Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 15 - Perasaan cemburu


__ADS_3

Dor...Dor...


Suara gedoran di pintu membuat Kalina memicingkan mata, siapa yang berani menggedor pintu kamarnya di rumah ini?


"Lina, kamu gak bosen apa di kamar mulu?" terdengar suara Kenan dari arah luar. Kalina enggan menghiraukannya dia kembali fokus pada buku yang Ia baca untuk mengusir gundah.


"Lina main yuk!" suara Kenan kembali terdengar, dia menirukan gaya khas anak kecil saat mengajak temannya bermain.


"Ini orang aneh banget sumpah," Kalina tertawa geli, meski sama-sama memiliki wajah yang tampan sikap Kenan berbanding terbalik dengan sikap Kevin yang terkesan cool dan lebih pendiam.


"Lin, kamu denger aku gak sih?" ucap Kenan setengah berteriak, yang seketika mendapat teguran dari kepala pelayan di rumah ini.


"Maaf Mas Kenan, sebaiknya Mas jangan ganggu Nyonya ke-dua, jika Tuan tahu dia pasti akan marah besar," pelayan itu mengingatkan.


"Bu Rima tenang aja, Kakak malah yang nyuruh aku nemenin Kakak Ipar," Imbuh Kenan.


"Li-na!" Kenan kembali bersuara, membuat Kalina merasa kesal, dia melempar buku yang Ia baca sembarang arah, kemudian beranjak ke pintu.


"Paan sih Nan, berisik banget, aku lagi gak mood ngomong sama kamu, pergi sana!" Usir Kalina.


"Makanya aku datang kesini buat balikin mood kamu, ayuk buruan aku akan ngajak kamu ke suatu tempat!" Kenan menarik lengan Kalina secara paksa membuat gadis itu mau tak mau, melangkah mengikuti Kenan.


"Pelan-pelan Kenan, kamu mau bawa aku kemana sih?" tanya Kalina keheranan, pasalnya Kenan membawa Kalina berjalan terus ke bagian yang lumayan jauh dari halaman rumah.

__ADS_1


Langkah Kenan berhenti tepat di depan sebuah danau kecil, yang terdapat sebuah perahu di atasnya, di setiap sudut terdapat lampu pijar yang menerangi area itu membuat tempat ini meski terpencil, namun tak terasa menyeramkan sama sekali.


"Kamu belum pernah ke tempat ini kan, aku tahu makanya aku bawa kamu kesini," tebakan Kenan selalu benar, membuat Kalina hilang suara.


"Mau naik perahu?" tawarnya, dia mengulurkan tangan untuk menuntun Kalina naik ke perahu.


Namun Kalina tak menyambutnya sama sekali, dia malah naik perahu itu sendiri, dan Kenan pun menyusulnya. Kenan mendayung perahu perlahan, membuat riak di air yang menampilkan cahaya rembulan.


Kalina mendongak menatap angkasa, yang di penuhi dengan taburan bintang yang berkelap-kelip. Awan tipis terkadang menutupi separuh bulan, hingga cahayanya tampak temaram.


"Lin, apa kamu mencintai Kakak?" pertanyaan itu sukses membuat Kalina seketika menoleh pada orang yang bertanya.


"Apa yang ingin kamu dengar?" Kalina balik bertanya.


"Aku tidak akan memaksamu berucap kalau kamu tidak mau, seharian bersamamu aku menyadari bahwa kamu wanita yang baik. Lin, hubunganmu dengan Kakak tampak tak baik-baik saja, aku bisa melihatnya walau hanya sekilas," komentar Kenan.


Kalina menghela napas berat, "kau menyadarinya ya, jujur Nan, sampai saat ini aku tidak tahu perasaan ku untuk Kevin itu apa. Mungkin aku memang pernah mencintainya tapi itu dulu, dulu dan sekarang itu jauh berbeda, apa lagi Kevin sudah punya wanita lain dalam hidupnya," Kalina mengalihkan pandangan menatap riak air danau, "aku dan dia bagai langit dan bumi sangat jauh berbeda."


