
Kelly mencengkram lengan Kalina yang masih duduk di atas ranjang, "apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Kevin?" Tatapan mata Kelly terhunus tajam.
"Sudah ada yang memikirkan perasaannya, aku tidak terlalu khawatir," balas Kalina disertai senyuman.
Kelly menghempaskan genggamannya, "apa maksudmu?"
Kalina meraih tangan Kelly dan menggenggamnya, "Mbak, aku tahu Mbak masih mencintai Kevin, aku ingin Mbak tetap di sampingnya, jaga dia dan ingatkan dia kalau waktunya makan siang, dia suka lupa waktu. Dan beri tahu dia kalau dasi favoritnya ada di laci sebelah kanan, dan satu lagi, dia selalu menaruh sikat gigi dengan posisi terbalik dia sangat jorok Mbak, jadi Mbak harus membetulkannya, setiap hari," ucap Kalina dengan pandangan berkaca-kaca.
Kelly hanya diam, dia tidak menanggapi perkataan Kalina, atau pun melepas genggamannya.
"Aku sangat senang telah mengenal Mbak Kelly, meski Mbak terlihat ketus dan galak, tapi sebetulnya Mbak orang yang baik. Tapi, satu hal yang aku sesali, bahwa aku pernah menjadi penghalang antara hubunganmu dan Kevin, aku sungguh minta maaf Mbak. Mulai sekarang, aku akan mengembalikan dia padamu."
Kelly menghempaskan tangan Kalina, membuat tubuh wanita itu goyah pelan, "aku tidak akan menerima belas kasihan darimu, Kevin bukan barang yang bisa di ambil dan di kembalikan sesuka hatimu, berhenti berpikir yang tidak-tidak dan hiduplah dengan baik di rumah ini, masalah lainnya biar aku dan Kevin yang urus."
Kelly hendak berlalu, namun perkataan Kalina seketika membuat langkahnya urung, "masalah yang sebenarnya adalah aku, Mbak, hanya saat aku pergi semua akan kembali seperti semula."
"Mungkin kau berpikir begitu, tapi Kevin tidak, Kalina. Kau yang paling tahu sifat dia seperti apa, setelah kepergianmu mungkin tempat ini hanya tinggal nama." Jawab Kelly.
__ADS_1
"Aku yakin Mbak akan bisa mengatasinya." Kalina bersikukuh.
Kelly mengerjapkan mata sekilas merasa jengkel dengan Kalina yang terus saja ngeyel dan tak mau mendengarkannya.
"Lalu bagaimana dengan anakmu? Apa kau akan membiarkan dia hidup tanpa Ayah?"
Seketika Kalina terdiam, dia bahkan tak pernah berpikir sampai kearah sana, "Lin, aku memang tidak pernah menyukaimu, tapi aku juga tidak membencimu. Aku tahu kau datang ke tempat ini bukan atas kemauanmu sendiri, jadi jangan dengarkan kata Mamah tetaplah disini dan biarkan aku dan Kevin yang urus semuanya."
"Terimakasih Mbak, tapi keputusanku tidak akan berubah, aku yakin aku bisa membesarkan anak seorang diri," Kalina bangkit dan turun dari ranjang, "Mbak, aku ingin minta tolong, saat aku pergi matikan semua CCTV di rumah ini."
"Tidak Kalina, kau sudah memutuskan itu, jadi kau tidak boleh berubah."
Kalina membereskan barang-barang yang akan dibawanya kedalam tas, berikut foto pernikahan sederhana yang Kevin pajang di kamar mereka.
'Vin, hiduplah dengan baik dan jaga kesehatanmu. Mungkin kamu percaya bahwa Mbak Kelly mencintai orang lain, padahal itu tidak benar Vin, dia hanya ingin melihatmu bahagia, wanita seperti itu sulit di dapatkan, jadi pertahankanlah pernikahan kalian, aku mendoakan kebahagiaan untuk kalian.' Kalina terisak lirih, dia memeluk baju Kevin yang kini sudah di basahi dengan air matanya.
Aku mencintaimu Kevin Alterio.
__ADS_1
Kalina membawa tas jinjing berisi pakaiannya keluar dari kamar, diluar dugaan semua orang tampak berkumpul dengan tatapan sedih, "kenapa kalian semua disini?" Kalina mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru, para pelayan nampak berjajar membuat barisan dan menyisakan ruang untuk dia berjalan di tengahnya.
"Nyonya, tolong jangan pergi." Isak salah satu pelayan, yang cukup dekat dengan Kalina, namun Kalina sendiri tidak ingat siapa namanya.
Kalina tersenyum pelan, "maafkan aku, mungkin selama disini aku sudah merepotkan kalian, tolong jaga diri kalian dengan baik dan jangan bilang kalau kalian mengetahui kepergianku, jika Kevin tahu, hal ini tidak akan menjadi baik bagi kalian."
"Apa kau harus pergi sekarang juga?" Kelly bertanya.
"Jika tidak hari ini, mungkin pikiranku akan berubah Mbak."
"Itu yang aku inginkan." balas Kelly.
Kalina berjalan menghampiri Kelly, dia memeluk wanita itu sekilas seraya tersenyum pelan, Kelly hanya diam tak menolak atau pun membalas pelukan Kalina. Kalina memberikan secarik kertas yang telah Ia lipat ke genggaman Kelly.
"Aku pergi dulu Mbak, jaga diri Mbak baik-baik." Kalina berlalu dengan langkah pelan di iringi isak tangis para pelayan.
Selamat tinggal Kevin, jaga diri baik-baik suamiku sayang. Aku mencintaimu.
__ADS_1