
Kevin terus menggenggam jemari Kalina sepanjang perjalanan, senyuman tak henti-hentinya terbit di wajah tampannya.
"Kau bahagia?"
"Sangat, aku sangat bahagia. Terimakasih, telah memberiku hadiah terindah dalam hidupku, terimakasih karena sudah mau mengandung anakku. Sekarang, aku mulai merasa tenang, dengan adanya anak kita kau tidak akan pernah pergi dari hidupku."
Kalina mendengus senyum seraya melempar pandang keluar jendela, "kenapa kau sangat takut aku meninggalkanmu, padahal masih banyak wanita di dunia ini yang jauh lebih baik dalam segala hal, dibandingkan dengan diriku yang bahkan tak punya apa-apa, wajahku pun biasa saja."
"Karena dimata orang yang tepat, hal biasa pun akan menjadi luar biasa, karena aku melihat kamu bukan hanya dengan mata, tapi juga hati. Aku mencintai Kalina, bukan apa yang Kalina miliki, jadi tetaplah di sampingku." Kalina mengangguk, dia mendekatkan wajah dan mencium pipi Kevin.
"Aku berjanji, aku akan selalu bersamamu sampai kapan-pun, aku tidak akan pergi meskipun kau menyuruhku pergi, Kevin Alterio, terimalah nasibmu mulai sekarang!" Kevin terkekeh pelan menanggapi ucapan Kalina.
"Nasib seperti itu yang aku inginkan."
"Ayo kita jalan-jalan sebentar." Ajak Kalina.
"Ini sudah malam Lin, lain kali saja ya nanti kamu kedinginan," tolak Kevin.
"Hanya sebentar Vin, lagi pula aku memakai jaket setebal ini mana mungkin kedinginan. Ayolah, ku mohon." Kalina memasang tampang memelasnya.
Kevin menghela napas pelan, kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Oke, tapi janji cuma sebentar. Kamu sedang hamil Lin, kamu harus menjaga kesehatan kamu, jangan sampai kamu sakit dan membuat bayi kita dalam bahaya."
"Iya, suamiku sayang, yang bawel, cerewet dan berisik. Udah buruan turun." Kalina lekas turun dengan antusias, dia berlalu meninggalkan Kevin di belakang.
"Tunggu aku Lin!" Kevin berusaha mengejar Kalina dan mensejajarkan langkahnya.
__ADS_1
"Kamu ini jangan lari-lari, inget kamu lagi hamil." Gerutu Kevin dengan tampang cemas.
Kalina mengaitkan lengannya di lengan Kevin, membuat lengan kokoh itu menjadi sandaran kepalanya.
"Vin,"
"Hem?!" Jawab Kevin sambil menoleh.
Kalina mendongak menatap langit malam tanpa bintang, "akankah hidup kita selalu seindah ini?"
"Tentu saja, selama kita bersama segalanya akan terasa indah, Lin." Kevin mengangkat jemarinya yang tertaut di jemari Kalina dan mengangkatnya, dia mencium punggung tangan Kalina penuh kasih sayang.
Kalina menghela napas pelan, "baiklah, ayo kita pulang!"
Kalina dan Kevin pun kembali ke-rumah. Kedatangan mereka di sambut Kelly yang tengah duduk di sopa ruang tamu sendirian.
"Kalian sudah kembali, duduklah!" Ucapnya seraya menaruh cangkir keramik yang di pegang-nya.
Kelly menghela napas pelan, dia menyodorkan selembar kertas pada Kevin, "mari kita bercerai."
Kevin terdiam, sedang Kalina dia hanya mematung dengan pandangan datar, harusnya dia merasa bahagia, tapi tidak, hati Kalina sama sekali tidak merasa bahagia dengan keputusan yang Kelly ambil.
"Kenapa begitu tiba-tiba?"
Kelly mendengus kasar, "tiba-tiba? Tidak, keputusan ini sudah lama aku pikirkan, Riko juga menungguku mengambil keputusan ini. Kami ingin melanjutkan hubungan ke jenjang selanjutnya."
Kevin tersenyum pelan, "baguslah jika begitu aku senang mendengarnya."
__ADS_1
"Tanda tangan lah." Kelly menaruh pulpen di atas kertas yang tadi Ia sodorkan.
Kalina bangkit, "Vin, aku ke kamar duluan ya."
"Oke, tunggu aku sebentar lagi." Kevin menjawab sembari tersenyum pelan. Kalin mengangguk lantas berlalu.
Kevin menandatangani surat itu tanpa berpikir dua kali, dan apa yang dia lakukan tak luput dari pandangan Kelly.
"Aku bersyukur kau mengambil keputusan ini Kelly, semakin pernikahan ini di lanjutkan semakin kita terombang-ambing tanpa tujuan, aku selamanya tak akan bisa menerimamu dan kau akan selamanya menderita di sisiku, aku tipe laki-laki yang hanya akan mencintai satu wanita, aku bingung kenapa bisa begitu. Disaat banyak laki-laki yang tidak cukup dengan satu wanita, tapi justru aku sebaliknya." Kevin terkekeh pelan.
Kelly mendengus senyum, "Kalina sangat beruntung karena mendapat cintamu Vin, haish, seandainya aku yang bertemu denganmu lebih dulu," keluhnya sembari menyandarkan punggung di sandaran kursi.
Kevin tersenyum pelan, "meski begitu, jika kita bukan jodoh kita tidak akan pernah bersama. Apa masih ada lagi?"
"Sudah hanya itu saja." Kelly kembali meraih kertas tadi berikut pulpennya.
"Kalau begitu aku masuk dulu, rasanya aku ingin tidur cepat hari ini," senyuman masih terus mengembang di wajah Kevin, hari ini kebahagiaan rasanya tumpang tindih di hatinya.
'Kau terlihat sangat bahagia Vin, bercerai denganku sepertinya memang keinginan terbesar mu.' batin Kelly.
Kevin yang hendak berlalu berbalik kembali, "ah aku lupa memberitahumu sesuatu."
"Apa itu?"
"Kalina hamil, aku akan menjadi seorang Ayah!" Kevin menyampaikan itu dengan wajah sumringah.
Lama Kelly terdiam, mencerna ucapan yang terlontar dari bibir Kevin, "ah, Kalina hamil," sudut bibirnya mengukir senyum, "selamat kalau begitu, semoga ini menjadi awal yang baru bagi kehidupan pernikahan kalian."
__ADS_1
"Kau juga, semoga Riko pilihan terbaik untukmu."
'Meski aku sudah tahu akan datangnya hari ini, tapi mengapa rasanya tetap menyesakkan. Padahal aku sudah mencoba segala cara untuk membuatmu menghilang dari hatiku, namun sepertinya itu sia-sia. Kevin, maaf aku gagal, ternyata aku masih mencintaimu.'