Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 25- Semalam tanpa mu


__ADS_3

Kalina menghela napas sambil beranjak, "terserah kamu lah Vin, sebaiknya kalian cepat kembali, ini udah sore."


Namun Kevin mencekal tangan Kalina, "kamu tega nyuruh aku pergi dalam keadaan begini Lin?"


"Terus kamu mau nginep disini Vin? itu gak mungkin," Kalina menolak.


Kevin melepaskan cekalan tangannya sambil menghela napas, "aku tidak ingin pulang tanpa mu Lin."


Kenan keluar dengan malas, dia melipat tangan di dada sambil menyandarkan punggung ke dinding, dia merasa bosan jika harus terus menyimak dua orang itu bermesraan. Ingin rasanya Ia juga punya kekasih namun apa daya tak ada satu pun wanita yang cocok dengan kriterianya.


Kalina dan Kevin pun keluar, membuat Kenan seketika melirik, "jadi kita pulang nih Kak?" tanya Kenan.


"Hem," jawabnya datar tanpa ekspresi.


Kalina mengantar Kevin dan Kenan sampai ke mobil, "hati-hati di jalan."

__ADS_1


"Lin, aku--," Kalina menunggu Kevin berujar.


"Aku akan sangat merindukanmu," tambahnya. Kalina hanya tersenyum sedikit, enggan menjawab.


"Ayo Kak, gak enak kelamaan disini." Kenan menarik Kevin masuk ke-mobil, walau enggan pria itu tetap memaksakan diri masuk dan duduk disana.


Malam pun tiba, suasana yang Kalina amat inginkan, ternyata tidak seindah yang dia bayangkan, keberadaan Kevin telah mempengaruhi dirinya, Kalina melirik samping tempat tidur, biasanya Kevin akan berbaring sambil memandanginya dengan tatapan lembut dan Kalina akan pura-pura tertidur agar tidak harus merasa risih karena terus di pandangi.


'Vin, entah kenapa rasanya aku merindukanmu. Aku pikir hidup tanpamu beberapa hari akan aku lewati penuh rasa aman dan nyaman, namun nyatanya tidak, pikiranku selalu pergi padamu. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Atau kau justru sedang bersama Mbak Kelly?'


Sial, pikirannya yang membayangkan Kevin dan Kelly tengah bercumbu membuat hatinya seketika jadi dongkol. Dia cemburu pada sesuatu dalam imajinasinya sendiri.


Bulan malam ini hanya menyisakan sedikit cahaya, awan gelap menutupi hampir seluruh langit, tak ada bintang yang terlihat, mungkin karena cuaca kini tengah memasuki musim penghujan.


"Lin, kamu belum tidur?" teguran sang Ibu membuat Kalina sontak menoleh.

__ADS_1


"Belum, Bu, Lina belum ngantuk," dalihnya.


"Kamu betah kerja di tempat Nak Kevin?" tanya sang Ibu sambil ikut duduk di ayunan besi yang saling berhadapan tersebut.


Kalina mengangguk sambil menunduk, "Lin, meski kalian pernah berteman, atau mungkin lebih dari itu. Ingat, keadaannya kini sudah jauh berbeda, Nak Kevin sudah menikah, jagalah jarak dengannya, walau bagaimana pun dia adalah pria beristri."


Kalina lagi-lagi hanya dapat mengangguk tanpa mampu mendebat.


'Jika Ibu tahu kalau aku sudah menikah dengan Kevin, apa yang akan Ibu pikirkan tentangku? Akan kah Ibu membenciku, menyalahkan-ku dan menyuruhku pergi? Sungguh aku tak sanggup bila itu harus terjadi, satu-satunya sandaran hidupku hanya Ibu dan panti ini. Aku sanggup menanggung hinaan orang, tapi aku tak sanggup menanggung kemarahan Ibu.'


"Lin, mungkin sudah saatnya kamu juga memikirkan tentang pernikahanmu, kau sudah dewasa sampai kapan kau akan terus sendiri?"


"Bu, sudah aku bilang aku tidak ingin menikah, aku hanya hidup untuk kalian di tempat ini. Bagiku tempat ini adalah segalanya, aku tak perlu membentuk keluarga baru, di saat keluargaku jauh lebih berharga dari apa pun." Jawab Kalina, kata ini yang selalu Ia ucapkan saat Ibunya bilang tentang pernikahan.


"Lin, Ibu tahu kamu sangat menyayangi adik-adikmu, tapi kamu juga harus memikirkan kehidupanmu sendiri. Saat nanti kamu sudah tua, siapa yang akan merawat-mu? Adik-adikmu pasti memiliki keluarga sendiri kala itu. Sedang kau sendiri, hanya akan berakhir tertidur dalam pusara sendirian, tanpa anak dan cucu. Ibu sendiri tak dapat membayangkan semua itu, anak yang terlahir dari rahim sendiri dan anak yang terlahir dari rahim orang lain itu sangatlah berbeda Nak, meski kasih sayang yang kita berikan sama."

__ADS_1


"Lina mengerti Bu, nanti deh Lina pikirkan lagi."


"Baiklah, renungkan setiap kata yang Ibu ucapkan, agar kau bisa mengambil keputusan yang tepat."


__ADS_2