selalu saja terbangun, apa kau tidak merasa terganggu? Apa mau aku hilangkan saja?" Kalina terkekeh pelan.


"Itu benda pusaka-mu, kalau kau menghilangkannya, kau tidak ubahnya seperti menikahi Kasim, hidupmu akan menderita karena menahan hasrat," balas Kevin.


Kalina hanya memutar bola matanya malas, dia mulai menggambar di dada Kevin dan sesekali membuat bulu itu menggelitik Kevin.


"Lin, apa yang kau lakukan?" wajah Kevin memerah, agaknya hasratnya meninggi.


"Diam-lah, aku sedang menggambar kura-kura." Kalina terkekeh pelan.


Suara ribut dari dalam ruangan tertutup itu membuat Kenan berdecak kesal, dia bertolak pinggang menghadap jendela.


Kelly menilik ekspresi wajah Kenan yang nampak kesal, "kamu kenapa, Nan?"

__ADS_1


Kenan menoleh seraya menjawab, "kenapa apa nya?"


"Wajahmu, kau terlihat marah." Kelly menertawakannya.


"Kau cemburu?" tebakan Kelly membuat mata Kenan melebar sempurna.


"A-apa yang Kakak Ipar katakan? I-itu tidak benar," dalih Kenan gugup.


Kelly mendengus tawa sembari melipat tangan di dada, "apa yang akan Kevin lakukan jika dia tahu, kau suka pada istrinya!"


"Kak, aku tidak begitu, oke!" Kenan membela diri.


"Aku tidak buta, aku bisa melihat cara kamu menatap Kalina. Dan... Aku melihat foto dia di ponselmu." tambah Kelly setengah berbisik.


"Haha, Kakak mau minum kopi? Akan aku belikan. Tapi Kak, please jangan beritahu siapa-pun ya, aku mohon. Aku akan melakukan apa-pun keinginan Kakak!" Kenan mengatupkan tangan di hadapan Kelly.


"Cih, aku heran kenapa kalian berdua suka sekali pada gadis liar seperti dia, apa bagusnya coba." Geram Kelly kesal.


"Haish, dia itu Istri Kakak-mu, apa kau lupa?!"


"Aku tidak lupa, itulah makanya Kakak Ipar harus merahasiakan apa yang Kakak ketahui hari ini. Aku akan menyimpan segalanya dalam hati."


"Lin, Lin, tidak jangan di bagian itu, ouch!" Kenan dan Kelly menatap malas pintu kamar yang tertutup rapat itu.


"Apa sih yang mereka lakukan, kenapa berisik sekali!" geram Kenan, dia kesal bercampur cemburu.


Tapi tidak dengan Kelly, dia sudah bisa mengendalikan diri, hingga dia tidak terpengaruh dengan romantisme yang terjadi antara Kalina dan Kevin.


"Kevin!" suara langkah kaki di iringi panggilan, mendekat kearah mereka berdiri saat ini.

__ADS_1


"Itu, Mamah!" Mata Kenan melebar sempurna, belum sempat Kelly menjawab di ujung koridor orang yang di maksud sudah berdiri menatap mereka berdua dengan pandangan tajam.


"Sedang apa kalian disini? Dimana Kevin?" tanyanya dengan langkah mendekat.


"Kevin diam-lah!" suara dari dalam kamar menjadi jawaban untuk pertanyaan sang Mamah.


Dia mendengus kesal, dia beralih menatap pintu tertutup tersebut, "kalian membiarkan mereka melakukan itu disini?" Nyonya Gwen menatap tak percaya.


Kelly dan Kenan hanya diam, mereka membuang muka kearah lain.


Tok...Tok...


"Kevin, buka pintunya. Ini Mamah!"


Hening seketika, sesaat kemudian pintu pun terbuka, Kevin sudah tampak rapi kembali dengan pakaiannya, begitu-pun dengan tempat tidurnya.


"Apa yang kau lakukan di tempat ini, dengan dia?" tatapan mata Nyonya Gwen mengarah tajam pada Kalina.


Kevin mendengus tawa, "apa perlu aku mengatakan pada Mamah apa yang aku dan Istriku lakukan di dalam kamar?" Kevin melingkarkan lengan di pinggang Kalina, menarik tubuh Kalina agar merapat ke-tubuhnya.


"Hah, sungguh tidak bermoral," dia mendengus kasar, "kau lupa Vin, Kelly juga istrimu. Kenapa kau membiarkan dia menunggumu diluar?"


"Apa aku menyuruhmu menungguku?" Kevin melontarkan pertanyaan pada Kelly, namun wanita itu hanya diam.


Nyonya Gwen menghela napas berat, "sekarang ikut Mamah temui klien, mereka sudah menunggumu, Kelly kamu juga ikut. Dan kamu Kenan, urus wanita itu!" Gwen pun lantas berlalu dengan mulut menggerutu.


"Aku pergi dulu, pulanglah bersama Kenan dan tunggu aku di rumah." Kevin mengusap pipi Kalina lantas berlalu di ikuti Kelly di belakangnya.


Kenan menatap Kalina dengan pandangan tak terbaca seraya melipat tangan di dada, "apa sih, Nan? Kenapa natap aku kaya gitu coba?" Kalina salah tingkah.

__ADS_1


Kenan memutar bola mata malas, "udah ayo pulang!" Kalina mendorong tubuh Kenan menuju parkiran.


__ADS_2