
Tak lama kemudian Kenan pun kembali, "kenapa kamu udah pulang Nan, Kevin udah pergi?"
"Kakak udah gak keliatan Lin, mungkin dia udah pergi jauh." Ujar Kenan.
Tiba-tiba ponsel Kenan berdering, jarang-jarang di tempat ini ada sinyal, dia merogoh sakunya dan menilik nama yang tertera di gawai-Nya.
"Dari siapa Nan?" tanya Kalina penasaran.
"Dari Mamah," jawab Kenan.
"Angkat aja Nan, siapa tahu penting." Kenan mengangguk kemudian mengangkat telepon tersebut tanpa beranjak dari tempatnya.
"Halo Mah, ada apa?"
"Nan, Kelly sudah mengajukan tuntutan cerai terhadap Kevin tanpa sepengetahuan Mamah," ujarnya.
Kenan terdiam sejenak, lantas menjawab, "Mah, mungkin sudah saatnya Mamah biarkan mereka hidup dengan tenang. Kakak dan Kak Kelly tidak pernah bahagia bersama, jadi berpisah adalah cara satu-satunya untuk mereka memulai hidup baru." Jawab Kenan dengan tenang.
"Kamu bilang apa? Biarkan dia, itu tidak mungkin Kenan, Mamah akan kehilangan segalanya kalau sampai Kelly dan Kevin bercerai."
"Mah," perkataan Kenan seketika di potong Gwen.
__ADS_1
"Semua ini karena kamu, seandainya kamu mau menuruti perkataan Mamah, semuanya pasti akan baik-baik saja. Walau pun Mamah kehilangan Kevin," Kenan mendengus pelan. Lagi-lagi itu yang di bahas Ibunya, apa harta sebegitu pentingnya dalam hidup Ibunya itu.
"Apa sudah cukup bicaranya? Kalau sudah, aku akan tutup telponnya," ujar Kenan dia malas berurusan dengan Ibunya yang selalu berusaha membuat dia bermusuhan dengan Kevin.
"Tutup aja Nan, lagi pula setelah ini kamu akan mendapat kabar baik," Gwen terkekeh pelan.
"Apa maksud Mamah?"
"Apa Maksud Mamah, nanti kamu juga tahu ko," kemudian Gwen menutup telponnya.
"Halo Mah, Mamah! Arrghhhhh, sial!" teriak Kenan sembari menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
"Ada apa Nan?" Kalina menatap cemas wajah Kenan.
"Apa?! bagaimana bisa, apa Papah kamu gak tahu soal ini?" Kenan menggeleng pelan.
"Gak ada yang tahu soal ini, kecuali almarhum Bibi, aku dan juga Mamah. Sebetulnya aku tahu sudah cukup lama, saat itu hari kematian Ayah dan Mamah memanipulasi wasiat yang di berikan Papah pada Kakak, di hari itulah aku tahu kalau Kak Kelly adalah saudariku."
"Astaga, ini benar-benar gila. Aku tidak menduga hal ini darimu Nan, kau tahu begitu banyak, tapi kau memilih tetap diam, kau memang saudara yang hebat," Kalina melempar tatapan kecewa pada Kenan.
"Aku minta maaf, aku--," perkataan Kenan seketika di potong Kalina.
__ADS_1
"Bukan aku yang harus kau beri permintaan Maaf, tapi Kevin. Dia yang yang paling terluka disini, dia harus menjalani hidup atas keinginan kalian."
"Meskipun aku tahu, aku tidak ikut campur Lin," bantah Kenan.
"Tapi tetap saja, menutupi kejahatan seseorang sama bersalahnya." Ujar Kalina.
Di tengah perbincangan tersebut ponsel Kenan kembali berdering, membuat dia seketika mengangkatnya.
"Halo, dengan siapa ini?" tanya Kenan, saat orang itu menjawab, pandangan mata Kenan seketika melebar, hampir saja dia terjatuh jika tangannya tidak bertumpu pada kursi.
"Oke Pak, saya akan segera datang, iya tolong di tangani sebaik mungkin." Kenan pun menutup telponnya.
"Ada apa Nan, siapa yang menelepon?" Desak Kalina, menuntut jawaban.
Kenan menelan saliva sebelum menjawab, "Kak Kevin, dia mengalami kecelakaan."
"Kamu gak lagi becanda kan, Nan?" mata Kalina tampak berkaca-kaca, lututnya tiba-tiba lemas, dia menyandarkan punggung di dinding, agar tubuhnya tidak jatuh ke lantai.
"Tadi itu telpon dari polisi, saat ini Kak Kevin sudah berada di rumah sakit, dia sedang di tangani oleh Dokter."
"Bagaimana keadaannya, apa Polisi mengatakan sesuatu?" desak Kalina.
__ADS_1
"Tidak, Polisi tidak mengatakan apa pun, lebih baik kita langsung datang kesana."
Tanpa berpikir panjang Kalina dan Kevin pun berlalu, menuju rumah sakit tempat Kevin di rawat.