
"Katakan saja apa yang kamu inginkan?" Kevin menatap tajam Kelly. Dia tak menjawab pertanyaan yang Kelly layangkan padanya tadi.
"Astaga, kamu ini galak sekali," keluhnya, dia mendekati ranjang Kevin berseberangan dengan Kalina berada.
"Gimana kabar kamu Lin, cukup lama ya kita gak ketemu." Sapanya.
Kalina mendongak menatap Kelly, dia menghela napas pelan, Kalina ingin meminta maaf karena dia gagal menjauh dari Kevin, namun Kelly menatap tajam kearahnya, seolah dia menegaskan kalau Kalina tidak perlu mengatakan apa pun soal itu semua.
"Aku baik Mbak, Mbak sendiri?" balas Kalina.
Kelly tak menggubrisnya, dia mengeluarkan secarik kertas dari tas selempang yang ia kenakan, "ini surat undangan dari pengadilan, aku sudah melayangkan gugatan cerai terhadapmu Vin, aku harap kamu bisa datang agar kita bisa secepatnya bercerai," Kevin mau pun Kalina merasa terkejut dengan ucapan Kelly, mereka tidak menduga hal ini darinya.
"A-apa kau serius?" Kevin memastikan.
"Kalau kamu gak percaya baca saja sendiri," ujarnya sembari menaruh kertas tersebut di pangkuan Kevin. Dan benar apa yang Kelly katakan itu surat panggilan dari pengadilan untuk sidang perceraian mereka.
"Mbak, apa Mbak yakin dengan keputusan Mbak ini?" Kalina merasa tak enak hati.
"Aku cukup yakin, seharusnya aku melakukan ini sudah sejak lama. Lagi pula, aku seharusnya tidak pernah ada dalam kehidupan Kevin," Kelly tersenyum lemah.
"Maafkan aku," ujar Kevin.
"Sudahlah, tidak perlu minta maaf, aku tidak ingin mengeluarkan air mata di tempat ini," ujar Kelly, dia menyeka ujung matanya menggunakan ibu jari.
"Lin, jaga Kevin dengan baik, kini dia tanggung jawabmu," Kelly pun berlalu.
__ADS_1
Kevin dan Kalina menatap punggung Kelly yang perlahan menghilang di balik pintu. Kevin pikir dia akan sangat senang setelah berhasil berpisah dari Kelly, namun itu tak seperti dugaannya, hanya ada perasaan lega yang tersisa.
Kalina seketika keluar menyusul Kelly, "Mbak tunggu!" teriaknya, membuat Kelly seketika menghentikan langkahnya, lantas menoleh.
Kalina menghentikan langkahnya di hadapan Kelly, "ada apa?" tanyanya.
Bukannya jawaban yang Kelly dapatkan, tapi sebuah pelukan penuh haru, "maafkan aku, Mbak," lirih Kalina pelan.
Kelly tersenyum lemah, dia membalas pelukan Kalina dan menepuk punggung wanita itu perlahan, "sudahlah, kenapa kamu selalu meminta maaf," keluhnya, "kini tak ada lagi penghalang bagi cinta kalian berdua, berbahagialah." Ujarnya.
Kalina melepaskan pelukannya dan menyeka sisa air mata dari wajahnya, "terimakasih Mbak, semoga Mbak juga menemukan kebahagiaan Mbak sendiri," balas Kalina.
"Oke, terimakasih atas doanya, pergilah dan jaga Kevin dengan baik." Kelly pun berlalu pergi.
"Nggak usah kepo ya, ini pembicaraan rahasia antara wanita," jawab Kalina, membuat Kevin mematutkan wajahnya sebal.
"Terserahlah," ujarnya, meski bibirnya berkata demikian, tapi sejujurnya dalam hatinya dia masih merasa penasaran.
***
Satu minggu pun berlalu, Kevin sudah di perbolehkan pulang, pun dengan Kalina dia ikut Kevin kembali ke rumahnya, yang ternyata Kelly sudah pindah keluar dari kediaman Kevin. Tak banyak yang berubah dari rumah ini, hanya saja teras lebih sepi dan tak seceria seperti biasanya, apa lagi para pelayan tampak diam dengan raut wajah datar cenderung sedih, kepergian Kelly memang cukup membawa kesedihan bagi mereka yang cukup dekat dengannya.
"Nyonya, makanan apa yang harus saya masak?" tanya kepala pelayan.
"Apa saja, Kevin tidak punya permintaan khusus," ujar Kalina.
__ADS_1
"Banyak bahan makanan yang hampir kadaluarsa, apa yang harus saya lakukan dengan itu semua?" Kalina terdiam, dia tidak tahu banyak tentang rumah ini, biasanya yang mengurusnya adalah Kelly.
"Lakukan seperti yang biasa Nyonya Kelly lakukan, tak ada yang berubah."
"Nyonya tidak ingin merubah peraturannya?" kepala pelayan nampak terkejut.
"Kenapa aku harus merubahnya, semua berjalan sangat baik sebelumnya bukan, maka lakukan saja seperti itu. Apa yang biasanya kalian lakukan dengan semua itu?"
"Masih ada dua minggu untuk tanggal kadaluarsanya, kita tidak mungkin menghabiskan semua itu dalam waktu singkat, biasanya Nyonya akan menyumbangkan separuh dan membagikannya dengan para pelayan."
"Kalau begitu lakukan seperti itu, tapi kenapa bahan makanannya tersisa cukup banyak, apa kalian tidak makan dengan baik?"
"Kami makan dengan baik, hanya saja kejadian yang menimpa keluarga ini akhir-akhir ini membuat selera makan semua orang menurun, dan tak ada acara apa pun yang dia adakan jadi bahan makanan ini tidak terpakai."
"Ya sudahlah, bagikan saja semuanya. Eh tapi jangan semuanya juga, sisakan juga untuk makanan kita, kalau kamu membagikan semuanya, kita mau makan apa," ucap Kalina.
Kepala pelayan itu mengulum senyum, lantas berlalu.
"Tunggu, jangan dulu membagikannya," ujar Kevin yang tiba-tiba hadir di ruangan itu.
"Kenapa Vin?"
"Kita akan membawanya ke panti asuhan," ujarnya. Kalina langsung terdiam, sudah cukup lama Kalina tidak berhubungan dengan keluarganya.
"Ayo kita bertemu keluargamu."
__ADS_1