Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 39 - Pernyataan Cinta Kenan


__ADS_3

"Ngapain kamu tadi sama Kakak?" tanya Kenan dengan pandangan masih terfokus ke-jalanan.


"Ngapain kamu tanya-tanya, aku sama Kevin kan udah nikah, jadi wajar dong kita mau ngapa-ngapain juga. Makanya kamu cepetan cari calon istri biar cepet nikah." Kenan memutar bola mata malas, dia mendelik pada Kalina.


"Nan, Mamah kamu kayanya sayang banget ya sama Kevin."


"Menurut kamu begitu?" Kenan malah balik bertanya.


"Ya, emang gitu, kan!"


Kenan hanya mendengus, sambil tertawa, "ya kamu benar. Kamu gak sakit hati sama perkataan Mamah?"


"Enggak ko, menurutku wajar aja sih kalau Mamah kamu marah, dalam pandangan semua orang aku ini adalah seorang Pelakor, orang tua mana yang tidak akan marah jika pernikahan anaknya hancur karena seorang Pelakor!" Kalina tersenyum lemah.


Ckiiit...


Bruk...


Ouch..., "Nan, kamu apa-apaan sih, tiba-tiba ngerem mendadak begini, kalau ada kendaraan lain di belakang bahaya tahu," gerutu Kalina sembari mengelus dadanya yang berdegup kencang.


"Lin, ikutlah bersamaku. Kita pergi dari tempat ini!" Ucap Kenan tiba-tiba.


Kalina melongok mendengar perkataan Kenan, kemudian tertawa, "Becanda kamu gak lucu."


"Aku gak bercanda, aku serius Lin. Ikutlah bersamaku, hidup bersama Kakak itu hanya akan membuat kamu menderita Lin, tolong dengarkan aku, Lin." Kenan tiba-tiba menggenggam tangan Kalina, membuat wanita itu refleks menghempaskan tangan Kenan.


"Kamu apa-apaan sih, Nan?!" Kalian melotot tajam, "kamu masih waras, kan?"


"Aku masih waras makanya aku bilang kaya gini sama kamu, kalau aku sudah gak waras, aku pasti sudah membawa kamu lari dari rumah Kakak."


Kalina menatap tak percaya, "tunggu, aku masih gak faham dengan tindakan kamu ini, Nan. Kamu nyuruh aku pergi dari Kevin, atas Inisiatif kamu, atau atas keinginan orang lain?"


"Ini semua karena keinginan aku, Lin. Aku suka sama kamu!"

__ADS_1


Kalina melebarkan pandangannya, dia menghela napas dalam, "aku anggap aku tidak pernah mendengar kata-kata ini keluar dari mulut kamu, Nan. Aku harap kamu merenungkan kembali apa yang sudah kamu katakan."


Brak...!!


Kalina membanting pintu mobil sembari berlalu.


"Kamu mau kemana, Lin?!" Teriak Kenan yang juga ikut turun.


"Jangan ikuti aku, Nan! Atau aku akan laporkan semua perkataan kamu sama Kevin." Ancam Kalina dengan tatapan kesal.


"Tapi tempat ini masih jauh dari rumah, Lin. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu." Kenan memaksa.


"Mulai sekarang panggil aku, Kakak! Kamu sudah kurang ajar karena memanggil Istri Kakak-mu sendiri dengan namanya." Ujar Kalina kesal, dia berlalu dengan cepat meski Kenan terus saja meneriakinya.


"Dia benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa dia bilang suka sama aku, Kenan sialan!" gerutu Kalina dengan wajah kesal.


"Sial, gak ada taksi lagi," keluhnya, kakinya terasa sakit karena sepatu hak tinggi yang di kenakannya, "sepertinya kaki-ku lecet."


Cekitt...


Suara mobil berhenti tepat di depan Kalina, membuat matanya menilik tajam.


"Lin, kamu kenapa?" ternyata itu Abran, Kalina bisa bernapas lega, dia takut jika itu orang jahat.


"Aban, aku baik. Kaki-ku hanya lecet," Kalina tersenyum canggung, Abran menilik sepatu yang teronggok di samping Kalina.


"Kamu tunggu sebentar," ucapnya seraya berlalu menuju mobilnya. Tak berselang lama, dia kembali dengan sandal jepit berwarna biru dan satu kotak P3K di kedua tangannya.


Dia berjongkok di hadapan Kalina, "Ka-kamu mau ngapain?" tanya Kalina gugup saat Abran meraih kaki Kalina dan meletakkan di atas lututnya.


"Kaki kamu lecet, aku akan mengobatinya," jawab Abran tenang sembari tersenyum.


"Ngomong-ngomong kamu habis dari mana dengan pakaian begini?" tanya Abran tampak penasaran, "ini bukan gaya kamu loh, Lin."

__ADS_1


"Emh, aku tadi habis pergi reuni sama temen SMA." Dalih Kalina memberi alasan.


"Oh gitu," Abran meletakan kaki Kalina di atas sandal jepit yang Ia bawakan, "sebaiknya kamu jangan terlalu memaksakan diri memakai sandal seperti ini, Lin." Ucap Abran sembari duduk di samping Kalina.


"Terima kasih sudah mengobati dan meminjamkan sandal ini, nanti akan secepatnya aku kembalikan," ujar Kalina.


"Gak papa Lin, santai aja. Kamu udah makan belum?" tanya Abran.


"Emh, belum sih," jawab Kalina jujur, benar tadi di pesta dia hanya minum jus dan belum sempat memakan apa-pun.


"Disana ada bakso, mau makan bareng?" tunjuk Abran pada sebuah gerobak yang terpajang di pinggir jalan.


"Wah, mau dong! Udah lama aku gak makan bakso!" ujar Kalina penuh semangat, air liurnya hampir menetes.


"Oke, aku yang traktir, tapi lain kali kamu yang harus traktir!"


"Siap bos!" Ucap Kalina.


Kalina dan Abran melenggang bersama menuju sang penjual jajanan berbentuk bulat dengan campuran daging tersebut, dengan kuah dan sayuran sebagai pelengkap.


"Bang baksonya yang pedes ya, pake cuka dikit."


"Siap, Neng! Kalau Mas-nya?" tanya sang penjual pada Abran.


"Punya saya jangan terlalu pedes Bang, tambahin pangsitnya aja." Ujar Abran.


"Kamu masih sama kaya dulu ya, gak suka pedes." Ujar Kalina sembari menyesap es teh manis dari gelas di hadapannya.


"Kamu masih inget aja," Abran terkekeh pelan.


"Inget dong, aku kan gak amnesia." Kalina tertawa renyah.


"Dasar!" Abran dan Kalina bercengkrama sembari menyantap bakso tersebut.

__ADS_1


__ADS_2