
Kalina terpaku mendengar kata-kata Kevin, mungkinkah apa yang Kevin katakan seperti tebakannya? Sungguh Kalina tak ingin mendengar kejujuran dari Kevin, alangkah lebih baik jika dia berbohong.
"Saat itu aku mabuk berat, aku marah pada Ibuku karena berani menjodohkan-ku dengan Kelly, aku tak menyangka yang menemaniku malam itu bukanlah kamu, melainkan Kelly."
Dada Kalina seakan terbakar, rasa panas, sakit dan kecewa berbaur jadi satu, Kalina perlahan mendorong Kevin, "Vin aku pengen pipis, aku ke kamar mandi bentar, nanti kita ngobrol lagi," Kalina secepat mungkin berlari ke-kamar mandi kemudian menutup pintunya. Kalina bersandar ke daun pintu, berusaha menekan hatinya yang bergemuruh menahan amarah.
"Sial, kenapa hatiku sakit?" gumamnya pelan. Kalina terduduk di lantai kamar mandi, dengan wajah terbenam di antara kedua lututnya.
Sepertinya menjauh dari semua ini akan lebih baik, harapan bisa hidup bahagia bersama Kevin memang tak pernah terlihat, benar yang Kenan katakan, pernikahan Kalina dan Kevin memang tak punya masa depan.
"Lin!" Panggil Kevin disertai gedoran di pintu, "kamu ko pipisnya lama banget? Lina, aku dobrak nih," ucap Kevin setengah mengancam.
Dengan terpaksa Kalina bangkit, lantas membuka pintu, "ko lama banget, kamu habis ngapain?" Kevin langsung memberondong Kalina dengan berbagai pertanyaan.
"Aku habis BAB," jawab Kalina pendek, dia ngeloyor begitu saja meninggalkan Kevin di depan pintu kamar mandi.
"Lin, kita mau lanjut ngobrol lagi, atau tidur?"
"Aku ngantuk Vin, obrolannya kita lanjut besok aja." Kevin mengangguk, sebetulnya dia juga enggan bercerita lagi, melihat gelagat Kalina barusan dia tahu jika Kalina kecewa terhadapnya. Tapi, dari pada harus ketahuan berbohong dikemudian hari, lebih baik jujur sedari awal.
'Lin, aku ingin kamu menerima aku apa adanya, meski kebenaran itu pahit, tapi lebih baik pahit di awal dari pada harus pahit di akhir,' batin Kevin.
Frank...
Suara benda terjatuh sontak membuat Kevin terbangun, dia melirik sisi sampingnya mencari keberadaan sang Istri. Dari arah luar, ramai suara terdengar, Kevin lantas membuka pintu dan mendapati sang Istri tengah memungut benda pecah di lantai.
"Apa yang kau lakukan?" Kevin menarik tangan Kalina hingga gadis itu seketika berdiri.
__ADS_1
"Aku gak sengaja nyenggol gentong ini Vin, jadinya pecah, duh gimana ini?" keluh Kalina.
"Sudah biarkan saja, biar pelayan yang membereskannya." Kevin menarik lengan Kalina membawanya kembali ke-kamar. Hari ini dia libur bekerja, jadi dia sengaja ingin kembali tidur hingga siang hari.
"Vin, aku bosen di kamar terus, kamu tidur aja sendiri," Kalina melepaskan diri dari cengkraman Kevin.
"Ya udah, tapi jangan berduaan sama Kenan, atau kamu tahu akibatnya," ancam Kevin.
"Iya, iya, bawel!" Kalina melenggang kembali keluar, Kevin tak bisa berbuat apa-apa pada gadis ini.
"Dasar pengacau!" gumam Kevin sembari kembali ke-pembaringan. Baru saja Kevin hendak kembali memejamkan mata, suara pecahan pecahan benda seperti tadi kembali terdengar, dia tak menggubrisnya namun beberapa saat kemudian suara itu kembali terdengar, Kevin berdecak kesal sembari berjalan keluar kamar.
Tampak Kalina, gadis itu terkikik sambil memegang sebuah pot bunga yang terbuat dari kaca dengan ukiran cantik di sekelilingnya, dia hendak melepas benda itu dari genggamannya dengan sengaja, "bagus Lin, kamu benar-benar melepas bosan ya," teguran Kevin sontak membuat Kalina menoleh.
