Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 48 - Pergi bersama adik Ipar


__ADS_3

Kalina menaiki angkot menuju terminal bus luar kota, dia duduk di ujung kursi belakang dengan mata menatap kosong jalanan. Sulit mengartikan apa yang dia rasakan saat ini, yang pasti sebuah lubang seolah menganga dalam hatinya.


Angkot pun berhenti di tempat tujuan, Kalina turun sembari menenteng tas jinjing yang di bawanya.


Kalina menghela napas pelan, sejujurnya dia tak punya tujuan sama sekali, yang ada dalam pikirannya hanya pergi menjauh dari kehidupan Kevin.


"Aku benar-benar bodoh, bagaimana bisa aku percaya pada Mamahnya Kevin, dan pergi begitu saja." Gumam Kalina sembari mendongak menatap bangunan di depannya.


"Ya kau memang bodoh, sangat bodoh!" diluar dugaan ada yang menyahutinya dari belakang, refleks Kalina berbalik menghadap sang suara berasal.


"Kenan?!" pekik Kalina dengan pandangan melebar, "sedang apa kamu disini?"


Kenan menarik lengan Kalina menggeret wanita itu berjalan mengikuti langkahnya.


Brak...!!


Kenan menutup pintu mobil dengan keras, setelah Kalina duduk di dalam mobilnya, lantas dia sendiri pun masuk dan duduk di balik kemudi.


"Nan?!" ucap Kalina kesal, karena Kenan tak merespon kata-katanya sama sekali.


"Kamu mau kemana?" Kenan buka suara.


Kalina mengalihkan pandangan kearah lain, "ke, tempat yang jauh pokonya." balas Kalina gugup.


"Aku sudah menyiapkan tempat untukmu tinggal, jadi duduklah dengan tenang." Ucap Kenan tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.


"Hah? Kenapa?"


Cekitt... Kenan menepikan mobilnya tiba-tiba membuat tubuh Kalina terdorong ke depan, jantungnya berdetak kencang saking terkejutnya.


"Nan!" teriaknya kesal.


"Kenapa kamu bilang? Lin, kamu sedang hamil, kamu bahkan tidak punya keluarga, kemana kamu bisa pergi? Kamu pikir hidup sendiri dalam kondisi begini itu mudah? Tanpa pikir panjang kamu menyetujui ucapan Ibuku, aku tidak menyangka cintamu untuk Kakak-ku ternyata sangat lemah." Kalina diam tak menjawab gerutuan Kenan.


Kenan berdecak kesal, dia kembali melajukan mobilnya ke jalanan. Kali ini keheningan mengiringi perjalanan mereka, Kalina tidak tahu Kenan membawanya kemana, yang jelas ini cukup jauh dari kota.

__ADS_1


Ugh... Kalina tiba-tiba merasakan mual di perutnya, agaknya Kenan memperhatikan saat Kalina refleks menutup mulut. Dia menepikan mobil di pinggir jalan.


"Kita istirahat sebentar," ucapnya kemudian keluar untuk meregangkan otot-ototnya.


Kalina pun ikut turun, namun rasa mual tetap ada dalam perutnya, membuat Kalina tak nyaman, matanya menangkap sesuatu yang menarik tak jauh dari posisi mereka saat ini. Kenan ikut melihat arah mata Kalina memandang. Ternyata ada seorang penjual rujak yang tengah melayani pembeli tak jauh dari mereka saat ini, tanpa harus di perintah kakinya seketika melangkah menghampiri penjual itu.


"Lin, kemarilah!" Kenan melambaikan tangannya, Kalina langsung mendekat dengan wajah sumringah, ternyata Kenan orang yang sangat peka.


"Pak, tolong berikan semua yang dia minta, berapa pun akan saya bayar." Ucap Kenan.


"Siap Mas!" ucap sang penjual dengan semangat.


