
Tiga hari berlalu, sampai saat ini Kalina dan Kevin hanya bertukar kabar lewat pesan, dan itu pun hanya beberapa kali dalam sehari, dia bilang dia ingin menyelesaikan masalah yang ada terlebih dahulu, dia ingin saat nanti mereka menikah secara resmi keadaan sudah kembali normal.
'Sebenarnya apa yang Kevin lakukan? Kenapa dia tidak menjelaskan apa pun padaku, apa di tidak percaya lagi padaku?' gumam Kalina dalam hati, sembari menatap ponselnya dalam genggaman.
Seseorang menyergap dan memeluk Kalina dari belakang, membuat wanita itu terlonjak saking terkejutnya, "astaga Kevin, kamu bikin aku kaget, kapan kamu datang?" tanya Kalina, dia tetap membiarkan Kevin memeluknya dari belakang.
"Baru aja, kamu lagi mikirin apa?" tanyanya penasaran, dia menaruh dagunya di pundak Kalina.
"Kepo," decak Kalina.
"Pasti lagi mikirin aku kan," tebaknya.
"Dih pede banget, orang aku lagi mikirin makanan juga," dalih Kalina.
"Kamu emang pengen makan apa?"
"Pengen yang manis-manis dan seger," jawab Kalina.
"Kalau gitu ayo, kita jalan-jalan, kita makan eskrim."
Mata Kalina berbinar senang, "oke, bentar aku siap-siap dulu," Kalina melepaskan pelukan Kevin dari pinggangnya.
"Kamu keluar dulu, aku mau ganti baju."
"Ganti aja, kenapa aku harus keluar, kita kan suami istri."
"Gak bisa, cepet keluar!" Kalina bersikukuh, dia mendorong Kevin keluar dari kamarnya, dengan malas mau tak mau Kevin pun menurut dan menunggu Kalina sambil bersandar ke dinding.
"Kak Kevin kapan datang kesini?" sapa seorang anak yang kebetulan lewat di depannya.
"Kakak baru datang, kamu bawa apa itu?" tanya Kevin penasaran, dia menilik kotak kardus yang di bawa anak itu.
__ADS_1
"Oh, ini barang-barang yang sudah tidak berguna, Ibu nyuruh aku membuangnya," jawabnya, Kevin hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Dan anak itu pun berlalu.
"Lin, udah belum?" tanya Kevin disertai ketukan pintu.
"Bentar Vin, aku masih cari baju. Baju-baju lama aku udah gak muat, kayanya aku agak gemukkan," keluh Kalina.
"Hah, masa sih? Ko aku liat kamu sama aja kaya dulu," ujar Kevin tak percaya.
"Baju-baju aku gak ada yang muat, gimana dong?"
"Pake aja yang ada dulu, nanti kita beli yang baru," ujarnya.
"Tapi Vin, masa Iya aku pake baju ini keluar, jelek banget."
"Gak papa Lin, nanti kita kan bisa beli sampe disana," Kevin memberi solusi.
"Gak ah Vin, lebih baik aku gak pergi." Ujar Kalina terdengar sedih.
Kevin berdecak kesal, "kamu buka dulu deh pintunya, biar aku bisa liat sejelek apa kamu pake baju itu," geramnya kesal, namun tetap berusaha bersikap tenang.
"Tuh liat, gak ada satupun yang muat, semua ini gara-gara perut aku yang membuncit." Keluhnya sambil mendudukkan diri di tepi ranjang.
"Buncit apaan gak ko, ini mah emang bajunya aja yang udah kekecilan, udah jangan sedih pake apa pun kamu tetep cantik ko, ayuk kita pergi."
"Gak mau ah, kamu aja yang pergi." Kalina mematutkan wajahnya, membuat Kevin menghembuskan napas kasar, disinilah kesabarannya mulai di uji.
"Katanya kamu mau Eskrim."
"Gak jadi, sekarang aku pengen tidur." Kalina membaringkannya diri di ranjang dengan posisi meringkuk.
