Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 13 - Dia Nanke


__ADS_3

Kalina berjalan sejajar dengan Kevin, namun Ia tetap memberi jarak aman, dia tak ingin orang menganggapnya sedang pamer kemesraan.


"Vin, berapa meter luas rumah ini?" tanya Kalina dengan pandangan tak henti-hentinya beredar.


"Kenapa kamu tanya luasnya?"


"Cuma pengen tahu aja," ucap Kalina sembari menatap foto pernikahan Kevin dan Kelly yang kebetulan tergantung di dinding rungan yang mereka lewati.


"Aku akan menyuruh orang memindahkannya," ucap Kevin, seolah dia melihat kecemburuan di wajah Kalina.


"Kenapa di pindahin?" tanya Kalina bingung.


"Kamu gak merasakan apa-apa saat melihat foto ini?" tanya Kevin setengah menyelidik.


"Merasakan apa? Kalau kagum sih Ia, pernikahan kamu dan Mbak Kelly sangat megah," Kalina tersenyum.


"Kamu mau mengadakan acara seperti itu juga," refleks Kalina menggeleng.


"Kenapa?"


"Tidak papa, hanya tidak ingin saja."


"Kalau kamu mau, aku akan segera mempersiapkannya," tawar Kevin.


"Tidak, terima kasih," tolak Kalina halus.


"Ayo ajak aku ke tempat lain," Kalina mengalihkan perhatian Kevin.


"Itu ruang gym, kalau kamu ingin berolah raga kamu bisa datang ke tempat ini dan di sebelah sana ada ruang membaca banyak koleksi buku yang mungkin kamu sukai," tunjuk Kevin ke arah berlawanan.


"Oke, tapi percuma kamu memberi tahu aku semua ini, kalau keluar kamar pun aku tak bisa," keluh Kalina dengan wajah mematut.


"Baiklah, mulai besok kau bisa keluar kamar. Tapi ingat, sebisa mungkin jauhi Kelly, jangan berinteraksi terlalu banyak dengannya," Kevin berpesan.


"Mbak Kelly kelihatannya tidak seburuk yang kamu pikirkan," komentar Kalina.


"Itu karena kamu belum tahu watak aslinya, pokonya jangan dekat-dekat dengannya." Kevin tak ingin di bantah.

__ADS_1


Kalina hanya bisa mengangguk untuk ke-sekian kalinya.


~*~


Keesokan harinya, benar saja Kevin tak lagi mengunci pintu kamarnya, dan mengizinkan Kalina keluar. Dia duduk bergabung dengan Kelly di meja makan, karena Kevin pergi terburu-buru jadi mereka tak sarapan bersama.


Air muka Kelly seketika berubah, dia hendak beranjak, namun Kalina mencegahnya "Mbak tidak usah pergi, biar aku saja." Kalina bangkit kembali, dia mengurungkan niatnya untuk sarapan.


"Jangan ber-akting lagi, Kevin tidak ada disini," sindir Kelly.


"Aku tidak ber-akting Mbak, aku memang seperti ini orangnya, jika Mbak menganggap sikapku ini sebagai akting, itu terserah Mbak saja. Intinya aku hanya ingin bisa berteman dengan Mbak."


Seketika Kelly tergelak, tawa yang disertai tatapan sinis, "berteman? Kau menganggap aku bodoh, atau kau sendiri yang bodoh? Sejak kapan Pelakor dan istri sah bisa berteman, aku benar-benar merasa kasihan padamu, karena sampai kapan-pun istri resmi Kevin adalah aku. Malam ini aku dan Kevin akan pergi ke-acara anniversary perusahaan. Sedang kau sendiri, ck ck ck," Kelly menggelengkan kepalanya dengan tatapan mencibir.


"Kalau begitu semoga acaranya lancar," ucap Kalina, lantas berlalu.


Ada setitik rasa tak suka di hati Kalina, mengapa Kevin tak bilang apa-pun soal pesta itu, 'ayolah Lin, sejak kapan acara seperti itu cocok denganmu?' Kalina melenggang menuju dapur, dia mendapati para pelayan tengah bercanda sembari melakukan pekerjaannya. Namun saat Kalina datang, mulut mereka seketika bungkam dan kepala mereka langsung tertunduk.


