Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 44 - Hamil


__ADS_3

Dua bulan berlalu semenjak kepergian Kenan. Kalina kini hanya menghabiskan hari dengan buku atau ponselnya, menonton Drama atau membantu para pelayan memasak.


Kalina berdiri menatap kalender yang sengaja di taruh di atas meja sudut, dia merasa resah karena sampai sekarang dia belum mendapat tamu bulanannya. Sejak Kevin menemukan pil KB tersebut, sejak itu pula Kalina berhenti menggunakan alat kontrasepsi.


"Apa mungkin aku, hamil?" Kalina menghela napas berat, dia menyandarkan punggungnya ke-dinding.


Sungguh sampai saat ini dia belum siap untuk punya anak, mengingat kehidupannya tidak seperti kehidupan semua orang yang terbuka dengan hubungan yang mereka jalani.


Ceklek...


Pintu terbuka, menampakan wajah Kevin yang tersenyum kearahnya. Dia baru saja pulang bekerja, Kevin membuka jas dan melonggarkan dasinya, menaruh tas jinjing yang dibawanya sembarangan.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Kevin sembari menangkup pipi Kalina, dia mencium pucuk kepala Kalina lembut.


Kalina menggeleng pelan, dia membuka dasi yang Kevin kenakan, "jangan bohong, aku melihat raut wajah-mu yang muram. Katakan padaku, ada apa?" dia memaksa.


"Ini bukan masalah besar, Vin. Lupakan saja," Kalina enggan menjawab.


"Lin." Geram Kevin memaksa, seperti biasa dia pasti begitu.


Kalina menghela napas ringan, "emh, aku belum dapat tamu bulanan," ucapnya.


Kevin mengedipkan matanya tak mengerti, "tamu? Haid, maksudnya?" Kevin mempertegas kata-kata Kalina. Wanita itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Oh mungkin belum waktunya saja, kenapa kau sangat cemas?" Kevin tersenyum, mengusap pipi Kalina lembut. Dia menghempaskan diri ke-ranjang.


Kalina menghela napas seraya membuang muka, "Lin, kau tidak senang?" tiba-tiba Kevin berucap membuat Kalina yang tengah meraih tas Kevin yang teronggok di ranjang menghentikan niatnya sebentar.


"Apa maksudmu?" Kalina menghindari tatapan Kevin.


"Kau tahu apa maksudku Lin, aku tidak akan memaksa lagi kamu melahirkan anakku. Tapi, kau harus berjanji untuk tetap di sampingku apa pun yang terjadi."


Kalina mendengus senyum, "apa yang kau katakan, lagi pula jika memang aku hamil aku juga akan sangat bahagia."


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja, dia anakku. Bagaimana aku tidak bahagia." Kalina tersenyum lembut.


Kevin bangkit, dia menatap mata Kalina dengan mata berbinar, "ayo kita periksa!" ajaknya.


"Sekarang? Ini sudah malam Vin."


"Tidak papa ayo, sekalian kita jalan-jalan. Pakai jaketmu, diluar dingin."


"Kalian mau kemana?" tanya Kelly yang baru turun dari lantai atas.


"Kami mau pergi--," perkataan Kevin seketika terhenti saat Kalina menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Kami mau pergi jalan-jalan Mbak. Mbak, mau ikut bersama kami?" Kalina tersenyum.


Kelly memutar bola mata malas, dia berlalu meninggalkan Kalina dan Kevin begitu saja.


"Ayo!" Kalina menarik tangan Kevin mengikuti langkahnya.


"Kenapa kau berbohong?"


Kalina melepaskan genggaman tangannya, "aku tidak berbohong, kita memang mau pergi jalan-jalan kan, aku tidak sepenuhnya berbohong."


Kalina masuk kedalam mobil terlebih dahulu dan duduk manis disana, Kevin tersenyum lantas menyusul.


"Tuan, anda akan menyetir sendiri?" tanya sopir yang selalu mengantar Kevin kemana pun dia pergi, dia menghampiri mobil.


"Iya, kau istirahatlah." Jawabnya.


Mobil yang Kevin bawa melaju di jalanan, dia tak henti-hentinya tersenyum sepanjang perjalanan.


"Kenapa kamu senyum-senyum terus sih?" Kalina ikut tersenyum walau dia tidak mengerti apa yang memuat Kevin begitu.


Kevin menggenggam tangan Kalina dengan sebelah tangannya, "aku sangat bahagia Lin, saat aku mendengar kata-kata kamu tadi. Jadi, bibir aku gak bisa berhenti tersenyum." Lagi-lagi Kevin tersenyum.


