Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 16 - Ciuman pertama


__ADS_3

Kalina memalingkan wajah ke arah lain, dia enggan menatap wajah pria yang kini jadi suaminya itu.


"Lin, kemarilah," perintahnya.


"Tidak mau!" tolak Kalina, rasa cemburu memberinya keberanian untuk melawan keinginan Kevin.


Kevin mengerutkan kening, dia menatap tajam Kenan, "datang sendiri kemari, atau aku yang menyeret-mu? Lin, ingatlah sikapmu menentukan nasibmu sendiri," Kevin memperingatkan.


Dengan terpaksa Kalina pun melangkah, Kevin bagai magnet yang menarik Kalina kearahnya tanpa bisa ditolak, "gadis baik, kau darimana saja, aku mencari-mu?"


"Benarkah kau mencari-ku?" cibir Kalina.


"Tentu saja, setelah aku pulang aku langsung pergi ke-kamar, tapi kau tidak ada disana," Kevin mencengkram pinggang Kalina merapatkan tubuh mereka.


"Le-lepaskan aku Vin," Kalina memberontak, dia merasa risih dengan apa yang Kevin lakukan, terlebih lagi di ruangan ini masih ada Kenan.


"Kau ingin tetap disitu melihat kami bermesraan?" tanya Kevin pada Kenan.


"Huah, aku mengantuk, Kakak, Lina, selamat malam."


"Panggil dia Kakak Ipar!" tegur Kevin kesal, namun Kenan tak menghiraukannya dia berlalu ke lantai atas.


Kevin mengangkat dagu Kalina dengan jemarinya, menilik netra hitam kecoklatan itu, "kenapa kamu tidak ingin menatapku?" Kevin ternyata menyadari perubahan pada sikap Kalina.


"Tidak papa," dalihnya berusaha menghindar, "sepertinya kau lelah, ayo kita istirahat." Kalina berusaha mengalihkan perhatian Kevin.


Malam semakin larut, Kalina tak mampu memejamkan mata, rasa yang timbul di hatinya, membuat dia menjadi sosok yang rakus, dia hanya ingin Kevin memperhatikannya dan hanya mencintainya, padahal dalam dunia Kevin masih ada Kelly, yang bahkan jauh lebih berhak atas Kevin di banding dengannya. Kalina menyeka sudut matanya yang berair, sebisa mungkin dia meredam suaranya agar tak tertangkap basah jika dia sedang menangis.


Kevin melingkarkan tangan di pinggang Kalina, memeluknya menelusupkan diri tengkuk gadis itu, biasanya Kalina akan menolak, namun kali ini Ia membiarkan Kevin melakukan itu, justru Ia ingin Kevin melakukan hal yang lebih.


'Sial, Kalina apa yang kau pikirkan? Sepertinya cemburu membuat otakmu jadi tidak waras,' batin Kalina.


"Kamu pergi kemana bersama Kenan?" ternyata Kevin sama sekali belum tidur.


"Kamu belum tidur Vin?" Kalina memastikan.

__ADS_1


"Kamu sendiri juga belum tidur," komentar Kevin, "jawab dulu pertanyaan-ku, pergi kemana kamu sama Kenan tadi?" desak Kevin mulai tak sabar.


"Hanya berkeliling di halaman, mencari udara segar, Nan mengajakku naik perahu yang ada di danau."


"Kamu panggil adikku dengan sebutan apa?"


"Nan, dia ingin aku memanggilnya dengan nama terbalik, Nanke, jadi aku panggil dia Nan." Kalina menjelaskan.


"Nan?!" Kevin berdecak seraya melepas pelukannya, "dalam sehari kalian bisa langsung akrab begitu, hebat sekali," cibir Kevin.


"Kenan pria yang baik, dan sepertinya kami juga seumuran. Jadi kami cukup nyambung kalau ngobrol," ucap Kalina dia membalikan tubuhnya menghadap Kevin. Barulah Ia menyadari tatapan tajam Kevin.


Eh...Kalina membalas tatapan Kevin tampak bingung, sebetulnya apa lagi kesalahan yang diperbuat-nya, "Kesalahan tadi siang saja aku belum menghukum-mu, dan sekarang bertambah dua kesalahan. Hukuman apa yang kau inginkan?"


"Kesalahan apa?" Kalina tak mengerti.


