
"Astaga...Kakak!" Pekik Kenan yang seketika membuat semua orang menoleh, terlihat Kevin sudah jatuh dengan posisi terlentang di tanah.
"Kevin!" Teriak Kalina dia melompat turun dari pohon mangga, "astaga, ngapain kamu mendekat sih, udah tahu aku lagi metik mangga. Nan, ayo bawa dia kedalam dulu." Kalina dan Kenan menggotong Kevin dan menidurkannya di kamar Kalina.
Ibu Kalina yang bernama Rosni pun datang dengan wajah panik, "Lin ada apa dengan Nak Kevin?" tanyanya di ikuti seorang bidan di belakangnya.
"Lah Ibu ko malah manggil bidan sih?" bisik Kalina.
"Dokter terlalu jauh Lin, yang deket cuma ada bidan Nela doang, gak papa lah ya yang penting Nak Kevin di periksa," ucapnya balas berbisik.
"Siapa yang mau melahirkan Bu?" tanya bidan muda itu dengan pandangan ter-edar ke segala arah.
"Hah siapa yang mau lahiran, Lin?" tanya Kenan bingung.
"Tidak ada yang mau lahiran Bu, i-ini temen saya kepalanya kejatuhan mangga, jadi saya ingin minta tolong untuk memeriksanya," ucap Kalina dengan wajah malu.
"Lah kirain saya ada yang mau lahiran," bidan itu terkekeh sambil mendekat ke arah Kevin, dia mulai memeriksa kepala Kevin, disana terdapat benjolan berwarna merah sebesar jempol kaki.
"Ko bisa sih temen kamu ketiban mangga Lin," ucap sang bidan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Hehe Ia Lina tadi gak tahu kalau dia ada di bawah pohon, Lina jatuhin mangga-nya tanpa nengok dulu, tahunya kena kepala Kevin."
"Lain kali tuh hati-hati Lin, kamu mah ceroboh banget, kasian tuh Nak Kevin," gerutu Ibu Rosni.
"Alah kepala dia mah keras Bu, kuat pasti," Kenan bersidekap sambil melempar pandang heran pada Kalina.
'Ko bisa ya Kakak jatuh cinta sama Kalina, secara dari segi kehidupan mau pun sikap mereka saling bertolak belakang, tapi mungkin disinilah sisi Kalina yang membuat Kakak kagum, dia tidak pernah mengeluh dan meratapi nasibnya yang hanya seorang yatim piatu.'
Tanpa sadar semua sudah pergi tinggal Kenan, Kalina dan Kevin yang masih terbaring tak sadarkan diri. Kalina tampak sedang mengompres kepala Kevin yang benjol, "duh benjolannya lumayan gede, ini sakit gak ya?" Kalina mengeluarkan pertanyaan yang menurut Kenan sama sekali tak butuh jawaban.
"Ya pasti sakit lah, kalau gak sakit pasti Kakak gak bakalan pingsan," jawab Kenan.
"Apa jangan-jangan dia gegar otak?" tanya Kalina dangan pandangan melebar.
"Entahlah, mungkin. Melihat dari lumayan kerasnya mangga itu nimpa kepala Kakak, kemungkinan dia bakalan kena amnesia."
__ADS_1
"Hah amnesia? Dia bakalan lupa ingatan, wah bagus dong kalau ia," ucap Kalina nampak senang.
"Apanya yang bagus?" tanya Kevin yang baru saja tersadar, dia memegangi kepanya yang terasa berdenyut sambil meringis.
"Vin kamu gak papa? Kamu masih ingat siapa nama kamu?" Kevin hanya terdiam sambil menatap bingung.
"Kalau sama aku inget gak?" tanya Kalina lagi, namun Kevin tetap diam.
"Wah kayanya bener kata kamu Nan, Kevin amnesia," Kenan hanya mengulum senyum sambil menutup mulut dengan jemarinya.
"Apanya yang amnesia, aku masih sangat ingat kamu nimpuk kepala aku pake mangga. Untung kepalaku hanya benjol," keluh Kevin sambil meringis.
"Eh, aku pikir kamu amnesia," Kalina terkekeh, "tenang aja benjolannya udah aku obati bentar lagi juga kempes," ucapnya seraya bangkit.