"Dih, dasar lebay!" Kalina menggeplak lengan Kevin.


"Eh kita udah sampai?" Kalina mengedarkan pandangannya kesekitar.


"Tapi Vin, kita belum membuat janji sama dokternya, loh." Kalina mengingatkan.


"Tidak papa, dokternya adalah kenalanku." Kevin tersenyum.


"Ke-kenalan kamu? A-aku--," Kalina tampak cemas tangannya saling meremas satu sama lain.


"Hey, kamu itu selalu berpikiran buruk Lin, dia sudah tahu hubungan kita. Sudah, ayo turun!"


Kevin menggenggam tangan Kalina mengikuti langkahnya memasuki rumah sakit swasta tersebut, yang pasti rumah sakit ini takkan bisa Kalina datangi tanpa Kevin di sampingnya.


"Permisi, apa Dokter Vano ada?" tanya Kevin pada penjaga resepsionist.


"Apa anda sudah membuat janji?" dia balas bertanya.


"Hubungi saja dia, bilang padanya, bahwa Kevin Alterio ingin bertemu." Wanita itu pun mengangguk dan mengambil gagang telpon.


Dia bicara sebentar di telpon dan kemudian mengangguk lantas menutupnya, "beliau mempersilahkan anda datang keruangannya di lantai dua, Tuan!"


"Terimakasih!"


Kevin menggenggam jemari Kalina, menarik mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Tok...Tok...Tok...


Kevin mengetuk pintu beberapa kali, terdengar suara orang mempersilahkan dari dalam.


"Tuan Kevin, mari masuk. Selamat datang, sudah lama sekali kita tidak berjumpa." sapanya seraya menjabat tangan Kevin.


"Ini?" dia menatap Kalina penuh tanya.


Kevin tersenyum, "dia Kalina istri saya."


"Ah, istri anda," dia mengedipkan sebelah matanya. Kevin hanya terseyum lantas duduk.


Dokter Vano bicara di telpon, dia meyuruh bawahannya membawa makanan dan minuman ke ruangannya.


"Tidak usah repot-repot Dokter Vano, saya tidak akan lama. Saya datang kesini, ingin memeriksa Istri saya, kemungkinan dia sedang hamil."


"Wah, selamat Tuan Kevin, saya turut senang!"


"Itu belum pasti Tuan Vano," sanggah Kevin.


"Kalau begitu, Nyonya Alterio boleh saya mengecek nadi Anda?" ucapnya sopan, namun matanya menatap Kevin seolah meminta izin.


"Tentu Dokter silahkan." Kalina mengulurkan tangannya.


Dia menjalani serangkaian pemeriksaan dan USG.


"Tuan Kevin, lihatlah, itu anak kalian." Dokter Vano menunjuk monitor berwarna abu-abu dengan gambar yang bergerak-gerak.


Kevin mendekat dia menilik layar tersebut, "yang mana dok?" dia menilik bingung.


Dokter Vano terkekeh pelan, "anak kalian masih berupa gumpalan darah, jadi belum terlihat dengan jelas." Dia menunjuk gambar bulatan kecil yang tak beraturan.


"Oh begitu," Kevin tersenyum menatap gambar tersebut, dia menggenggam lengan Kalina, air mukanya tampak bahagia.


'Aku senang melihat senyum tersemat di bibirmu. Seakan duniaku jadi lebih berwarna, tapi kecemasan dalam hatiku pun, enggan mereda.'


"Lin, lihatalah itu anak kita!" Ucapnya dengan wajah sumringah.


"Kau hamil sayang, kita akan punya anak!" Kalina mengangguk sembari tersenyum.


"Terimakasih, untuk kebahagiaan yang kau berikan." Kevin mengecup dahi Kalina lembut.


"Dokter Vano, terimakasih telah menyempatkan waktunya. Dan mohon maaf kami telah mengganggu waktu berharga anda." Ucap Kevin sembari menjabat tangan Dokter Vano. Dokter muda kisaran 35 tahunan itu tampak tersenyum ramah, tentu saja dia senang dengan kunjungan koleganya yang sering berdonasi di rumah sakit keluarga yang Ia kelola ini.


"Sama-sama Tuan Kevin, apa yang anda katakan, anda tidak menggangu sama sekali. Justru saya sangat senang, anda bisa berknjung kapan saja."


"Syukurlah kalau begitu," Kevin tersenyum, "kami permisi dulu!" Setelah berpamitan Kevin dan Kalina pun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2