Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 12 - Berbohong!


__ADS_3

Selepas kepergian Kevin, Kalina membaringkan diri di ranjang, seluruh kamar ini sudah terjamah olehnya, membuat Kalina merasa bosan, bahkan bermain ponsel pun sudah tak terasa menarik lagi, dari bangun hingga tidur lagi semua Ia lakukan di dalam kamar.


"Aah, gue pengen keluar," rengek Kalina, dia yang jarang berada di rumah selama hidupnya, harus diam di satu ruangan yang sama selama berhari-hari, ini benar-benar sebuh siksaan berat untuknya.


Dering ponsel mengalihkan atensi Kalina, Ia menilik layar gawai-nya yang menampilkan foto sang Ibu, "halo Bu," Kalina menyapa.


"Halo Lin, gimana kabar kamu?" tanya sang Ibu.


"Lina baik Bu, adik-adik gak nyusahin Ibu kan?" tanya Kalina.


["*Nggak ko Nak, mereka anak yang baik. Oh ya Lin, barang kiriman kamu udah sampai, anak-anak ayo bilang makasih sama Kak Lina!" ucap sang Ibu.]


["Makasih Kak Lina!" ucap Anak-anak serempak*.]


'Hah, barang apaan? Gue bahkan gak punya duit sama sekali,' batin Kalina.


"Haha, iya sama-sama, kalian jangan nakal ya, bantu jaga adik-adik yang lebih kecil, kasian Ibu nanti kecapean," tambah Kalina.


["Iya Kak!" mereka kembali menjawab serempak.]


'Apa Kevin yang kirim barang-barang itu? Dia emang selalu menepati janjinya,' Kalina mengukir senyum di bibirnya.


["Lin, emang kamu kerja apa? Sampai bisa beli barang sebanyak ini?" tanya Ibunya penuh selidik.]


'Mampus kamu Lina, Ibu mulai curiga.'


"Err, Lina ngambil kerja part time Bu, jadi kerjaan Lina gak cuma satu. Jadi gaji Lina cukup lumayan-lah, untuk sementara ini kita tidak perlu mengkhawatirkan masalah makanan." Ujar Kalina.


["Iya Lin, tapi kamu harus tetap jaga diri ya Nak, ingat pesan-pesan yang Ibu ajarkan padamu, harga diri seorang wanita ada pada kehormatannya." Ibu mengingatkan, Kalina mengiakan disertai anggukan kepala.]


Kalina merenung dia mengingat setiap ucapan yang terlontar dari mulut sang Ibu.


'Apa yang aku lakukan sekarang termasuk jual diri?'


'Tapi dengan melakukan hal ini hidup adik-adikku terjamin, Kevin menepati kata-katanya, tapi sampai kapan ini akan berlangsung, mungkin seiring berjalannya waktu Kevin akan merasa bosan. Dan besar kemungkinan jika perasaannya terhadapku akan berubah.'

__ADS_1


Ceklek... Pintu pun terbuka, menampakan wajah tampan Kevin, namun agaknya Kalina tak menyadari kedatangannya.


"Lin, kamu lagi mikirin apa?" tanya Kevin sembari melucuti pakaiannya.


Hem, Kalina menoleh, "Kevin, kapan kamu pulang?" tanya Kalina merasa heran, kenapa dia bisa tidak menyadari kedatangan Kevin.


"Itu karena kamu terlalu sibuk mikirin artis Korea, makanya suami datang pun sampai kamu tidak menyadarinya," cibir Kevin.


"Mana ada mikirin artis Korea, aku tadi habis telponan sama Ibu katanya ada yang ngirim barang ke panti atas nama aku," larat Kalina.


"Oh itu, aku yang mengirimnya. Apa kamu senang?" Kevin duduk dengan pandangan tak lepas dari wajah Kalina.


"Terima kasih, tapi Vin--," Kevin meletakan jari telunjuknya di bibir Kalina, tak membiarkan gadis itu menuntaskan kata-katanya.


"Tidak ada tapi-tapi sayang, kini kamu adalah tanggung jawabku," ucap Kevin.


Kalina berdecak, dia bukannya tak senang dengan apa yang Kevin lakukan untuk keluarganya, tapi dia tak ingin terlalu banyak berhutang pada Kevin, "Vin izinin aku keluar ya, aku juga ingin pergi bekerja, aku tidak ingin terus mengandalkan-mu," bujuk Kalina.


