Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 9 - Tes Melarikan diri


__ADS_3

Keesokan harinya, Kalina terbangun sendirian di atas ranjang, Kevin yang semalam tidur di sampingnya sudah lenyap dari pandangan, Kalina meraih ponselnya yang teronggok di atas nakas, dia menilik layar gawai tersebut yang menunjukan pukul 08:00 pagi.


Pantaslah Kevin sudah tak ada, dia sepertinya sudah pergi bekerja, suara ketukan di pintu mengalihkan atensi Kalina, "selamat pagi Nyonya, Tuan menyuruh saya mengantar sarapan ke-kamar anda."


"Aih buset, udah kaya ratu aja hidup gue." gumam Kalina, bahkan iler-nya aja belum di cuci, sarapan sudah di depan pintu.


Kalina beranjak dari ranjang, lantas membuka pintu. Seorang wanita muda berseragam hitam putih berdiri di ambang pintu dengan membawa segelas susu dan satu buah roti sandwich, "Tuan berpesan agar anda bersiap untuk nanti siang, beliau akan pulang untuk makan siang bersama anda, Nyonya." Kalina hanya mengangguk, dia mengambil nampan tersebut dari pelayan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Hidupnya bagai di dunia mimpi saja, Kalina menutup kembali pintu kamarnya lantas kembali menghempaskan diri ke atas ranjang.


"Selamat pagi sayang, aku tak berani membangunkan-mu jadi aku pergi bekerja tanpa memberi tahu-mu, jika kau masih mengantuk tidurlah lagi, nanti siang aku akan pulang. Sampai nanti, dandan-lah yang cantik." Isi pesan di layar gawai Kalina.


"Nyonya, Tuan berpesan jika Nyonya muda tidak boleh di ganggu, anda di larang masuk!" terdengar suara keributan dari arah luar, membuat Kalina sontak terduduk.


"Kalian berani menentang saya sekarang? Jangan lupa, saya juga Nyonya di rumah ini, saya lebih berhak atas Kevin dari pada wanita ****** itu," terdengar suara Kelly dari luar, sudah pasti akan ada keributan hari ini, Kalina menghela napas berat, hidupnya sudah seperti dalam sinetron jadi Pelakor dan mendapat cacian dari istri pertama.


"Maafkan kami Nyonya, kami tak berani!" Brak... Pintu terbuka seketika, tampaknya Kelly setengah menendangnya.


"Pagi Mbak!" sapa Kalina, "kenapa harus di tendang sih Mbak? Itu pintu gak di kunci padahal, Mbak tinggal masuk aja."


"Heh Pelakor, keluar kamu sekarang, saya ingin bicara!" titahnya.


"Lah, kenapa gak Mbak aja yang masuk?" Kalina mengernyit heran, pasalnya pergerakan Kelly terhenti di depan pintu seolah ada benda tak kasat mata yang menghalangi pergerakannya.


"Saya gak bisa masuk kesana," dalihnya sembari membuang muka tangannya refleks terlipat di dada.

__ADS_1


"Kenapa gak bisa masuk, Mbak?" Kalina menatap heran.


"Kamu bisa gak sih gak usah banyak bacot, tinggal keluar aja susah banget." Kalina menghela napas berat lantas turun dari ranjang, beranjak menghampiri Kelly.


Kelly mengisyaratkan agar para pelayannya pergi meninggalkan dia dan Kalina berdua, "kamu mantannya Kevin?"


"Istrinya, kalau sekarang Mbak," larat Kalina.


Kelly berdecak kesal, "berapa uang yang kamu inginkan? Kamu sebutkan saja nominalnya, aku akan kasih kamu berapa pun, asal tinggalkan Kevin."


Kalina tersenyum seraya melipat tangan di dada, "Mbak mencintai Kevin?" bukan jawaban yang Kelly dapati namun balasan pertanyaan.


"Tentu saja, tidak akan ada wanita yang mencintai Kevin di dunia ini melebihi cintaku untuknya," Kelly menyombongkan diri.


Kalina tersenyum sambil menunduk sekilas, "oke aku akan meninggalkan Kevin, tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, aku terikat sebuah janji dengannya yang tak mungkin aku ingkari, tolong beri aku waktu Mbak. Lagi pula jika aku pergi sekarang aku yakin Kevin akan kembali membawaku ke rumah ini."


