
Tenggorokan Kenan seolah tercekat, dia bungkam seketika, "kenapa kamu meninggalkan Kalina dan pulang seorang diri?" pertanyaan itu membuat Kenan seketika mengalihkan perhatiannya.
"Ta-tadi aku--," ucap Kenan gugup dia bertukar tatapan dengan Kalina.
"Tadi Kenan ada urusan, aku meminta dia menurunkan-ku di jalan, tapi aku tidak mendapatkan taksi jadi aku pergi dengan Abran, maksudku Dokter Abran." Jelas Kalina.
"Urusan apa yang jauh lebih penting dari pada mengantar Kakak Ipar-mu sampai ke-rumah?"
"Sudah cukup, apa kalian tidak lelah?! Bertengkar dan bertengkar sepanjang waktu!" Decak Kelly kesal seraya berlalu.
"Mbak Kelly benar, aku juga lelah, aku permisi dulu." Kalina berlalu mengikuti langkah Kelly masuk kedalam rumah.
Kenan melangkah lebih dulu di ikuti Kevin di belakangnya, "ada apa dengan wajahmu?" tanya Kevin agaknya dia memperhatikan raut wajah adiknya yang tampak murung dan tak bergairah.
"Ada apa dengan wajahku? Wajahku baik-baik saja." Dalih Kenan.
"Wajahmu seperti burung hantu, lihatlah di cermin!" Ucap Kevin sembari berlalu.
"Hah burung hantu?" Kenan menatap bingung punggung Kevin yang menghilang di balik lorong.
"Lin!" Tok...Tok..., "buka pintunya sayang, kenapa kau menguncinya dari dalam?" teriak Kevin pada pintu kamar yang tertutup rapat.
"Tidak, pergilah dan tidur di sopa saja sana!" balas Kalina dari dalam kamar.
"Kalina, masa aku tidur di sopa sih." Keluh Kevin seraya menghela napas.
"Kamu bikin aku marah Vin, aku sebel sama kamu. Sikap kamu yang mudah cemburuan membuat aku muak, mungkin lebih baik kita saling merenungkan kesalahan kita masing-masing."
__ADS_1
"Lin, ini gak lucu, buka pintunya sekarang juga. Atau aku dobrak!" ancam Kevin.
"Dobrak aja, toh pintunya punya kamu kalau pun rusak kamu kan banyak duit tinggal ganti yang baru!" Balas Kalina tak mau mengalah.
"Kalina, aku beri kamu kesempatan untuk yang terakhir kalinya, buka sekarang atau--," belum sempat Kevin meyelesaikan ucapannya suara jeklikan pintu terdengar.
Membuat Kevin mengakhiri kata-katanya, lantas masuk, hal pertama yang Ia lihat adalah raut wajah Kalina.
"Kamu marah karena aku memberi tahu Dokter Abran tentang pernikahan kita?" Kalina melengos membuang muka kearah lain.
"Lin, sampai kapan kita akan merahasiakan pernikahan ini? Kamu tahu, terkadang aku merasa bahwa kamu tidak pernah mencintaiku, dan mungkin suatu hari kamu akan menghilang dari hidupku, jujur aku sangat takut."
Kalina mengehela napas dalam, dia menatap jemarinya yang saling meremas satu sama lain. Kevin mendekat dan berjongkok di hadapan Kalina, menatap raut wajah sang Istri yang menunduk dengan rambut terburai menutupi wajahnya.
"Apa sampai saat ini kamu masih tidak percaya padaku?" Kevin menilik wajah Kalina.
"Aku bukannya tidak percaya padamu Vin, tapi keadaan yang mebuat rasa percaya yang aku buat, kembali memudar. Aku harus bagaimana? Setatus aku saat ini membuatku enggan menghadapi semua orang, terutama Ibuku. Kau tahu mengapa dia benci Pelakor, karena hidupnya hancur karena orang ke-tiga, itulah mengapa dia lebih memilih hidup sendiri dan mengabdikan diri untuk merawat kami, anak-anak yang tidak beruntung karena tidak memiliki orang tua. Dan sekarang aku, menjadi orang yang paling di bencinya, aku harus bagaimana? Coba jawab aku Vin?!"