Kenan membiarkan Kalina mengutarakan keinginannya pada sang penjual, sedang dia sendiri memilih duduk di kursi plastik yang tersedia di sana sembari minum kopi instan botolan yang dia beli sebelum pergi tadi.


"Istrinya lagi hamil ya Mas?" pertanyaan dari sang pedagang membuat Kenan dan Kalina menoleh seketika.


"Eh, I-iya." Kalina yang menjawab, dia duduk tepat di hadapan Kenan.


"Wah selamat ya Neng, semoga bayinya sehat dan lahir dengan selamat," doa tulus dari sang penjual mengalun begitu saja.


"Kamu mau?" Kalina menawari Kenan, membuat pria itu menatap ke arahnya, dia tersenyum.


"Suapi," pintanya sembari memainkan alis.


"Kamu gila, aku Kakak Ipar-mu," bisik Kalina penuh penekanan.


Kenan menaruh botol di tangannya dengan kasar, "kalau begitu aku tidak mau, makan saja sendiri!" dia melipat tangan di dada dengan tampang merajuk.


Kenan merasa kesal, tiap kali Kalina mengatakan kalau dia itu Kakak Iparnya, meski itu kenyataan Kenan berusaha menolak, dua bulan tidak bertemu tak membuat perasaan di hati Kenan mereda, masih saja ada perasaan untuk Kalina di hatinya.


"Ya udah kalau gak mau, aku juga cuma basa-basi ko," ucap Kalina sembari menikmati rujaknya seorang diri.


Kenan mendengus kasar, lantas tersenyum pelan, "kenapa kamu senyum-senyum?" Kalina merasa risih.


"Udah buruan habisin rujaknya, kita harus cepat pergi." Kenan enggan menjawab, dia bangkit dan membayar rujak yang Kalina makan.

__ADS_1


***


"Sebenarnya kita mau kemana sih Nan?" tanya Kalina heran, pasalnya Kenan tak menjelaskan kemana arah tujuan mereka sebenarnya.


"Ke suatu tempat dimana orang lain tidak akan menemukan kita." ucapnya dengan pandangan terfokus ke jalanan.


"Jangan gila deh Nan, kamu cukup anterin aku aja, kamu langsung balik lagi." tegas Kalina.


Lagi-lagi Kenan tak ingin menanggapi perkataan Kalina yang menurutnya tidak penting, "Nan!"


"Kita sudah sampai!" Kenan menghentikan mobilnya tepat di sebuah vila dua lantai yang agak berjarak dari rumah penduduk lain. di halaman vila tersebut terdapat kebun kecil berisi tanaman bunga dan sayuran, di masing-masing pinggir temboknya terdapat tanaman merambat yang membingkai pintu masuk.


"Kamu yakin Kevin tidak akan menemukan aku disini?" Kalina menilik sekitar.


"Untuk sementara sepertinya tidak akan, tapi entahlah kalau dia mengerahkan polisi."


"Aku bukan buronan, kenapa dia harus mengerahkan polisi," keluh Kalina.


"Kaya kamu gak tahu aja sifat Kakak kaya gimana," ucap Kenan, dia melangkah memasuki teras rumah tersebut.


Mereka berkeliling sebelum orang yang memegang kunci datang, "kamu belum membeli rumah ini Nan?"


"Udahlah, masa belom."


"Tapi kenapa kuncinya gak di kamu?"


"Aku titip ke mereka biar rumahnya bisa di bersihkan dulu, tapi sepertinya tidak," ucap Kenan sembari memperhatikan keadaan sekitar.


"Ya udahlah, nanti biar aku bersihkan perlahan."


Seseorang datang dan memberikan kunci rumah tersebut, Kenan pun mengambilnya tak lupa mengucapkan terimakasih. Suasana di dalam rumah ini tampak gelap dan berdebu, membuat Kenan refleks menutup mulutnya karena pengap.


"Lin, sebaiknya kamu tunggu di luar, biar aku bersihkan dulu rumahnya."


"Gak papa kita bersihkan sama-sama!"

__ADS_1


__ADS_2