Kevin sebenarnya ingin marah, tapi dia tahan karena dia tahu wanita hamil itu sikapnya sering berubah-ubah tergantung suasana hatinya, dan mungkin akhir-akhir ini Kalina juga merasa stres karena terlalu banyak masalah yang di hadapinya.
__ADS_1
"Ya udah kalau kamu ngantuk tidur aja, aku keluar dulu," ucap Kevin, namun sebelum dia berlalu Kalina langsung mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan pergi, Vin. Aku minta maaf, kamu pasti jengkel ya ngadepin sikap aku yang kaya gini, sebenarnya aku juga gak ngerti Vin kenapa aku jadi kaya gini, kadang aku suka marah-marah dan sedih gak jelas."
Kevin tersenyum lembut, lantas mendudukkan diri di samping Kalina, "aku mengerti Lin, aku gak marah ko sayang, perasaan yang berubah-ubah itu wajar bagi wanita hamil, tapi Lin apa kamu menyesal mengandung anakku?"
"Tidak sama sekali Vin, justru aku merasa hidupku jauh berubah semenjak dia hadir dalam diriku, aku jadi punya alasan untuk menghargai diriku sendiri karena adanya, dia." Dia itu merajuk pada Janin yang tumbuh dalam rahim Kalina.
"Segalanya akan segera membaik Lin, aku janji secepatnya semua masalah ini akan selesai, aku dan Kelly pun akan segera resmi bercerai." Ujarnya.
"Aku tahu Vin, tapi tolong jangan membahas itu denganku, walau bagaimanapun aku tetap tidak suka mendengar kamu dan Mbak Kelly bercerai, seakan kamu mengatakan bahwa aku penyebabnya." Seketika Kevin terdiam, dia sudah bosan menjelaskan semua itu pada Kalina, jadi dia memutuskan untuk membiarkan saja dia dengan pemikirannya itu.
"Oke, tapi kamu jangan berpikir yang aneh-aneh lagi ya, kamu harus tetap menjaga kesehatan dan jangan terlalu stres, ingat kamu punya anak kita dalam dirimu, jadi kamu harus menjaganya baik-baik, atau aku akan menuntutmu nanti, karena sudah menelantarkan anak seorang Kevin Alterio." Ujarnya sambil mengacak rambut Kalina gemas.
"Iya, kamu tenang saja aku akan menjaganya dengan baik, kamu juga jaga diri baik-baik, jangan terlalu lelah dan sebisa mungkin jangan membuat Mbak Kelly menangis." ucap Kalina.
"Kenapa sih kamu perhatian banget sama Kelly, padahal dia itu jahat sama kamu." Kevin tak habis pikir dengan sifat Kalina, apa dia yang terlalu baik, atau memang Kelly itu benar-benar wanita baik.
"Sudah aku bilang dia bukan wanita jahat Vin, dia hanya korban, sama seperti kamu." Ujar Kalina.
"Korban apanya, disini cuma aku yang jadi korban," keluh Kevin tak terima.
"Ya udahlah nanti juga kamu akan tahu."
Dering ponsel Kevin membuat dia seketika mengangkatnya, "halo!" ujarnya pada benda pipih tersebut, Kalina diam menyimak.
"Apa? Oke, aku akan segera datang kesana." Kevin pun menutup sambungan telponnya dan kembali memasukkan handphonenya tersebut kedalam saku Jas yang ia kenakan.
"Ada apa Vin?" tanya Kalina penasaran.
"Sepertinya ada keributan di rumah utama, aku harus segera pergi kesana, maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama disini," ucapnya sambil menatap Kalina penuh penyesalan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Vin, pergilah dan selesaikan maslahmu, maaf aku tidak bisa membantu, tapi jika kamu butuh seorang pendengar datanglah padaku, aku akan menjadi pendengar yang baik," Kevin membawa Kalina dalam dekapannya, sampai saat ini dia masih belum bisa membuat Kalina bahagia dan itu menjadi penyesalan terdalamnya, dia ingin menebus segalanya sesegera mungkin.
"Tunggulah aku Kalina."