"Maaf menggangu, kalian lanjutkan saja," Kalina berucap dengan canggung, tadinya dila hanya ingin mengakrabkan diri dengan mereka, sekedar mencari teman ngobrol, namun nampaknya hal itu takkan pernah terwujud mengingat status apa yang dia sandang saat ini, entah mereka segan atau benci terhadap Kalina yang pasti tatapan mereka semua tampak sama.


Seorang pelayan wanita yang entah siapa namanya, berjalan melewatinya dengan sopan, "emh permisi, apa aku bisa minta tolong?" tanya Kalina sopan.


"Tentu, Nyonya bisa menyuruh saya melakukan apa-pun," jawabannya terdengar ambigu, seakan Kalina ingin menyuruhnya melakukan hal buruk.


"Aku ingin minta tolong, bawakan aku makanan ke taman belakang, aku ingin makan disana. Terserah, makanan apa pun boleh," Kalina menambahkan.


"Baik Nyonya, akan segera saya bawakan." Pelayan wanita itu pun berlalu, sedang Kalina sendiri berjalan menuju rerumputan dan duduk di bawah pohon.


"Hem disini lumayan, terasa lebih baik dari pada di dalam," Kalina menghirup udara dalam-dalam.


"Jangan serakah, sisakan oksigennya untuk orang lain juga," tiba-tiba suara seorang pria terdengar dari atas kepala Kalina, sontak dia langsung mendongak.


"Siapa kamu?" tanya Kalina pada seorang pria yang duduk di atas pohon sambil menikmati buah apel yang baru saja di petiknya.


"Harusnya aku yang tanya, kamu siapa?" pria itu malah balik bertanya.


"Dih, ditanya malah balik nanya," Kalina bangkit dari duduknya dengan wajah kesal, dia mengibaskan tangan membersihkan rumput yang menempel di pakaiannya.

__ADS_1


Dua orang pelayan datang membawa nampan berisi bermacam makanan, "Nyonya, kami harus meletakan makanan ini dimana?" tanya salah satu pelayan itu dengan sopan.


"Nyonya?!" pekik Pria tadi dengan mulut tersedak, uhuk...uhuk... dia menepuk-nepuk dadanya pelan, "ja-jadi kamu istri mudanya Kakak?" tanyanya, pertanyaannya tak di hiraukan Kalina, dia sibuk menggelar tikar di atas rumput.


"Letakan disini saja," ucap Kalina sembari mendudukkan diri di atas tikar plastik yang Ia gelar tadi, kedua pelayan itu pun langsung melaksanakan perintah sang tuan.


"Kemarilah, kita makan bersama," ajak Kalina penuh harap, namun kedua pelayan itu malah berjalan mundur sembari menunduk.


"Maafkan kami Nyonya, kami tak berani. Kami undur diri, silahkan Nyonya menikmati makanannya," Kalina berdecak kesal, dia terpaksa harus makan seorang diri.


Bruk...!


Kaki laki-laki itu mendarat di atas rumput dengan selamat, dia menjatuhkan diri duduk bergabung di atas tikar.


"Wah, kayanya enak tuh," dia mencomot sepotong kue yang langsung mendapat geplakan dari Kalina.


"Apa-apaan sih gak sopan banget, kalau mau ambil sendiri di dapur, ini punyaku!" Kalina menarik semua piring berisi makanan itu kearahnya.


"Dih rakus banget, emang kamu bisa ngabisin semua makanannya?" cibir pria itu.


"Bisa ko!"


"Yakin?" Ia tampak ragu.


"Udah ah, jangan banyak bacot aku lapar nih," Kalina menjajal semua makanan yang tersedia di hadapannya, dia melirik wajah pria itu yang tampak tengah memperhatikannya makan.


"Ya udah, ayo makan bareng." Kalina kembali menyodorkan piring bersisi kue tadi kehadapan pria itu, yang langsung di tanggapi dengan penuh semangat olehnya.


"Btw, siapa nama kamu?" tanya Kalina dengan mulut penuh dengan kue.


Pria itu melirik Kalina dari ujung matanya, "Kenan! Kamu bisa panggil aku dengan sebutan, Nanke," ucapnya.


"Hah, aneh banget nama panggilannya," komentar Kalina.


"Kalau kamu?" dia balas bertanya.


"Kalina, panggil saja aku Lina!"

__ADS_1


__ADS_2