Kenan terdiam, ujung matanya menangkap raut kesedihan di wajah Kalina, "kau tahu tidak akan mudah lepas dari belenggu Kevin, dia pria yang keras kepala, dia tidak akan melepas sesuatu yang pernah jadi miliknya begitu saja. Dulu saat kami kecil, Papah dan Mamah membelikan kami masing-masing seekor Kelinci, kami merawatnya dengan baik, sepulang sekolah Kevin terbiasa mengajak Kelinci itu bermain di taman, namun suatu saat dia tak sengaja tertidur, saat bangun dia tak mendapati kelinci itu dimana pun, dia mencarinya kemana-mana namun kelinci itu tak ada, lenyap begitu saja. Setiap hari Kevin akan berkeliling taman hanya untuk mencari kelinci itu, dan itu berlangsung sampai dia remaja, saat dia pertama kali memajang foto-mu di hp nya, barulah dia berhenti mencari Kelinci itu. Padahal Papah dan Mamah sudah membelikannya yang baru, tapi setiap benda dan binatang yang di berikan padanya, Ia tolak, dia bilang meski kau mengganti yang lama dengan yang baru perasaan memilikinya akan berbeda," terang Kenan panjang lebar.


"Jadi akan sulit jika ingin meninggalkannya?"


"Tidak, jika dia sendiri yang menyuruhmu pergi. Contohnya aku, dia tidak ingin aku berada di sekelilingnya karena aku suka mengacau," Kenan terkekeh menertawakan diri sendiri.

__ADS_1


"Ini sudah malam sebaiknya kita menepi, mungkin sebentar lagi Kakak pulang," Kenan mendayung perahu ke tepian, lantas mereka pun turun.


Kalina dan Kenan berjalan pulang, kini dua orang ini melangkah dalam diam, perbincangan tadi cukup merasuki pikiran Kalina, langkah Kalina seketika terhenti, dia diam terpaku menatap lurus ke-depan, refleks Kenan pun menatap sejurus.


Tampak, Kevin dan Kelly tengah berpanggutan bibir, Kelly menyudutkan Kevin ke-dinding dan pria itu terlihat pasrah menerima.


Nyut...


Kalina merasakan perih di ulu hatinya, "Nan, ada tempat lain lagi gak yang bisa kita datangi, toh ini belum terlalu malam ko, baru jam sembilan juga," Kalina menatap jam di pergelangan tangannya.


Hem, Kenan menoleh, "tapi udaranya semakin dingin, kau memakai jaket yang tipis," komentar Kenan.


"Tidak papa, ayo!" Kalina memaksa, dia menarik lengan Kenan mengikuti langkahnya. Dia hanya ingin lari, lari dari apa yang Ia dapati.


Langkah mereka terhenti di depan tembok pembatas, "halamannya hanya sampai disini," ucap Kenan. Entah kenapa halaman seluas beberapa ratusan meter pun terasa sempit untuk saat ini, Kalina masih ingin pergi jauh.


"Kalau gitu kita keliling aja gimana? Kalau keluar soalnya gak mungkin." Pinta Kalina. Kenan menghela napas namun dia tetap menuruti keinginan Kalina, dia setia menemani Kalina berjalan tak tentu arah, mereka hanya berjalan mengikuti arah kaki melangkah. Hingga tak terasa ini adalah putaran ke-tiga mereka berhenti di titik yang sama.


"Sudah cukup ayo kita masuk, ini sudah malam!"


"Satu putaran lagi, Nan." Pinta Kalina setengah memohon.


"Tidak!" Tolak Kenan, dengan terpaksa Kalina pun mengikuti Kenan di belakangnya, dia begitu enggan memasuki rumah itu. Seakan dalam sekejap rumah ini menjadi asing, begitu pun sang pemilik.

__ADS_1


"Dari mana saja kalian?!" suara khas itu terdengar dingin dan garang.


Refleks langkah Kalina dan Kenan terhenti begitu saja, mereka menatap ke arah sang pemilik suara. Tampak Kevin berdiri di ujung tangga dengan pakaian tidur berwarna coklat gelap.


__ADS_2