
"Menyesal? Mungkin, tapi aku hanya ingin menempatkan diri, aku sadar siapa aku. Aku juga belum bisa melayani kebutuhan biologis-mu, entahlah aku merasa takut jika aku melakukan itu denganmu aku akan langsung hamil, dan anakku bagaimana kehidupannya nanti?" Gumam Kalina pelan.
Kevin melangkah dengan wajah gusar, dia kesal pada Kalina bagaimana bisa dia menyuruhnya untuk tidur dengan Kelly, apa dia itu batu?
Kevin berdiri dengan ragu di depan kamar Kelly, dia hendak mengetuk pintu kamar ber-cat abu-abu itu, namun suara Kelly justru muncul dari arah belakangnya.
"Kevin, sedang apa kamu disini?" tanya Kelly yang seketika membuat Kevin menoleh.
Dia menghela napas dengan wajah datar, "aku akan tidur disini malam ini."
Kelly menatap datar wajah Kevin, "kenapa?" tanyanya.
"Tidak papa hanya ingin saja," jawab Kevin mengalihkan pandangan ke arah lain.
Kelly berjalan lebih dulu memasuki kamar, di ikuti Kevin yang langsung menutup pintu. Kelly menaruh teko kaca di atas nakas, tangannya Ia lipat di dada menatap tajam ke-arah Kevin.
"Kalina yang menyuruhmu kemari?" tudingnya yang langsung tepat sasaran. Kevin hanya bungkam wajahnya nampak kesal.
"Sebenarnya apa yang wanita itu inginkan? Kenapa dia malah menyuruhmu tidur disini, aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya." Kelly menghempaskan tubuh ke ranjang.
"Sekarang apa kau ingin tidur denganku? Sebenarnya aku tidak masalah," ucap Kelly sambil tersenyum jahil, "toh aku juga Istrimu Vin, kenapa kita tidak--," Kelly memberi Isyarat.
"Maaf aku tidak bisa," tolak Kevin sambil beranjak.
"Cih, dasar! Aku juga malas tidur denganmu, pria bucin yang bodoh!" Hardik Kelly.
"Apa katamu?!" geram Kevin kesal.
"Bodoh! Kamu memang orang yang bodoh," Kelly memperjelas ucapannya, "kamu dan dia sudah menikah tapi kamu tidak mau menyentuhnya hanya karena dia bilang belum siap, padahal menurutku kalau kamu paksa dia pun itu tidak akan jadi dosa." Kevin terdiam mendengar perkataan Kelly.
"Menahan hasrat itu bisa jadi penyakit loh Vin." Tambah Kelly mempengaruhi.
"Dia menyuruhku kemari bukan karena aku ingin melakukan hal itu. Dia hanya ingin membuat hubungan kita membaik, Kalina itu keras kepala dia merasa bahwa dia telah mengambil suami orang lain." Ucap Kevin.
__ADS_1
Kelly terdiam dengan pandangan datar, "mungkin selama dia berstatus sebagai Istri kedua, selama itu pula dia tidak akan pernah membuka diri padaku."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Kelly.
"Aku tidak tahu, pikiranku sedang kacau." Desah Kevin, menghempaskan diri ke sopa.
"Apa kau akan menceraikan ku?" tanya Kelly tiba-tiba.
Kevin melirik dari sudut matanya, "tidak, aku sudah berjanji pada orang tuamu, bahwa aku tidak akan pernah menceraikan-mu, kecuali kau yang memintanya."
"Kalau begitu mari kita bercerai, lagi pula pernikahan ini tidak punya masa depan Vin, kau tidak pernah mencintaiku, aku juga lelah dengan pernikahan yang seperti ini." Ujar Kelly.
"Apa kau yakin?" tanya Kevin memastikan.
"Hem, aku yakin! Lagi pula aku punya seseorang yang mencintaiku sekarang."
"Hah siapa?" tanya Kevin penasaran.
"Kau ingat teman kita Riko yang dulu pergi kuliah ke LA, dia sudah kembali." Ucap Kelly.
"Hooh itu, dia yang aku tolak mentah-mentah," Kelly terkekeh pelan, "dan sampai sekarang dia masih mencintai aku Vin, padahal sekarang aku bilang aku sudah menikah denganmu."