Deg... Kalina berbalik menatap Kevin yang juga balas menatapnya, "kau sedang ingin memecahkan benda? Baiklah, ikuti aku." Diluar dugaan Kevin bukannya marah, malah mengajak Kalina untuk mengikutinya.
'Hah, dia ko gak marah sih? Padahal gue sengaja pengen buat dia kesel.' Batin Kalina.
"Kita ngapain kesini Vin?" tanya Kalina bingung. Kevin menepuk tangannya dua kali, datanglah sekelompok pelayan membawa barang pecah belah yang nampak usang, dan menaruhnya di hadapan Kalina.
"Ini apa Vin?" tanya Kalian bingung.
"Kamu boleh pecahin semua benda ini, sampai kamu bosan. Kamu menghancurkan banyak benda berharga di rumahku, jadi mungkin kamu butuh Refhresing." Ucapnya sambil duduk bertumpang kaki.
"Pecahin barang sebagai Refhresing, kamu gak salah Vin?"
"Gak ko, ayo buruan pecahin!" perintah Kevin tegas. Dengan enggan Kalina mulai memecahkan benda-benda terdekatnya, namun lama kelamaan telinganya menjadi sakit karena mendengar suara pecahan kaca terus menerus.
__ADS_1
"Bisa aku berhenti, Vin? Telinga dan tanganku sakit," keluh Kalina.
"Jadi kamu sudah bosan? Kalau begitu jangan melakukannya lagi, duduk manis dan jadilah gadis penurut."
'Apa sebetulnya Kevin menyadari maksudku?'
Kalina hanya diam, sambil menggigit bibir bawahnya, "Ayo kita makan, aku sudah lapar." Kevin menarik Kalina dan membawanya pergi, masalah seperti ini tak cukup membuatnya kesal, justru malah sebaliknya Kalina lah yang jadinya di kerjai pria itu.
Tampak Kelly tengah bicara dengan para pelayan, sedang Kenan sudah lebih dulu duduk manis di meja makan.
"Kalian lama banget, jadi aku sarapan duluan." Ucapnya dengan mulut penuh makanan.
"Kalina sedang ingin membanting barang, jadi aku membawanya ke-gudang," Kenan melongo mendengar jawaban sang Kakak, bisa-bisanya Kevin menjawab dengan santai padahal benda-benda yang Kalina pecahkan tentu saja bukan benda murahan.
"Kakak parah sumpah," cibir Kenan.
"Duduk sini Lin," Kevin menarik kursi untuk Kalina duduk.
"Kalau gitu Kakak Ipar pertama biar aku yang narik kursi buat Kakak," Kenan melakukan hal yang sama untuk Kelly, namun tak di hiraukan wanita itu, dia malah duduk di tempat lain.
"Kapan kamu pulang?" pertanyaannya Ia arahkan pada Kenan.
"Ya elah Kak, baru juga satu malem, biarin aku nginep sini beberapa hari lagi napa," keluh Kenan.
"Lin, kamu mau makan apa?" Kevin kembali mengarahkan perhatiannya pada Kalina, membut wajah Kelly seketika berubah tegang menahan amarah.
"Tolong hargai aku, aku juga istri kamu Vin. Perhatian kamu hanya terarah pada Kalina, aku juga butuh perhatian kamu, kamu gak adil." Akhirnya Kelly mengutarakan isi hatinya.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu jadi Istriku? Sejak awal aku tidak pernah menginginkan pernikahan denganmu, tapi kau yang memaksaku, jadi terima saja konsekuensinya," tegas Kevin, membuat Kelly menangis seketika.
"Kamu keterlaluan Vin, apa yang tidak aku lakukan untukmu? Aku memberikan seluruh hidupku padamu, aku terima wanita ini di rumahku, semua itu karena aku mencintaimu, aku ingin kamu merasa bahagia, meski hati aku sakit Vin, hati aku hancur! Tapi, di matamu pengorbanan aku ini tak pernah ada artinya sama sekali!" Isak Kelly lirih, dia membenamkan wajah di antara telapak tangannya.