"Kamu mau kemana?" Kevin mencekal tangan Kalina.
"Aku mau makan mangganya, gara-gara kamu acara makan mangga kami jadi tertunda."
"Kamu tega mau ninggalin aku sendiri? Aku kaya gini gara-gara kamu," ucap Kevin.
Kevin manyun sambil menunduk seperti anak kecil yang kena omelan Ibunya, Kenan hanya bisa menggeleng melihat kebucinan sang Kakak.
"Dah ah aku keluar dulu, Nan jagain tuh Kakak kamu!"
"Lah ko jadi aku, kamu kan Istrinya."
"Hus, kalau ngomong itu jangan sembarangan, kalau di denger orang gimana." Kalina memekik kesal. Kenan hanya memutar bola mata malas.
Kalina pun pergi, menyisakan Kenan dan Kevin di ruangan itu, "masih sakit kah Kak?"
"Ya sakit lah, kamu pikir mangga muda itu tahu apa," Kevin langsung nyolot.
"Lah ko aku yang dimarahin sih Kak, yang niban kepala Kakak pake mangga kan Kalina," keluh Kenan tak terima.
Kevin meringis sambil memegang kepalanya, sakit dan pusing yang Ia rasakan, dia kembali membaringkan tubuh sambil memejamkan mata, "Kakak mau aku bawa ke rumah sakit?" tawar Kenan.
__ADS_1
"Gak usah lah, biarin Kalina yang rawat aku, panggil lagi dia," ucapnya.
"Kak, Kakak lupa ini bukan di rumah kalian, kemungkinan Kalina akan menolak jika harus berduaan teru dengan Kakak. Biar aku saja," Kenan mengambil handuk kecil yang Kalina gunakan untuk mengompres kepala Kevin tadi, lalu menempelkannya kembali ke bagian benjolan di kepala Kevin.
"Pelan-pelan Nan, sakit," keluh Kevin sambil meringis.
"Iya Kak ini juga udah pelan ko," balas Kenan.
Kalina datang membawa sepiring penuh potongan buah mangga, beserta sambal rujak buatannya, "Nan kamu suka buah yang asam kan, coba ini." Kalina menyodorkan buah tersebut pada Kenan.
"Wah kayanya enak tuh, pedes gak?"
"Gak terlalu pedes ko, kamu coba aja."
"Orang lain kamu tawarin, tapi suami sendiri kamu anggurin," cibir Kevin.
"Bukannya kamu gak suka yang asam-asam kan, ngapain juga aku tawarin, kalau aku sudah tahu jawabannya." Ucap Kalina ketus.
"Seenggaknya basa-basi ke," keluh Kevin.
"Wah sambal buatan kamu enak Lin, rasanya pas," komentar Kenan sambil terus makan rujak tersebut.
Kevin melambaikan tangan meminta Kenan mendekat, "apaan Kak?"
"Sini!"
Kenan pun menghampiri, sambil membawa piring rujak tersebut, di luar dugaan Kevin merampasnya, "aku juga bisa memakannya," ucapnya seraya mengambil sepotong mangga muda yang di lumuri sambal ke mulutnya.
Kalina dan Kenan tampak terkejut, "Vin kamu apa-apaan sih, kalau gak suka jangan maksain diri," Kalina merampas kembali piring itu dan menaruhnya di meja.
Kevin mengernyit, walau makan ini terasa asing di mulutnya belum lagi rasa asam yang di hasilkan, dia tetap berusaha menelannya, "muntahin," perintah Kalina sambil menyodorkan tisu.
Kevin menggeleng memberi penolakan, "muntahin, nanti kamu sakit," paksa Kalina. Kevin tetap menolak.
"Jangan kaya anak kecil deh Vin, aku gak pernah masksa kamu untuk makan apa pun yang aku makan."
__ADS_1
Kevin tersenyum, "Lin, aku hanya berusaha untuk merasakan apa yang kamu rasakan, aku juga ingin menyukai apa yang kamu sukai. Aku ingin berusaha memahami dirimu sepenuhnya, apa yang kau sukai dan tidak kau sukai, aku ingin tahu semuanya."