"Siapa yang tahu semua itu? Apa orang lain tahu? Tidak kan, Kevin Alterio, mungkin bagimu semua yang aku anggap penting ini tidak penting sama sekali, hingga kau tidak berpikir dua kali untuk mengumumkan hubungan kita yang dimata orang lain tampak hina." Air mata merembes keluar dari kedua ujung mata Kalina.
"Maafkan aku sayang, aku tidak berpikir tentang perasaanmu saat mengatakan itu pada Dokter Abran, aku minta maaf," Kevin terisak lirih, dia menaruh kepala di pangkuan Kalina, "aku hanya ingin tetap melindungi apa yang aku miliki, yaitu kamu. Aku tidak suka melihat dia menatapmu penuh cinta, aku hanya ingin mengamankan diriku Lin, kamu tahu bahkan adikku sendiri memiliki tatapan seperti itu terhadapmu, aku harus bagaimana Lin?" Kevin mendongak menunjukan wajahnya yang bersimbah air mata.
"Aku harus bagiamana tolong katakan? Seakan apa yang aku lakukan terus saja salah dimatamu, aku juga ingin memberimu segalanya, tapi keadaan yang memaksa kita tetap pada posisi ini, Lin. Tolong katakan, apa yang harus aku lakukan, aku akan menuruti semua yang kamu minta, bahkan jika kamu meminta nyawa-ku sekali-pun." Kevin berucap pasti.
"Apa yang kau katakan? Untuk apa aku meminta nyawa-mu, lagi pula itu tidak berharga seperti permata," Kalina membuang muka kearah lain, dia menepis air mata yang tergenang di pipinya.
"Kamu bilang nyawaku tidak berharga?"
__ADS_1
"Ya, makanya aku tidak mau. Nyawa akan berharga saat berada di tubuhnya, setelah di ambil maka itu akan menghilang dari dunia, lalu apa berharganya?"
Kevin mendengus disertai sedikit senyuman, "kata-kata kamu sangat aneh, tapi aku merasa hangat."
"Ya, apa lagi kalau aku menyalakan api di kamar ini, pasti akan semakin hangat."
Hem? Kevin menatap penuh tanya, "sudah abaikan saja, aku hanya ingin membuat lelucon, tapi sayangnya itu tidak lucu." Ucap Kalina.
Kevin bangkit sembari mengusap sisa air mata di pipinya, "apa aku terlihat jelek saat menangis?"
Kalina mengangguk, "sangat jelek, kamu tahu karakter goblin dalam film Harry Potter?"
"Ya, lalu?"
"Wajahmu terlihat seperti itu."
"Apa? Mana mungkin terlihat seperti itu, kau terlalu berlebihan sayang." Keluh Kevin tak terima.
"Tapi nyatanya seperti itu."
"Hey, kamu menggodaku ya! Sini aku akan beri kamu hukuman!" Kevin menggelitik Kalina, hingga wanita itu berguling-guling di atas kasur sambil tertawa dan berteriak kegelian.
"Lin, kamu tahu kenapa aku tidak bisa menceraikan Kelly walau-pun aku bisa," Kalina hanya terdiam membiarkan Kevin menjelaskannya sendiri, "dalam surat wasiat tertulis bahwa jika aku bercerai dari Kelly tanpa dia sendiri yang memintanya, maka hak warisku akan hilang, aku bahkan tidak mengerti kenapa Papah membuat wasiat seperti itu."
Kevin mengehela napas berat, dia menatap langit-langit kamar yang berwarna putih tulang, "hidupku seakan dalam genggaman orang lain, hanya kamu yang membuatku tetap menjadi diriku Lin. Hanya dihadapanmu aku bisa menunjukan bermacam-macam ekspresi wajah, tertawa, tersenyum, konyol bahkan menangis, kau orang pertama yang bisa melihat sisi diriku yang ini. Kau orang pertama yang melihat air mata seorang Kevin Alterio," ucap Kevin sembari memiringkan kepala menatap Kalina.
"Jadi aku orang yang beruntung? Haruskah aku sujud syukur karena telah melihat air matamu?" Kevin terkekeh pelan, menanggapi candaan Kalina.
__ADS_1
"Lin, aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Bahkan aku bingung harus mengukurnya dengan apa, tapi yang pasti, aku sanggup memberkan nyawaku, jika kau memintanya--," perkataan Kevin seketika terhenti kala bibir Kalina menyergap bibirnya.
"Jangan katakan lagi soal nyawa, karena aku bukan membutuhkan nyawamu, tapi hidupmu!"