"Mbak gak percaya? Mari kita buktikan!" Kalina masuk kembali kedalam kamar dan pergi membasuh muka, lepas itu Ia berganti pakaian, aksinya tak lepas dari sorotan mata Kelly.


Kalina sudah kembali memakai pakaiannya yang sebelumya, yakni celana jeans sobek-sobek serta sweater Hoodie miliknya, tak lupa Ia juga menguncir rambutnya.


Dia meraih segelas susu dan satu roti sandwich, "Mbak boleh pinjem duit gak? Soalnya Kevin gak kasih aku duit."


Kelly mengernyitkan dahinya, "mau kemana kamu?"


"Tadi kan Mbak yang nyuruh aku pergi, ya aku mau pergi pulang ke-rumahku kemana lagi."

__ADS_1


"Tu-tunggu nanti aku harus bilang apa pada Kevin?" Kelly tampak bingung.


"Terserah Mbak, sini mana uangnya!" Kelly memberikan beberapa lembar uang bergambar presiden Indonesia pertama pada Kalina.


Kelly tampak bingung, pasalnya tidak sesusah dalam bayangannya menyuruh Kalina pergi dari rumah ini, "kalau Kevin marah sama aku gimana?" gumamnya pelan.


"Tu-tunggu, sebaiknya kamu jangan pergi hari ini, aku harus cari alasan dulu untuk mengelabui Kevin, atau dia akan marah besar." Kelly berusaha mencegah kepergian Kalina, meski awalnya dia ingin Kalina cepat pergi, tapi mengingat amarah Kevin yang sering kali membludak nyali Kelly kembali ciut.


"Aku gak akan benar-benar pergi ko Mbak, cuma jalan-jalan bentar," Kalina tetap kekeh untuk pergi meski Kelly berusaha mencegahnya.


Kalina kembali menghampiri Kelly yang masih belum beranjak dari tempatnya semula, "Mbak, penjagaan di rumah ini ketat banget ya. Mbak punya jalan rahasia gak?"


"Setahuku di rumah ini gak ada yang namanya jalan rahasia, tapi sebentar lagi akan ada truk pengantar bahan makanan yang akan segera keluar, kalau kamu mau kamu bisa pergi ikut mereka." Kalina tersenyum cerah.


"Wah makasih Mbak, tidak ku sangka Mbak Kelly baik banget!" Kalina merangkul Kelly yang seketika memberontak.


"Ih, apa-apaan sih kamu main peluk-peluk aku gitu aja!" Kelly mendorong Kalina sembari mengibas-ngibaskan bajunya seolah terkena kotoran.


"Hehe maaf Mbak, aku kelewat seneng jadi langsung peluk Mbak deh!" Kalina kembali berlalu, dia berjalan sambil mengendap-ngendap menuju dapur.


Terlihat para pelayan pria bergotong royong membawa bahan makanan yang menurut Kalina cukup untuk stok makan Ia dan adik-adiknya selama sebulan, 'Buset, si Kevin ini sultan-nya emang gak main-main, sampe borong semua isi supermarket,' Kalina menggeleng pelan.


Saat semua orang lengah, Kalina mengendap-endap masuk kedalam salah satu bak truk yang hendak keluar, dia berjongkok menghindari pemeriksaan yang selalu para penjaga lakukan pada kendaraan yang keluar masuk area rumah ini.


Akhirnya Kalina bisa bernapas lega, truk itu lolos dari pemeriksaan, soal menyelundupkan diri Kalina tidak kalah dengan para maling kelas kakap, meski dia hanya seorang amatiran. Truk berhenti di sebuah pom bensin yang lokasinya cukup jauh dari area rumah mewah Kevin.

__ADS_1


Kalina turun dengan perlahan, selepas itu Ia berjalan setengah berlari sebelum ada yang menyadarinya, tinggal di rumah mewah memang menyenangkan, tapi memiliki kebebasan jauh lebih menyenangkan. Berada satu hari di rumah Kevin rasanya membuat jiwanya tertekan. Kalina berjalan di trotoar, tak lupa ia membeli gorengan jajanan abang-abang pinggir jalan karena perutnya hanya terisi satu buah sandwich saja tadi, yang membuat perutnya kini membutuhkan asupan makanan.


__ADS_2