"Kesalahan apa? Kau tak merasa kalau perbuatan-mu itu salah, kau bicara berdua dengan pria asing yang baru kau temui, itu adalah kesalahan pertama-mu. Kesalahan ke-dua, kau pergi jalan-jalan berdua saat aku tidak ada. Kesalahan ke-tiga, kau memanggil pria lain, dengan panggilan mesra," ucap Kevin panjang lebar.


"Tunggu panggilan mesra apa? Aku hanya memanggil nama Kenan dari kebalikan namanya, itu pun karena dia yang minta," keluh Kalina tak terima, "lagi pula dia adikmu Vin, masa kamu cemburu sama dia."


"Tetap saja dia adikmu Vin. Contohnya aku, aku dan semua adik-adikku kami terlahir dari keluarga yang berbeda-beda, tapi kami mengaggap jika kami adalah keluarga."


"Aku dan kamu beda," Kevin tetap tak terima, logikanya tertutup oleh kecemburuan terhadap Kenan.


"Terserah kamu lah Vin," Kalina enggan berdebat.


Tiba-tiba Kevin naik keatas tubuh Kalina menindihnya, mengurungnya dalam Kungkungan-nya, "panggil aku dengan sesuatu yang berbeda," pintanya, matanya terfokus pada belahan bibir Kalina.


Kalina melebarkan matanya karena terkejut, "Ka-kamu apa-apaan sih? Turun gak?"


"Buat dulu nama panggilan untukku!" dia bersikukuh.


"Nama panggilan apa? Aku gak bisa, nama Kevin udah bagus banget." Kalina berusaha mendorong tubuh Kevin yang menindihnya.


"Satu, dua, buat sekarang juga, atau aku akan mencium-mu," desaknya dengan tatapan sayu. Kalina merasakan sebuah benda keras menonjol di bawah sana, menusuk pangkal pahanya.

__ADS_1


Kalina semakin didera kepanikan, "kalau Ke-kevin ganteng, gimana?" Kevin menggeleng.


"Kevin sayang?" Kevin kembali menggeleng.


"Panggilan sayang terlalu pasaran, cari yang lain!"


"Tu-turun dulu oke, biar aku bisa berpikir jernih," pinta Kalina, benar dalam posisi ini otaknya tak mampu berpikir jernih, apa lagi benda keras di bawah sana yang terus saja menusuknya.


"Tidak mau, aku ingin kau memanggilku dengan panggilan yang berbeda." Kevin bersikukuh.


"Sumpah Vin, aku gak tahu harus manggil kamu apa," decak Kalina merasa frustasi.


"Kalau begitu panggil aku, dengan sebutan Suamiku."


"Baiklah, suami--- hmp," Kevin membenamkan bibirnya di belahan bibir Kalina, memanggutnya lembut. Kalina seolah tersihir, dia diam terpaku menerima bibir lembut Kevin yang menyesap bibirnya.


Ciuman pertama setelah sekian tahun bersama, terputus koneksi tak membuat hati berpindah ke-lain hati. Ciuman Kevin semakin dalam, seolah apa yang dia dapat sekarang tak membuatnya puas.


"Vin," lirih Kalina saat ciuman Kevin berpindah ke ceruk lehernya.


"A-aku belum siap," Kevin seketika menghentikan aksinya, napasnya memburu, perlahan dia turun dari tubuh Kalina berbaring sambil menutup wajah dengan lengannya.


"Maaf, aku hilang kendali," lirihnya sambil mengatur napas.


"Tidak papa, aku mengerti," ucap Kalina pelan. Dia menyentuh bibirnya, bekas cap bibir Kevin masih terasa hangat dan kenyal.


"Ada apa? Jangan bilang kalau itu ciuman pertama-mu," Kevin tersenyum senang.


"Kau meledekku." Kalina memberengut kesal, percampuran antara rasa malu dan dongkol, pasalnya dia ingat saat Kevin berciuman dengan Kelly tadi.


"Aku bukan meledek-mu, justru aku sangat bahagia karena aku orang pertama yang mendapat keberuntungan itu," imbuh Kevin.


"Lalu kamu sendiri, ini ciuman ke-berapa?" seketika Kevin terdiam, Kalina melirik air muka Kevin dari ujung matanya.


"Haha, aku hanya bercanda, kamu sudah menikah tentu saja hal seperti ini sudah tidak asing bagimu kan."

__ADS_1


Kevin mendekap Kalina, "maaf, aku tidak bisa menjaga diriku hanya untukmu. A-aku pernah melakukannya sekali, dalam keadaan mabuk, saat itu bukan Kelly yang aku lihat, tapi kamu Lin."


__ADS_2