"Tidak!" jawabnya tegas tak ingin di bantah.


"Tapi Vin--," Kevin beranjak, sudah jelas dari sikapnya, dia tak ingin lagi berdebat dengan Kalina.


Kevin menoleh dengan kancing kemeja sepenuhnya terbuka, refleks Kalina menutup wajahnya, "buka bajunya di ruang ganti apa Vin, kamu gak tahu malu banget sih," Kalina berdecak kesal.


"Kenapa harus malu, kita adalah pasangan suami istri," ucapnya, dengan santai dia melucuti pakaian, hingga hanya tersisa segitiga bermuda-nya.


"Astaga Kevin!" pekik Kalina, yang tak sengaja melepas tangan dari wajahnya.


"Kalau mau lihat, lihat saja jangan malu-malu," Kevin tergelak.


"Kampret! Mana ada aku pengen liat," Kalina menenggelamkan diri di bawah selimut.


Kevin terkikik geli sembari masuk ke ruang ganti, "dasar ngeselin, kalau mau masuk ke ruang ganti ngapain buka baju disini," gerutu Kalina kesal. Dia melirik pintu yang tak tertutup rapat, Kalina ingin keluar dari kamar ini, untuk sekedar melepas jenuh.


"Gak papa kali ya, gue keluar?" Kalina merayap turun dari ranjang dengan langkah pelan, belum sempat Kalina membuka pintu teguran dari Kevin sudah lebih dulu terdengar.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" Kalina menghela napas kesal.


"Aku jenuh Vin, boleh kan aku keluar? Toh kamu bilang aku boleh keluar kalau kamu ada di rumah, lagian ini udah malam aku mau pergi kemana." Kevin mempertimbangkan kata-kata Kalina, dan Ia pun mengangguk.


"Hore, makasih Kevin ganteng!" Kevin tersenyum samar sembari menggeleng pelan.


Suara perabotan dapur beradu membuat Kalina tertarik untuk mendekat, tampak Kelly tengah duduk bertumpang kaki di sopa sambil membaca sebuah majalah.


"Hola Mbak, lagi baca apa?" tanya Kalina, yang langsung di hadiahi tatapan jijik dari Kelly.


"Mau apa kamu kemari? Mau pamer, kalau Kevin lebih menyayangi kamu di banding aku? Kamu jangan merasa berdiri di atas angin, roda akan berputar, laki-laki yang suka selingkuh akan mudah bosan pada satu wanita. Kita lihat saja, sampai kapan kamu mampu mempertahankan posisi kamu saat ini," ucap Kelly disertai tatapan sinis.


"Aku gak bermaksud begitu Mbak, aku cuma ingin kita hidup rukun," tanggap Kalina.


"Hidup rukun? Mimpi saja!" Kelly menghempaskan majalah yang di bacanya ke atas meja, hingga menghasilkan bunyi cukup nyaring.


Brak...!


Kalina tersentak, disertai helaan napas panjang, dia memahami kebencian Kelly terhadapnya itu cukup wajar, makanya dia tak ingin mendebatnya.


"Ada apa?" tanya Kevin yang langsung keluar saat bunyi itu terdengar.


"Gak ada apa-apa Vin, tadi aku gak sengaja nyenggol meja," dalih Kalina.


"Terus kamu gak papa? Apa ada yang terluka?" wajah Kevin nampak khawatir.


"Aku gak papa Vin, jangan lebay deh," Kalina merasa tak enak hati, sudah pasti sikap Kevin yang begini mengundang banyak kebencian untuk Kalina.


Kevin melirik Kelly yang tengah duduk dengan tangan terlipat di dada, dia menarik lengan Kalina menjauh dari area itu, seolah Kelly adalah sebuah ancaman untuk Kalina.


"Apa sih Vin?" Kalina tampak bingung.


"Ayo aku akan membawamu berkeliling," Kevin menautkan jemarinya dengan jemari Kalina.


"Bukannya kamu harus bekerja?" tanya Kalina bingung, pasalnya Kevin selalu membawa pekerjaannya ke rumah.

__ADS_1


"Nanti saja, sekarang aku akan menemanimu."


Mereka tak menyadari seseorang tengah menatap mereka penuh kebencian, tangannya mengepal kuat, seolah dia mampu meremukkan apa pun yang di genggamnya.


__ADS_2