"Apa kau bilang padanya tentang kondisi pernikahan kita?" Kelly mengangguk, "awalnya dia marah saat tahu kau menikah lagi, tapi setelah aku memberi penjelasan, dia mengerti. Kondisimu tak jauh berbeda dengannya, cinta memang aneh ya Vin, bisa-bisanya kalian para pria mencintai satu wanita selama bertahun-tahun."
"Heh, jadi aku tidak sendirian," Kevin tertawa kecil, "kapan kalian bertemu?" tanya Kevin penasaran.
"Beberapa hari yang lalu, dia tiba-tiba menghubungiku lewat media sosialnya. Ya dia meminta nomorku, jadi kami sering berhubungan. Apa tidak papa Vin, aku bisa di anggap selingkuh loh?"
"Tidak papa, justru itu bagus. Kau juga harus mencari kebahagiaanmu sendiri Kelly, karena aku tidak bisa melakukan itu maka mungkin kebahagiaanmu ada pada dia yang mencintaimu."
"Ah, lihat dia menelpon!" pekik Kelly, kegirangan.
"Angkat saja aku ingin dengar apa yang dia katakan," ucap Kevin yang seketika di angguki Kelly.
__ADS_1
"Halo." Ucap Kelly.
"Hay, aku ganggu gak nih?" tanya Riko dari sebrang telpon.
"Enggak ko, aku juga belum tidur." Jawab Kelly.
"Kevin?"
Kelly melempar tatapan pada Kevin meminta pendapat untuk jawaban yang Ia berikan, Kevin menggeleng, mengisyaratkan agar Kelly tak mengatakan pada Riko jika dia tengah berada di sana.
"Dia sama Istri barunya, dimana lagi." Ucap Kelly.
"Dasar brengsek! Dia benar-benar keterlaluan Kelly, dia sudah menyakitimu terus menerus, rasanya aku ingin sekali menghajarnya." geram Riko dari balik telpon.
Kelly hanya cengengesan melihat ekspresi wajah Kevin yang tampak kesal karena dikatai brengsek.
"Sudahlah Riko, lagi pula aku sudah tidak peduli padanya, jadi aku sudah tidak merasakan sakit lagi. Oh ya, kamu lagi ngapain?"
"Lagi mikirin kamu!" jawab Riko tanpa di duga.
Kevin melempar tatapan jijik, gombalan Riko bener-bener basi, tapi tidak bagi Kelly, dia tersenyum kecil, "gombal!"
"Dih beneran, kamu itu memang sulit untuk di lupakan."
Kevin hanya menggeleng, dia memilih untuk memejamkan mata menjemput kantuknya, mendengar gombalan-gombalan Riko membuat kupingnya panas.
Di bawah lantai yang Kevin pijak, Kalina dia tidur meringkuk sendirian, guling yang sebelumnya selalu menjadi pembatas antara dia dan Kevin kini ada dalam dekapannya. Dua malam tanpa Kevin di sampingnya membuat dia kesepian, Kalina mulai terbiasa dengan pria itu. Apa lagi sekarang Kevin tengah berada dia kamar Kelly.
"Aah, sial!" Pekiknya sembari duduk, Kalina mengacak rambutnya dengan kesal. Pikiran tentang Kevin dan Kelly terus saja mengganggunya membuat dia tak bisa memejamkan mata.
"Kayanya gue butuh pencerahan!" Kalina beranjak keluar menuju dapur, pencerahan yang Ia maksud adalah makanan, biasanya pikiran Kalina akan teralihkan jika mendapat makanan enak.
Di tengah perjalanan Kalina bertemu Kenan yang juga baru keluar dari kamarnya, "ngapain kamu jam segini kelayapan?" tegur Kenan.
__ADS_1
Kalina hanya mendelik pada adik Iparnya itu, kata-kata Kenan tadi siang masih membuat Kalina kesal, "bukan urusan kamu!" jawab Kalina jutek, sambil berjalan cepat menuju dapur, dan tentu saja satu niat dengan Kenan, pria itu juga berjalan ke-arah yang sama.
"Ngapain kamu ngikutin aku?" Kalina menatap sebal pada Kenan.